Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Muhamad Rosyid Jazuli
Peneliti

Peneliti di Paramadina Public Policy Institute, mahasiswa doktoral University College London, dan Pengurus PCI Nahdlatul Ulama UK.

Kemenangan Prabowo dan Menguatnya Loyalitas Politik Berbasis Misi

Kompas.com - 29/02/2024, 09:49 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Mereka secara terang-terangan melanggar perjanjian dan komitmen politik yang mereka setujui sebelumnya.

Namun, di era canggih saat ini, individu dan lembaga politik tampaknya lebih memilih fleksibilitas. Akses luas terhadap pengetahuan dan informasi telah menyebabkan evolusi atau setidaknya redefinisi kesetiaan politik.

Artinya, aspirasi atau misi untuk membangun negara kini seolah tak dapat dibatasi atau didominasi oleh satu atau dua partai politik tertentu.

Lebih lanjut, karena berbagai hasil riset dan opsi kebijakan kini mudah diakses dan dipelajari, entitas-entitas politik mungkin melihat bahwa mengubah preferensi politik lebih masuk akal ketimbang bertahan pada satu pilihan. Apalagi, jika satu pilihan itu dianggap korup atau tak efektif.

Di Indonesia, agaknya pandangan inilah yang kini mendominasi: setiap partai dapat dipilih oleh siapa pun yang bercita-cita membangun bangsa.

Ini memungkinkan individu, misalnya, menjadi wali kota melalui Partai X, kemudian gubernur dari Partai Y, dan akhirnya, mencalonkan diri sebagai presiden lewat Partai Z.

Proses ini erat kaitannya dengan perjalanan yang dilalui, khususnya, oleh Gibran dan Anies Baswedan.

Hal ini juga mungkin yang terjadi pada pergeseran pilihan Presiden Jokowi untuk mendukung Prabowo, yang oleh banyak pengamat dianggap sebagai kunci kemenangan Prabowo.

Kesetiaan berbasis misi

Banyak yang berpendapat bahwa hal terakhir di atas lebih merupakan langkah oportunis oleh presiden untuk mengamankan dinasti politiknya.

Argumen tersebut mungkin valid. Namun, fakta bahwa Presiden Jokowi memilih Prabowo dengan Partai Gerindra, yang selama satu dekade terakhir terus-menerus ‘mencela’ dirinya, sepertinya melawan argumen tersebut.

Gerindra, misalnya, berulang kali menyatakan bahwa presiden telah menyesatkan dan memperdalam kemiskinan rakyat dengan upayanya untuk mereformasi subsidi BBM.

Kendati tak ada yang dapat menyangkal atau menjamin apakah itu untuk keuntungan pribadi, dukungan presiden terhadap Prabowo, dalam batas tertentu, menunjukkan kesetiaannya terhadap misi pembangunannya untuk Indonesia.

Presiden dan Prabowo pun seringkali sama-sama menyatakan bahwa keberlanjutan kebijakan adalah kunci bagi Indonesia untuk maju.

Tim kampanye Prabowo-Gibran juga terus menyuarakan narasi keberlanjutan di banyak kesempatan untuk membedakannya dengan, misalnya, 'perubahan' yang dikampanyekan kandidat lain.

Diskusi tentang pengkhianatan politik memang ada, tetapi relatif sepi. Mungkin, publik sudah lelah membahas zigzag politik yang sering terjadi. Semua kubu politik, pada akhirnya, ‘sebelas-dua belas’ cara dan gerak politiknya.

Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Covid-19 di Singapura Tinggi, Kemenkes: Situasi di Indonesia Masih Terkendali

Covid-19 di Singapura Tinggi, Kemenkes: Situasi di Indonesia Masih Terkendali

Nasional
Ganjar Ungkap Jawa, Bali, hingga Sumut jadi Fokus Pemenangan PDI-P pada Pilkada Serentak

Ganjar Ungkap Jawa, Bali, hingga Sumut jadi Fokus Pemenangan PDI-P pada Pilkada Serentak

Nasional
Kemenkes Minta Masyarakat Waspada Lonjakan Covid-19 di Singapura, Tetap Terapkan Protokol Kesehatan

Kemenkes Minta Masyarakat Waspada Lonjakan Covid-19 di Singapura, Tetap Terapkan Protokol Kesehatan

Nasional
Pastikan Isi Gas LPG Sesuai Takaran, Mendag Bersama Pertamina Patra Niaga Kunjungi SPBE di Tanjung Priok

Pastikan Isi Gas LPG Sesuai Takaran, Mendag Bersama Pertamina Patra Niaga Kunjungi SPBE di Tanjung Priok

Nasional
Disindir Megawati soal RUU Kontroversial, Puan: Sudah Sepengetahuan Saya

Disindir Megawati soal RUU Kontroversial, Puan: Sudah Sepengetahuan Saya

Nasional
Diledek Megawati soal Jadi Ketum PDI-P, Puan: Berdoa Saja, 'Insya Allah'

Diledek Megawati soal Jadi Ketum PDI-P, Puan: Berdoa Saja, "Insya Allah"

Nasional
Kemenko Polhukam: Kampus Rawan Jadi Sarang Radikalisme dan Lahirkan Teroris

Kemenko Polhukam: Kampus Rawan Jadi Sarang Radikalisme dan Lahirkan Teroris

Nasional
BPIP Siapkan Paskibraka Nasional untuk Harlah Pancasila 1 Juni

BPIP Siapkan Paskibraka Nasional untuk Harlah Pancasila 1 Juni

Nasional
Jaksa Agung Mutasi 78 Eselon II, Ada Kapuspenkum dan 16 Kajati

Jaksa Agung Mutasi 78 Eselon II, Ada Kapuspenkum dan 16 Kajati

Nasional
Hari Ke-14 Haji 2024: Sebanyak 90.132 Jemaah Tiba di Saudi, 11 Orang Wafat

Hari Ke-14 Haji 2024: Sebanyak 90.132 Jemaah Tiba di Saudi, 11 Orang Wafat

Nasional
Di Tengah Rakernas PDI-P, Jokowi Liburan ke Borobudur Bareng Anak-Cucu

Di Tengah Rakernas PDI-P, Jokowi Liburan ke Borobudur Bareng Anak-Cucu

Nasional
DPR Sampaikan Poin Penting dalam World Water Forum ke-10 di Bali

DPR Sampaikan Poin Penting dalam World Water Forum ke-10 di Bali

Nasional
Ahok Mengaku Ditawari PDI-P Maju Pilgub Sumut

Ahok Mengaku Ditawari PDI-P Maju Pilgub Sumut

Nasional
Sadar Diri, PDI-P Cuma Incar Kursi Cawagub di Pilkada Jabar

Sadar Diri, PDI-P Cuma Incar Kursi Cawagub di Pilkada Jabar

Nasional
Tersandung Kasus Pemalsuan Surat, Pj Wali Kota Tanjungpinang Diganti

Tersandung Kasus Pemalsuan Surat, Pj Wali Kota Tanjungpinang Diganti

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com