Kompas.com - 13/07/2020, 15:06 WIB
Terdakwa kasus dugaan makar, Ambrosius Mulait (kiri), Anes Tabuni (kedua dari kiri), Surya Anta Ginting (tengah), Arina Eloperia (kedua dari kanan), dan Charles Kossay usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (27/1/2020). Majelis hakim menolak eksepsi semua terdakwa. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOTerdakwa kasus dugaan makar, Ambrosius Mulait (kiri), Anes Tabuni (kedua dari kiri), Surya Anta Ginting (tengah), Arina Eloperia (kedua dari kanan), dan Charles Kossay usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (27/1/2020). Majelis hakim menolak eksepsi semua terdakwa.

"Air juga kami beli sendiri. Galonnya juga beli. Kalau ada kerusakan listrik bayar pakai uang sendiri. Tahanan lain bayar uang kamar dan bayar uang Mingguan. Kami tidak bayar karena pihak penjara khawatir dengan tekanan publik atas kami," kata Surya.

Untuk dapat bertahan hidup akibat tingginya biaya hidup di penjara, para napi pun mesti melakoni berbagai pekerjaan, misalnya mencopet hingga servis elektronik.

Ia menambahkan, aktivitas ekonomi memang berjalan seperti biasa di dalam penjara, mulai dari jual beli dan servis telepon seluler, transfer uang, warung makan, jual beli parfum, hingga bisnis narkoba.

Diketahui, Surya Anta divonis 9 bulan penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam kasus makar.

Baca juga: Polri Pastikan Gangguan Pendengaran Surya Anta Ditangani Dokter Polisi

Selain Surya, lima aktivis Papua lainnya juga dinyatakan bersalah, yakni Ariana Eleopere, Dano Anes Tabuni, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, dan Issay Wenda.

Keenam aktivis itu dianggap berbuat makar karena mengibarkan bendera Bintang Kejora dalam aksi unjuk rasa di depan Istana Negara pada 28 Agustus 2019.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Bagian Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Rika Aprianti mengatakan, pihaknya tengah menelusuri informasi yang disampaikan Surya tersebut.

"Kami sedang melakukan penelusuran terhadap info tersebut. Yang pasti kami, khususnya seluruh jajaran Pemasyarakatan, terus berupaya melakukan pelayanan pembinaan yang terbaik bagi seluruh penghuni," kata Rika kepada Kompas.com, Senin (13/7/2020).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.