Mana yang Mau Dibeli: Typhoon Bekas, Sukhoi SU-35, atau MV-22 Osprey?

Kompas.com - 04/08/2020, 12:08 WIB
Helikopter tiltrotor MV-22 Osprey dengan baling-baling menghadap depan saat terbang. Bell HelicopterHelikopter tiltrotor MV-22 Osprey dengan baling-baling menghadap depan saat terbang.
Editor Bayu Galih

Memilih jenis pesawat terbang untuk masuk ke dalam jajaran kekuatan tempur sebuah Angkatan Perang (Angkatan Udara) tidaklah sederhana seperti yang diperkirakan orang.

Banyak hal yang harus dipertimbangkan dan bahkan dikaji terlebih dahulu.

Salah satu jenis pesawat yang akan dipilih pasti akan sangat tergantung kepada postur secara keseluruhan gambar besar dari kekuatan AU yang ingin dibangun.

Satuan terkecil dari unsur pesawat terbang pada jajaran Angkatan Udara dikenal sebagai skadron. Skadron adalah merupakan sub sistem dari sistem persenjataan satuan satuan tempur dalam jajaran di atasnya.

Baca juga: Mengenal MV-22 Osprey, Pesawat dengan Kemampuan Mendarat Helikopter

Jadi jenis pesawat (skadron) yang akan dibeli dalam proses pengadaan akan merupakan bagian dari simpul roda gigi sistem tempur yang lebih besar dalam unitnya.

Itu semua harus diperhitungkan dalam kajian mendalam pada aspek operasional, seperti pertimbangan jarak jangkau operasi atau radius of action yang akan berhubungan erat dengan unsur unsur pendukung lainnya.

Belum lagi sisi lain yang harus masuk dalam parameter unsur tempur pendamping yang harus bersinergi secara utuh agar masuk dalam kerangka susunan postur kekuatan yang diinginkan.

Semua perhitungan tersebut masih harus disinkronisasikan lagi dengan sistem radar dan lokasi penempatan pangkalan induk serta pangkalan aju yang akan dipergunakan.

Baca juga: Usaha Prabowo Modernisasi Alutsista dan Polemik Eurofighter Typhoon

Pengendalian satuan radar dan lokasi pangkalan induk serta pangkalan aju sangat erat berhubungan dengan sistem "Command and Control" atau Komando dan Pengendalian.

Semua itu akan bermuara pada jajaran Satuan Komando Operasi yang berorientasi pada prinsip prinsip pengendalian "Command of the Air" dalam platform yang sangat mendasar yaitu "Unified Command".

Masih ada beberapa hal lagi yang harus dipertimbangkan termasuk berkait dengan national policy atau kebijakan nasional, karena akan bersinggungan dengan aspek hubungan internasional serta antar negara, pemerintahan regional pada tataran "international strategic consideration" (pertimbangan strategi internasional).

Singkat kata, proses untuk memilih jenis pesawat terbang tempur yang akan dibeli tidaklah mudah dan tidak pula sederhana.

Tidak mungkin pola pengadaan pesawat terbang semata mengacu kepada mumpung ada yang mau jual pesawat terbang bekas dengan harga murah misalnya.

Memang ada beberapa "pemerhati" yang cukup menguasai secara teknis dan mampu menganalisis bahkan sampai detail "technical specification" hingga membandingkan antara satu dengan jenis pesawat tempur lainnya.

Baca juga: Menilik Eurofighter Typhoon, Jet Tempur yang Hendak Dibeli Menhan Prabowo

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kemendikbudristek Jalin Kerjasama dengan Kominfo Prioritaskan Fasilitas Internet Sekolah

Kemendikbudristek Jalin Kerjasama dengan Kominfo Prioritaskan Fasilitas Internet Sekolah

Nasional
Antisipasi Peningkatan Mobilitas Usai Lebaran, Kemenhub Bakal Perketat 3 Hal Ini

Antisipasi Peningkatan Mobilitas Usai Lebaran, Kemenhub Bakal Perketat 3 Hal Ini

Nasional
Menhub Perkirakan Jumlah Penumpang KRL Naik di Akhir Pekan Ini, Protokol Kesehatan Harus Ketat

Menhub Perkirakan Jumlah Penumpang KRL Naik di Akhir Pekan Ini, Protokol Kesehatan Harus Ketat

Nasional
KKB Sering Gunakan Masyarakat Jadi Tameng dan Korban, Aparat Diminta Berhati-hati

KKB Sering Gunakan Masyarakat Jadi Tameng dan Korban, Aparat Diminta Berhati-hati

Nasional
Ingatkan Kolektif-Kolegial, Sujanarko Tantang 4 Pimpinan KPK Lainnya Gunakan Hati Nurani

Ingatkan Kolektif-Kolegial, Sujanarko Tantang 4 Pimpinan KPK Lainnya Gunakan Hati Nurani

Nasional
Pengamat: Operasi Pasukan Keamanan Bukan Semata Operasi Bersenjata, tapi Juga Merebut Hati Masyarakat

Pengamat: Operasi Pasukan Keamanan Bukan Semata Operasi Bersenjata, tapi Juga Merebut Hati Masyarakat

Nasional
BNPB: 5 Kabupaten di 4 Provinsi Terdampak Banjir dan Longsor Hari Pertama Lebaran

BNPB: 5 Kabupaten di 4 Provinsi Terdampak Banjir dan Longsor Hari Pertama Lebaran

Nasional
Direktur KPK: Dari Awal Sosialisasi, TWK untuk Pemetaan Pegawai, Tak Ada Penonaktifan

Direktur KPK: Dari Awal Sosialisasi, TWK untuk Pemetaan Pegawai, Tak Ada Penonaktifan

Nasional
Seorang Deputi KPK Dinyatakan Tak Lolos TWK, Pernah Periksa Pelanggaran Etik Firli Bahuri

Seorang Deputi KPK Dinyatakan Tak Lolos TWK, Pernah Periksa Pelanggaran Etik Firli Bahuri

Nasional
Lihat Ada Penumpukan Penumpang KRL, Menhub: PT KCI Tidak Profesional

Lihat Ada Penumpukan Penumpang KRL, Menhub: PT KCI Tidak Profesional

Nasional
Polri Perpanjang Sanksi Putar Balik Kendaraan Selama Larangan Mudik hingga 24 Mei

Polri Perpanjang Sanksi Putar Balik Kendaraan Selama Larangan Mudik hingga 24 Mei

Nasional
Pasukan Gabungan TNI Tembak Mati 2 KKB, Anggota DPR: Kalau yang Berhasil Dilumpuhkan Itu KKB, Bagus

Pasukan Gabungan TNI Tembak Mati 2 KKB, Anggota DPR: Kalau yang Berhasil Dilumpuhkan Itu KKB, Bagus

Nasional
Lewat New DTKS, Masyarakat Bisa Daftar Terima Bansos dan Melaporkan

Lewat New DTKS, Masyarakat Bisa Daftar Terima Bansos dan Melaporkan

Nasional
Idul Fitri 1442 H, Ketum PPP: Masih Banyak Saudara Kita Berjuang Lawan Pandemi Covid-19

Idul Fitri 1442 H, Ketum PPP: Masih Banyak Saudara Kita Berjuang Lawan Pandemi Covid-19

Nasional
Kisah Tata, Pegawai KPK, Seorang Gusdurian yang Dinyatakan Tak Lolos TWK

Kisah Tata, Pegawai KPK, Seorang Gusdurian yang Dinyatakan Tak Lolos TWK

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X