Masinton Pasaribu: SBY Belum Move On, Selalu Baperan...

Kompas.com - 26/07/2018, 18:40 WIB
Presiden SBY bersama Ketua Umum PDI P Megawati Soekarnoputeri dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyambut kedatangan jenazah Taufiq Kiemas di TMP Kalibata. Minggu (9/6/2013). Kompas.com/Robertus BelarminusPresiden SBY bersama Ketua Umum PDI P Megawati Soekarnoputeri dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyambut kedatangan jenazah Taufiq Kiemas di TMP Kalibata. Minggu (9/6/2013).

JAKARTA, KOMPAS.com - Politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu menyayangkan pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang menyebut upaya koalisi partainya dengan Joko Widodo terhambat oleh hubungannya yang masih berjarak dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

"Kalau Pak SBY mengaitkan kendala hubungannya dengan Ibu Mega, menurut saya itu beliau belum move on, selalu 'baper'-an (membawa perasaan) ya," ujar Masinton saat dijumpai di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/7/2018).

Sebagai negarawan, semestinya SBY sudah bijaksana dan dewasa dalam hal hubungan interpersonal.

Baca juga: Kata SBY, Tuhan Belum Menakdirkan Hubungannya dengan Megawati Kembali Normal


Apalagi, menurut Anggota Komisi III DPR RI tersebut, yang hendak diurus ini adalah kepentingan bangsa negara.

SBY tak seharusnya menjadikan hubungannya di masa lalu dengan Megawati yang masih menyisakan persoalan sebagai alasan untuk tidak melanjutkan komunikasi politiknya.

"Kalau koalisi, kita tentu yang kita kedepankan adalah kepentingan bangsa dalam skala besar. Jadi tidak bisa dikait-kaitkan hambatan-hambatan itu di dalam koalisi. Karena koalisi itu dasarnya platform, program dan agenda bangsa ke depan," ujar Masinton.

Politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu.Fabian Januarius Kuwado Politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu.

Baca juga: Megawati Jadi Alasan SBY Enggan Merapat ke Kubu Jokowi

Masinton pun menduga, pernyataan SBY tersebut hanya strategi untuk meraih simpati dan mendiskreditkan partai politik koalisi pendukung Jokowi.

Namun, ia yakin apabila menjadi strategi SBY, itu tidak akan mempengaruhi masyarakat yang dinilainya sudah semakin 'melek politik'.

"Bisa jadi (strategi SBY). Namanya juga playing victim. Tapi kan publik sudah tahu, kita enggak perlu gembar-gembor kan publik sudah lebih tau awal dengan sosial media dan lain-lain," ujar Masinton.

Baca juga: Hubungan SBY dan Megawati Buruk, Elite Dinilai Tak Dewasa Berpolitik

Diberitakan, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengakui hubungannya dengan Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menjadi alasan mengapa partainya tidak jadi bergabung dengan koalisi pendukung Jokowi di Pilpres 2019.

Dia menyebutkan, dalam setiap pertemuan dengan Presiden Jokowi, dirinya selalu meyakini presiden ke-7 itu tulus mengajaknya bergabung dalam koalisi. Bahkan keraguannya soal Demokrat bakal diterima partai koalisi lainnya terbantahkan lewat pernyataan Jokowi sendiri.

Baca juga: PDI-P: Kalau SBY Gagal Berkoalisi dengan Jokowi, Jangan Bawa-bawa Megawati

"Saya selalu bertanya, apakah kalau Demokrat ada dalam koalisi, partai-partai koalisi itu bisa terima kami? Ya bisa, karena presidennya saya," ucap SBY menirukan percakapannya dengan Jokowi, dalam konferensi pers usai pertemuannya dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, di kediamannya, Kuningan, Jakarta, Rabu (25/7/2018).

Kendati demikian, dirinya tetap tidak yakin mengingat realitas hubungannya dengan Megawati yang belum pulih.

"Masih ada jarak, masih ada hambatan di situ," ucap SBY.

"Saya harus jujur, belum pulih, masih ada jarak," tambah dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X