Kompas.com - 21/04/2017, 08:32 WIB
|
EditorSabrina Asril

JAKARTA, KOMPAS.com - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan, bukti dalam rangkaian penyidikan yang dibuka ke publik dapat menghambat proses hukum.

Hal ini terkait dengan permintaan DPR untuk membuka rekaman pemeriksaan mantan Anggota Komisi II DPR Miryam S Haryani dalam kasus dugaan korupsi e-KTP. DPR tengah menyusun hak anget kepada KPK.

Usulan hak angket diputuskan pada Rapat Dengar Pendapat Komisi III dan KPK yang selesai digelar, Rabu (19/4/2017) dini hari.

Adapun usulan menggulirkan hak angket itu dimulai dari protes yang dilayangkan sejumlah Anggota Komisi III kepada KPK. Alasannya, dalam persidangan disebutkan bahwa Miryam mendapat tekanan dari sejumlah anggota Komisi III.

(Baca: Desak KPK Buka Rekaman Pemeriksaan Miryam, DPR Gulirkan Hak Angket)

"Jika bukti-bukti yang ada, yang muncul dalam rangkaian proses persidangan ini dibuka maka ada risiko buat bias proses hukum dan bukan tidak mungkin dapat menghambat penanganan kasus baik untuk MSH (Miryam S Haryani) atau e-ktp sendiri," kata Febri di gedung KPK, Jakarta, Kamis (21/4/2017).

Febri menuturkan, KPK menghormati kewenangan pengawasan yang dimiliki DPR. Namun, lanjut dia, jangan sampai kewenangan itu mempengaruhi proses hukum yang tengah berjalan.

(Baca: Disebut Ancam Miryam dalam Kasus E-KTP, Anggota DPR Protes ke KPK)

 

"Kami dari awal katakan kami tangani e-ktp, tolong berbagai pihak tidak mencoba pengaruhi atau lakukan tindakan yang berisiko hambat penanganan kasus," ujar Febri.

Febri berharap DPR dapat mempertimbangkan secara serius untuk tidak menggunakan kewenangan pengawasan dalam ranah hukum. Febri percaya DPR menghargai proses pengungkapan kasus dugaan korupsi e-KTP.

Kompas TV Pimpinan DPR RI mempersilakan Komisi III DPR RI jika ingin mengajukan hak angket kepada KPK.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.