Kompas.com - 14/12/2018, 07:00 WIB
Presiden Joko Widodo saat menghadiri peluncuran buku Jokowi Menuju Cahaya karya Albertiene Endah di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (13/12/1018) Fabian Januarius KuwadoPresiden Joko Widodo saat menghadiri peluncuran buku Jokowi Menuju Cahaya karya Albertiene Endah di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (13/12/1018)

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Joko Widodo beserta keluarganya seolah sudah "kenyang" dengan cacian, celaan, hujatan, bahkan hinaan. Meskipun demikian, rasa sedih tetap terasa.

Saat menghadiri peluncuran buku Jokowi Menuju Cahaya karya Albertiene Endah di Hotel Mulia, Kamis (13/12/2018), Presiden Jokowi mengatakan, ketahanan ia beserta keluarga dari "mulut jahat" orang tidak langsung tercipta dengan sendirinya.

"Saya kira itu (karena) ada tahapannya yang kita lalui dari wali kota, dari gubernur, sampai presiden," ujar Jokowi.

Baca juga: Jokowi: Kalau Mau kebijakan yang Memanjakan Rakyat, Buat Saja BLT Sebanyak-banyaknya..

"Kebijakan itu pasti enggak mungkin membahagiakan 100 persen orang. Waktu wali kota (Solo), kan ada yang senang, ada yang enggak senang. Yang tidak senang, bisa mencela, mencaci. Jadi gubernur juga sama, jadi presiden juga sama. Jadi ya biasa," lanjut dia.

Meski ia sekeluarga menilai ketidaksukaan orang lain merupakan hal yang wajar, terkadang, apabila melihat kata-kata yang terlontar sebegitu jahatnya, Presiden Jokowi sekeluarga merasa sedih dan ironis.

"Meskipun sedih juga. Dicaci maki, dicela, dihujat," kata Presiden.

Baca juga: Jokowi dan Misteri Jawaban Biasa Saja...

Kemudian, Jokowi menyebutkan satu per satu kalimat hinaan dan cacian yang pernah diterimanya di media sosial atau di sebuah unjuk rasa.

"Apa lagi? Coba ditambahi sendiri," kata Jokowi.

"Begitu banyak kata-kata seperti itu, sekali lagi itu bukan etika Indonesia, bukan sopan santun orang Indonesia, itu bukan tata krama orang Indonesia," lanjut dia.

Baca juga: Presiden: Akhir-akhir Ini Banyak Spanduk Jokowi PKI

Lantas, apa yang akan dilakukan Presiden Jokowi merespons hal tersebut?

Ia mengesampingkan rasa amarahnya. Ia sadar bahwa perilaku negatif tersebut disebabkan oleh kurangnya kualitas sumber daya manusia.

Dengan wewenang yang dimiliki saat ini sebagai orang nomor satu di Indonesia, Jokowi berkomitmen akan membangun sumber daya manusia sebagai salah satu pilar kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.

"Itulah yang sering saya sampaikan, bagaimana perlunya kita mengubah pola pikir, mindset, berubah dari konsumsi ke produksi, dari negative thinking ke positivie thinking. Membawa ke arah seperti ini memang perlu membangun sumber daya manusia yang berpikiran ke depan dan positive thinking. Karena kita semua harus sadar bahwa negara ini adalah negara besar," ujar Jokowi.

Kompas TV Presiden Joko Widodo menumpahkan kekesalannya dengan penyebaran informasi bohong atau hoaks.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X