Puisi-puisi Amien Wangsitalaja

Kompas.com - 06/10/2010, 03:31 WIB
EditorJodhi Yudono

pada suatu ketika

aku memang menghikmati nafasmu yang tak memburu di lantai ulin kamar tamu saat siang tempat guring saat malam

kita tak merencanakan cinta tapi matamu melebihi buluh perindu yang kuangankan ada dalam gelas yang kausajikan untukku

”inilah gadis senja yang merana terpikul kegundahan yang lama kata mengalir di dada lembutnya menebar spora, lembar cinta”*)

o, jangan merana bukankah rembulan pun memilihmu —kuingat waktu itu kita seperjalanan antara samarinda-bontang dan rembulan sedang teramat terang melumat wajahmu sepenuh cemburu dengan sesekali mengintai di bukit dan sembunyi di balik dahan—

di lantai ulin kita tak merencanakan cinta kerana ia tiba-tiba

sebagaimana pada suatu ketika kita tiba-tiba bisa bersama menyaksikan belian di desa jahab di sudut kotaraja kutai kertanegara —ceritamu, kakek dari mama dahulu seorang dukun belian juga—

dan kau bercanda ”datangi ia tidur di depan tariannya mintalah disembuhkan dari penyakit cinta”

aku berkerut oleh candamu tapi tak ragu-ragu ”seperti belian cinta memiliki kekuatan”

pada suatu ketika

Halaman Selanjutnya


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.