Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak SYL Percantik Diri Diduga Pakai Uang Korupsi, Formappi: Wajah Buruk DPR

Kompas.com - 19/05/2024, 18:42 WIB
Nicholas Ryan Aditya,
Diamanty Meiliana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menyesalkan tingkah laku anggota DPR Fraksi Partai Nasdem Indira Chunda Thita yang diduga menggunakan uang hasil pemerasan pejabat Kementerian Pertanian (Kementan) untuk keperluan perawatan wajah.

Ditaksir, uang untuk perawatan tersebut mencapai ratusan juta rupiah.

Lucius pun mempertanyakan apakah Indira yang merupakan anak dari eks Menteri Pertanian, tersangka kasus korupsi Kementan, Syahrul Yasin Limpo (SYL) itu benar-benar ingin jadi politisi atau justru artis.

"Sebagai politisi saja, rasanya aneh aja perawatan wajah semahal itu dilakukan. Itu mau jadi artis apa politisi? Kok, anggota DPR sampai semewah itu untuk mempercantik diri? Apalagi mempercantik diri pakai uang korupsi?" ucap Lucius kepada Kompas.com, Minggu (19/5/2024).

Baca juga: Profil Indira Chunda Thita Syahrul, Anak SYL yang Biaya Kecantikan sampai Mobilnya Disebut Ditanggung Kementan

Oleh karenanya, tindakan Indira dirasa sungguh memalukan dan tidak mencerminkan anggota Dewan.

Lucius tak membayangkan apa kerja dari Indira sebagai wakil rakyat. Maka, menurutnya hal itu wajib diperiksa oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) sebagai suatu kejanggalan dan menyinggung etis atau tidaknya tingkah laku anggota Dewan.

"Sebagai alat kelengkapan yang ditugasi untuk menjaga perilaku anggota, saya kira sudah seharusnya MKD terpanggil untuk mempertanyakan perilaku anak SYL yang tindakannya mempercantik diri dari uang korupsi. Karena kecantikan dari uang korupsi itu pasti menghasilkan rupa atau wajah buruk DPR," nilai dia.

Lebih jauh, tambah Lucius, pemanggilan terhadap Indira perlu dilakukan sembari MKD menunggu proses hukum yang berjalan.

Baca juga: Daftar Aliran Uang Kementan kepada 2 Anak SYL, Capai Miliaran Rupiah?

Menurutnya, MKD bisa lebih responsif meminta keterangan anak SYL terkait dugaan aliran uang korupsi kepadanya.

Dia meyakini, pemanggilan Indira bahkan bisa membuat citra positif MKD menjelang akhir periode.

"MKD minimal bisa mengakhiri periode ini dengan akhir yang membanggakan. Mereka bisa membersihkan wajah DPR dari perilaku anggotanya yang mempercantik wajahnya sendiri menggunakan uang yang diduga hasil korupsi ayahnya," pungkas Lucius.

Diberitakan sebelumnya, nama Indira Chunda Thita Syahrul menjadi sorotan setelah sejumlah saksi dari Kementerian Pertanian mengungkap bahwa ada aliran dana atau permintaan uang dari putri pertama SYL tersebut.

Baca juga: Stem Cell Anak SYL Rp 200 Juta Dibayari oleh Kementan

Bahkan, dari persidangan terbaru, Rabu (15/5/2024), terungkap ada aliran dana Rp 200 juta dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Tanaman Pangan Kementan untuk pembayaran stem cell Indira Chunda Thita Syahrul.

Selain untuk pembayaran terapi stem cell Rp 200 juta, Kementan juga pernah membayar pembelian mobil Thita sebesar Rp 500 juta.

Hal itu diketahui dari kesaksian Pejabat Fungsional Barang Jasa Rumah Tangga Kementan, Arief Sopian dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta pada 29 April 2024.

Arief mengungkapkan bahwa Kementan membayar pembelian mobil dengan merek Toyota Innova milik anak perempuan SYL, Indira Chunda Thita Syahrul senilai Rp 500 juta.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Muhammadiyah Minta Fungsi Intelkam Polisi di Revisi UU Polri Dihapus

Muhammadiyah Minta Fungsi Intelkam Polisi di Revisi UU Polri Dihapus

Nasional
Buntut Penyitaan Ponsel dan Buku Hasto, Penyidik KPK Dilaporkan ke Komnas HAM, Dewas, hingga Polda Metro

Buntut Penyitaan Ponsel dan Buku Hasto, Penyidik KPK Dilaporkan ke Komnas HAM, Dewas, hingga Polda Metro

Nasional
8 Kemudahan Ibadah Haji bagi Lansia, Risti, dan Disabilitas

8 Kemudahan Ibadah Haji bagi Lansia, Risti, dan Disabilitas

Nasional
Balasan Menohok KPK Usai Disebut Luhut OTT Kampungan

Balasan Menohok KPK Usai Disebut Luhut OTT Kampungan

Nasional
Sidang Dugaan Korupsi Sistem Proteksi TKI Digelar Hari Ini

Sidang Dugaan Korupsi Sistem Proteksi TKI Digelar Hari Ini

Nasional
Komisi VIII Tekankan Pentingnya Penyediaan Fasilitas Safari Wukuf dan Ramah Lansia

Komisi VIII Tekankan Pentingnya Penyediaan Fasilitas Safari Wukuf dan Ramah Lansia

Nasional
Lapas di Indonesia 'Overcrowded', Kapasitas 140.000, Penghuninya 265.000 Orang

Lapas di Indonesia "Overcrowded", Kapasitas 140.000, Penghuninya 265.000 Orang

Nasional
KY Awasi Sidang Praperadilan Pegi Setiawan

KY Awasi Sidang Praperadilan Pegi Setiawan

Nasional
Sinyal Kuat PKS, PKB, dan PDI-P Bakal Dukung Anies pada Pilkada DKI

Sinyal Kuat PKS, PKB, dan PDI-P Bakal Dukung Anies pada Pilkada DKI

Nasional
Sebut Lapas 'Overcrowded' karena Didominasi Kasus Narkoba, Menkumham: Aneh

Sebut Lapas "Overcrowded" karena Didominasi Kasus Narkoba, Menkumham: Aneh

Nasional
Diplomasi Prabowo demi Gencatan Senjata Permanen di Gaza

Diplomasi Prabowo demi Gencatan Senjata Permanen di Gaza

Nasional
Kasus 'Vina Cirebon' Dinilai Janggal, Menkumham Singgung Kasus Salah Tangkap Petani

Kasus "Vina Cirebon" Dinilai Janggal, Menkumham Singgung Kasus Salah Tangkap Petani

Nasional
[POPULER NASIONAL] Prabowo Kritik Negara Modern Pelanggar Hukum Humaniter | Upaya Menyelamatkan PPP

[POPULER NASIONAL] Prabowo Kritik Negara Modern Pelanggar Hukum Humaniter | Upaya Menyelamatkan PPP

Nasional
Tanggal 15 Juni 2024 Memperingati Hari Apa?

Tanggal 15 Juni 2024 Memperingati Hari Apa?

Nasional
Megawati Disebut Sudah Tahu Buku DPP PDI-P Juga Disita Penyidik KPK

Megawati Disebut Sudah Tahu Buku DPP PDI-P Juga Disita Penyidik KPK

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com