Puisi-puisi Amien Wangsitalaja

Kompas.com - 06/10/2010, 03:31 WIB
EditorJodhi Yudono

ya hayyu ya qayyumu kalau hari ini tubuhku tercabik, bukan baru hari ini tubuhku tercabik kalau kali ini badanku terkorban, bukan baru kali ini badanku terkorban

tubuhku telah lama robek oleh keserakahan nafsu badanku telah lama menjadi korban pertarungan ambisi dan kuasa arunku, hutanku, kakaoku tak mampu lagi meronta dari luka orang-orang tak berdosaku tak kuasa lagi mengucap kata karena popor dan senjata terlalu cepat berbicara

setiap hari nyawa orang menjadi bahan mainan “buat apa sekolah, nanti juga mati di jalan ditembak orang mati tak dikenal”

amboi, betapa akrabnya aku dengan derita dan derita, kematian dan kematian ya hayyu akankah selamanya kaupilihkan bagiku jalan hidup yang seperti ini akankah hanya dengan coba semacam ini kautinggikan maqam imanku

setahunan lalu, pantai bireuen-ku dikejutkan dengan mayat-mayat terbungkus karung beras terdampar dihempas ombak (mereka adalah yang kaupilih menjadi saksi dari kebiadaban segelintir yang dibebalkan oleh nafsu kekuasaan)

hari ini, bukan hanya pantai-pantaiku, bahkan segenap sisi kota-kotaku jalan rayanya, selokannya, tanah lapangnya diratusribui hempasan mayat (mereka adalah yang kaumuliakan menjadi saksi dari kuasamu menampar kebebalan nafsu)

tahun-tahun lalu, bukit-bukitku, hutan-hutanku, sungai-sungaiku, laut-lautku menjadi saksi dari nyawa-nyawa yang selalu saja melayang tanpa nama kali ini, dalam sekejap saja, kembali harus kupersaksikan ratusan ribu nyawa melayang tanpa nama (kiranya merekalah syahidin yang ingin kau bergegas merengkuhnya dalam pelukmu)

kemarin dulu, di salah satu kampungku mayat muzakir abdullah tersampir+terikat di pohon lehernya tergorok darahnya menoreh di dada (al hallaj-kah dia dihantarkan segerombol orang bertopeng yang brutal menyiksanya tanpa salah dan dosa apa pun telah dilakukannya)

hari ini, beberapa mayat yang tak sempat menyebut nama tersampir di pohon-pohon di kota-kotaku, tubuhnya membeku biru (al hallaj-kah mereka berperantara ombak yang kaukirim untuk menjemput mereka hanyut kepadamu tanpa salah dan dosa yang menyisa)

ya hayyu betapa tingginya maqam mereka yang menghadapmu dengan seketika yang menghadapmu bersama-sama



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.