Mana yang Mau Dibeli: Typhoon Bekas, Sukhoi SU-35, atau MV-22 Osprey?

Kompas.com - 04/08/2020, 12:08 WIB
Eurofighter Typhoon AU Austria. Eurofighter.comEurofighter Typhoon AU Austria.
Editor Bayu Galih

BELAKANGAN ini beredar luas berita tentang rencana pembelian pesawat mliter untuk Angkatan Perang, seperti yang dikutip dari Kompas.com sebagai berikut:

"Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menyatakan ingin memborong pesawat tempur Eurofighter Typhoon bekas milik militer Austria. Hal itu diutarakan Prabowo dalam surat yang dikirimkannya ke Menteri Pertahanan Austria Klaudia Tanner."

Sebelumnya ada pula berita dari sumber yang sama seperti di bawah ini:

"Pemerintah Indonesia dan Rusia sepakat melakukan imbal beli dalam pembelian 11 pesawat Sukhoi SU-35 dengan sejumlah komoditas nasional. Barter tersebut terealisasi setelah ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MOU) antara BUMN Rusia, Rostec, dengan BUMN Indonesia, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia."

Baca juga: Menhan: Proses Beli 11 Sukhoi Terhambat karena Mekanisme Imbal Dagang dengan Rusia

Sebelumnya lagi tersiar berita seperti ini:

"Departemen Luar Negeri Amerika Amerika Serikat (AS) telah memberi lampu hijau bagi Bell Textron Inc untuk menjual heli tiltrotor MV-22 osprey Block C ke Indonesia. Menurut keterangan dari DSCA, pemerintah Indonesia telah mengajukan rencana pembelian delapan unit helikopter MV-22 Osprey Block C, dengan nilai total pembelian mencapai 2 miliar dollar AS (sekitar Rp 28,9 triliun).

Kabar itu mendapat beragam respons di dalam negeri, sebagian publik menyambut positif karena helikopter angkut itu dinilai cocok digunakan di medan seperti di Indonesia, namun sebagian lain menilai pembelian itu terlalu mahal, dan ada opsi yang lebih murah."

Baca juga: MV-22 Osprey, antara Klaim Amerika, Pendekatan Rusia, dan Desakan Jokowi

Ketiga kutipan berita di atas yang juga termuat di berbagai media lainnya serta-merta mengundang banyak pertanyaan, tentang apa dan bagaimana tata cara memilih dan atau rencana membeli pesawat terbang militer untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Perang.

Pesawat mana yang lebih baik dan pesawat mana pula yang dianggap cocok untuk dipilih masuk dalam arsenal kekuatan sistem pertahanan udara Indonesia.

Diskusi berkembang pula, mana yang lebih baik: membeli pesawat terbang bekas atau membeli pesawat terbang baru.

Lebih jauh lagi ada pula pembicaraan tentang mana yang lebih menguntungkan membeli pesawat terbang dengan moda imbal beli, atau kredit, atau tunai.

Intinya adalah banyak yang mempertanyakan tentang bagaimana sebenarnya proses pemilihan pesawat terbang militer yang akan digunakan sebagai alat utama sistem persenjataan Angkatan Perang, apakah itu Angkatan Darat, Angkatan Laut, atau Angkatan Udara.

Baca juga: Anggota Komisi I Sebut Pembelian Eurofighter Typhoon Bekas Sulit Terwujud

Helikopter tiltrotor MV-22 Osprey dengan baling-baling menghadap depan saat terbang.Bell Helicopter Helikopter tiltrotor MV-22 Osprey dengan baling-baling menghadap depan saat terbang.
Memilih jenis pesawat terbang untuk masuk ke dalam jajaran kekuatan tempur sebuah Angkatan Perang (Angkatan Udara) tidaklah sederhana seperti yang diperkirakan orang.

Banyak hal yang harus dipertimbangkan dan bahkan dikaji terlebih dahulu.

Salah satu jenis pesawat yang akan dipilih pasti akan sangat tergantung kepada postur secara keseluruhan gambar besar dari kekuatan AU yang ingin dibangun.

Satuan terkecil dari unsur pesawat terbang pada jajaran Angkatan Udara dikenal sebagai skadron. Skadron adalah merupakan sub sistem dari sistem persenjataan satuan satuan tempur dalam jajaran di atasnya.

Baca juga: Mengenal MV-22 Osprey, Pesawat dengan Kemampuan Mendarat Helikopter

Jadi jenis pesawat (skadron) yang akan dibeli dalam proses pengadaan akan merupakan bagian dari simpul roda gigi sistem tempur yang lebih besar dalam unitnya.

Itu semua harus diperhitungkan dalam kajian mendalam pada aspek operasional, seperti pertimbangan jarak jangkau operasi atau radius of action yang akan berhubungan erat dengan unsur unsur pendukung lainnya.

Belum lagi sisi lain yang harus masuk dalam parameter unsur tempur pendamping yang harus bersinergi secara utuh agar masuk dalam kerangka susunan postur kekuatan yang diinginkan.

Semua perhitungan tersebut masih harus disinkronisasikan lagi dengan sistem radar dan lokasi penempatan pangkalan induk serta pangkalan aju yang akan dipergunakan.

Baca juga: Usaha Prabowo Modernisasi Alutsista dan Polemik Eurofighter Typhoon

Pengendalian satuan radar dan lokasi pangkalan induk serta pangkalan aju sangat erat berhubungan dengan sistem "Command and Control" atau Komando dan Pengendalian.

