Kompas.com - 25/01/2022, 17:36 WIB
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyayangkan masih banyak pihak yang mengidentikkan Islam dengan ekstremisme dan kekerasan.

Padahal, Ma'ruf mengatakan, Islam telah membangun paradigma yang sangat monumental, abadi, dan universal dengan konsep Islam rahmatan lil 'alamin yang ramah terhadap semua ciptaan Tuhan.

"Sayangnya, masih banyak pihak yang justru mengidentikkan Islam dengan ekstremisme dan kekerasan," kata Ma'ruf dalam acara pembukaan seminar 'Membangun Kerja Sama Internasional untuk Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil 'Alamin di Dunia', Selasa (25/1/2022).

Baca juga: Wapres Luncurkan Perpres Rencana Aksi Pencegahan Ekstremisme

"Citra Islam yang mulia telah dirampas oleh segelintir orang yang mengatasnamakan Islam untuk membenarkan kekerasan yang dilakukannya," imbuh Ma'ruf.

Masalahnya, lanjut Ma'ruf, suara-suara yang mengidentikkan Islam dengan ekstremisme dan kekerasan justru lebih nyaring di dunia internasional, mendapat sorotan dan perhatian diperparah dengan sebaran berita di berbagai media.

Menurut dia, hal itu menyebabkan terjadinya islamofobia di berabgai belahan dunia sehingga tak jarang umat Islam mendapat perlakuan diskriminatif dan rasialis akibat islamofobia.

Ma'ruf berpandangan, islamofobia muncul akibat kesalahpahaman terhadap Islam dan generalisasi terhadap perbuatan sekelompok kecil orang yang mengatasnamakan Islam.

"Padahal sesungguhnya mereka itu bukan representasi umat Islam dan bukan cerminan dari ajaran Islam," ujar dia.

Untuk itu, Ma'ruf mengajak umat Islam bersama-sama menjadi cerminan Islam yang moderat, bersahabat, dan toleran.

"Tidak hanya itu, kita juga harus menjadi umat Islam yang maju dan berdaya," kata Ma'ruf.

Baca juga: Peringatan Jokowi di Hadapan Forum Rektor soal Ekstremisme Dinilai Masih Relevan

Di samping itu, Ma'ruf bersyukur karena Indonesia telah diakui keberhasilannya dalam mengelola perbedaan.

Mantan ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menyebutkan, Indonesia telah diminta berbagi pengalaman tentang toleransi antarumat beragama demi menciptakan perdamaian dan stabilitas dalam kehidupan masyarakat yang beragam.

"Toleransi dan kerukunan di Indonesia menjadi nilai yang tertanam dalam dasar negara, Pancasila. Pancasila menyatukan kemajemukan bangsa Indonesia dengan tetap menghormati nilai-nilai dan praktik beragama yang dianut oleh masyarakat Indonesia," ujar dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.