Wiranto: Saya Bolak-balik Kalah Pilpres "Happy-happy" Saja

Kompas.com - 17/05/2019, 21:37 WIB
Menko Polhukam Wiranto saat acara buka puasa bersama pimpinan redaksi media massa, di  Jakarta, Jumat (17/5/2019). KOMPAS.com/IhsanuddinMenko Polhukam Wiranto saat acara buka puasa bersama pimpinan redaksi media massa, di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan berharap calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menerima apa pun keputusan Komisi Pemilihan Umum terkait Pilpres 2019.

Jika nantinya KPU menetapkan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai pasangan calon terpilih, artinya Prabowo belum berhasil.

"Yang kalah itu kan bisa disebut dengan belum berhasil," kata Wiranto saat buka puasa bersama pemimpin redaksi media massa di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Menurut Wiranto, kalah dan menang dalam kontestasi adalah suatu hal yang biasa. Ia mencontohkan dirinya sendiri yang juga sudah beberapa kali kalah dalam pilpres.


Baca juga: Wiranto Waspadai Penumpang Gelap pada 22 Mei

 

Pada 2004, Wiranto yang berpasangan dengan Salahudin Wahid kalah dari SBY-Jusuf Kalla.

Lalu, pada 2009, Wiranto yang kala itu menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Jusuf Kalla kembali kalah oleh SBY-Boediono.

"Saya pun enggak pernah berhasil juga kan. Saya bolak balik kalah, happy-happy saja," kata Wiranto.

Wiranto meyakini, pengumuman pemenang pilpres pada 22 Mei mendatang akan berlangsung kondusif jika kedua pasangan calon mau menerima hasil apa pun yang telah ditetapkan KPU. 

Jika ada yang keberatan dengan hasilnya, maka ada jalur hukum lewat Mahkamah Konstitusi.

“Hanya masalahnya ada pihak-pihak tertentu dalam pemilu ini tidak mau kalah. Bahkan ada indikasi akan masuk pada upaya-upaya konstitusional tetapi maksa. Konstitusional kalau maksa jadi tidak konstitusional," ujar mantan Panglima ABRI ini.

Baca juga: Wiranto: Langkah-langkah Agar 22 Mei Kondusif Sudah Dilakukan

Sebelumnya, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyatakan penolakan terhadap perhitungan resmi yang dilakukan oleh KPU karena dinilai penuh kecurangan.

Sebaliknya, Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi mengklaim mereka memenangi Pilpres 2019 dengan perolehan suara 54,24 persen dan Jokowi-Maruf Amin 44,14 persen.

Meski mengklaim ada kecurangan, namun kubu Prabowo mengaku tidak akan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi.

Sejumlah elite di kubu Prabowo justru menyuarakan gerakan massa atau people power.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X