Semua itu akan bermuara pada jajaran Satuan Komando Operasi yang berorientasi pada prinsip prinsip pengendalian "Command of the Air" dalam platform yang sangat mendasar yaitu "Unified Command".

Masih ada beberapa hal lagi yang harus dipertimbangkan termasuk berkait dengan national policy atau kebijakan nasional, karena akan bersinggungan dengan aspek hubungan internasional serta antar negara, pemerintahan regional pada tataran "international strategic consideration" (pertimbangan strategi internasional).

Singkat kata, proses untuk memilih jenis pesawat terbang tempur yang akan dibeli tidaklah mudah dan tidak pula sederhana.

Tidak mungkin pola pengadaan pesawat terbang semata mengacu kepada mumpung ada yang mau jual pesawat terbang bekas dengan harga murah misalnya.

Memang ada beberapa "pemerhati" yang cukup menguasai secara teknis dan mampu menganalisis bahkan sampai detail "technical specification" hingga membandingkan antara satu dengan jenis pesawat tempur lainnya.

Baca juga: Menilik Eurofighter Typhoon, Jet Tempur yang Hendak Dibeli Menhan Prabowo

Sukhoi Su-35Igor Krapivin/shutterstock Sukhoi Su-35
Sayangnya, banyak uraian yang disampaikan kadang melupakan unsur national security dari sistem pertahanan keamanan negara dalam arti luas.

Rangkaian penjelasan dalam diskusi seperti itu tidak juga mengganggu, karena kerap pula dalam lalu lintas informasi mengenai national security berkait dengan unsur kekuatan perang dan kepentingan sebuah negara diperlukan juga arus informasi yang berwujud "decoy".

Sebuah mekanisme penyebaran informasi dan atau disinformasi sebagaimana layaknya terjadi di bidang intelijen pada Perang Dunia II.

Baca juga: Komisi I Ingatkan Pembelian Pesawat Tempur Harus Sesuai Kebijakan Pertahanan

Terakhir sebagai penutup, apabila memang dibutuhkan penjelasan detail tentang kekuatan hankam negara, maka sumber yang paling dapat dipertanggung jawabkan adalah Authorized Personnel, dalam hal ini Dinas Penerangan Mebes TNI dan atau pihak hubungan masyarakat Kementrian Pertahanan.

Masalahnya adalah karena ada banyak hal sensitif yang secara universal tidak bisa dan atau tidak lazim digunakan sebagai bahan publikasi yang terbuka.

Dengan demikian, maka pesawat terbang mana yang akan dipilih untuk dibeli: Typhoon bekas, Sukhoi SU-35, atau MV-22 Osprey, mari kita tunggu saja bersama keputusannya.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 8 Mei: Ada 99.003 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 8 Mei: Ada 99.003 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 8 Mei: 74.547 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

UPDATE 8 Mei: 74.547 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

Nasional
UPDATE 8 Mei: Tambah 179, Total Pasien Covid-19 Meninggal Capai 46.842

UPDATE 8 Mei: Tambah 179, Total Pasien Covid-19 Meninggal Capai 46.842

Nasional
UPDATE 8 Mei: Tambah 5.494, Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 1.563.917

UPDATE 8 Mei: Tambah 5.494, Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 1.563.917

Nasional
UPDATE 8 Mei: Ada 86.552 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 8 Mei: Ada 86.552 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
Buka Peluang Usung Kader pada Pilpres 2024, PAN Tetap Akan Realistis

Buka Peluang Usung Kader pada Pilpres 2024, PAN Tetap Akan Realistis

Nasional
UPDATE 8 Mei: Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 1.709.762, Bertambah 6.130

UPDATE 8 Mei: Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 1.709.762, Bertambah 6.130

Nasional
Bamsoet: Apakah Diskusi Bisa Hentikan Kebrutalan KKB di Papua?

Bamsoet: Apakah Diskusi Bisa Hentikan Kebrutalan KKB di Papua?

Nasional
Abraham Samad Duga TWK Bertujuan Singkirkan 75 Pegawai KPK

Abraham Samad Duga TWK Bertujuan Singkirkan 75 Pegawai KPK

Nasional
Pengamat Nilai Ada 3 Skenario Pilpres 2024

Pengamat Nilai Ada 3 Skenario Pilpres 2024

Nasional
Sebut Seleksi KPK Ketat, Johan Budi Kaget Kasatgas hingga Eselon I Tak Lolos TWK

Sebut Seleksi KPK Ketat, Johan Budi Kaget Kasatgas hingga Eselon I Tak Lolos TWK

Nasional
Dirsoskam Antikorupsi Duga 75 Pegawai Tak Lolos TWK Tidak Diinginkan di KPK

Dirsoskam Antikorupsi Duga 75 Pegawai Tak Lolos TWK Tidak Diinginkan di KPK

Nasional
Giri Supradiono Heran Tak Lolos TWK KPK padahal Pernah Raih Makarti Bhakti Nigari Award

Giri Supradiono Heran Tak Lolos TWK KPK padahal Pernah Raih Makarti Bhakti Nigari Award

Nasional
Dirsoskam Antikorupsi KPK: Sejumlah Penyidik yang Tak Lolos TWK Sedang Tangani Kasus Besar

Dirsoskam Antikorupsi KPK: Sejumlah Penyidik yang Tak Lolos TWK Sedang Tangani Kasus Besar

Nasional
UPDATE: 4.530 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri, Bertambah di India dan Bahrain

UPDATE: 4.530 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri, Bertambah di India dan Bahrain

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X