Kompas.com - 01/10/2021, 08:19 WIB
Gubernur Lemhanas Letjen (Purn) Agus Widjojo saat ditemui di kantornya, di Jakarta, Jumat (10/9/2021) Kompas.com/Fabian Januarius KuwadoGubernur Lemhanas Letjen (Purn) Agus Widjojo saat ditemui di kantornya, di Jakarta, Jumat (10/9/2021)

JAKARTA, KOMPAS.com – Letjen TNI Purnawirawan Agus Widjojo adalah salah seorang yang aktif menggagas rekonsiliasi dalam peristiwa 1965.

Peristiwa 1965 sendiri merujuk pada peristiwa pembunuhan para jenderal pada 1 Oktober 1965 dini hari. Peristiwa itu diduga kuat didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Selain itu, sebagai bentuk balasan, orang-orang yang berafiliasi dengan PKI diburu, dibunuh, disiksa dan ditahan. Hingga puluhan tahun kemudian mereka menjadi warga negara kelas dua.

Menariknya, Agus yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) merupakan putra dari salah satu jenderal yang dibunuh, yakni Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo.

Pertanyaan menariknya tentu, bagaimana bisa seorang yang menjadi korban kekejaman dari suatu organisasi melepaskan dendam dan menggagas rekonsiliasi sejati?

“Saya berpikir, toh sebetulnya peristiwa ini bukan peristiwa pembunuhan ayah saya saja. Peristiwa ini adalah peristiwa politik nasional yang menyangkut seluruh bangsa. Oleh karena itu menjadi kepentingan dan sudah ditangani oleh Angkatan Darat, oleh seluruh bangsa dan lain-lain,” ujar Agus saat berbincang dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu.

“Jadi, ok, saya akan belajar dari situ. Tapi saya juga perlu untuk menetapkan pada diri saya bagaimana saya move on dari situasi semacam itu dan tidak terbenam pada emosi dendam,” lanjut dia.

Baca juga: Menelusuri Peristiwa G30S/PKI di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya

Sejak masih menjabat TNI aktif, Agus pun mulai konsisten mendorong rekonsiliasi sebagai jalan keluar penyelesaian peristiwa 1965.

Konsep rekonsiliasi yang digagas, yakni masing-masing pihak yang terlibat berbesar hati dan berlapang dada untuk mengungkap kesalahan di masa lalu demi menatap masa depan yang terbebas dari beban sejarah.

Agus mengakui, gagasannya ini sempat membuat posisinya tersudut. Ia dituduh oleh segelintir orang pro terhadap PKI. Sebuah alasan yang tak masuk di akal sehatnya.

“Buktinya apa kalau saya komunis? Lah wong ayah saya dibunuh kok. Saya penyintas. Banyak orang yang enggak bisa mikir. Artinya dia maunya semuanya itu ada di garisnya dia. Ada orang berpaham lain sudah (dianggap) hitam putih, oh berarti dia musuh saya,” ujar Agus.

Bincang-bincang dengan Agus Widjojo selengkapnya dapat Anda simak dalam artikel dengan judul yang sama berikut ini: Gagasan Rekonsiliasi dari Anak Korban PKI 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Illegal Fishing: Pengertian, Bentuk dan Aturan Hukumnya

Illegal Fishing: Pengertian, Bentuk dan Aturan Hukumnya

Nasional
Upaya Pemerintah Mengatasi Illegal Fishing

Upaya Pemerintah Mengatasi Illegal Fishing

Nasional
Ungkap Alasan Tolak UAS, Kemendagri Singapura: Ceramahnya Merendahkan Agama Lain

Ungkap Alasan Tolak UAS, Kemendagri Singapura: Ceramahnya Merendahkan Agama Lain

Nasional
Kolonel Priyanto Minta Bebas, Oditur Tetap Tuntut Penjara Seumur Hidup

Kolonel Priyanto Minta Bebas, Oditur Tetap Tuntut Penjara Seumur Hidup

Nasional
Kemendagri Singapura: UAS Ditolak Masuk karena Dinilai Sebar Ajaran Ekstremis

Kemendagri Singapura: UAS Ditolak Masuk karena Dinilai Sebar Ajaran Ekstremis

Nasional
Jampidsus: Lin Che Wei Punya Hubungan dengan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag

Jampidsus: Lin Che Wei Punya Hubungan dengan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag

Nasional
Update 17 Mei: Sebaran 247 Kasus Baru Covid-19, DKI Jakarta Sumbang 74

Update 17 Mei: Sebaran 247 Kasus Baru Covid-19, DKI Jakarta Sumbang 74

Nasional
Nasdem Belum Jalin Komunikasi Serius dengan Anies maupun Ridwan Kamil

Nasdem Belum Jalin Komunikasi Serius dengan Anies maupun Ridwan Kamil

Nasional
IDI Sebut Keputusan Jokowi Longgarkan Pemakaian Masker di Ruang Terbuka Sudah Tepat

IDI Sebut Keputusan Jokowi Longgarkan Pemakaian Masker di Ruang Terbuka Sudah Tepat

Nasional
Alfamidi Tegaskan Tersangka Kasus Suap Perizinan di Kota Ambon Bukan Pegawainya

Alfamidi Tegaskan Tersangka Kasus Suap Perizinan di Kota Ambon Bukan Pegawainya

Nasional
Golkar Tak Masalah PPP-PAN Punya Capres Lain untuk Pilpres 2024

Golkar Tak Masalah PPP-PAN Punya Capres Lain untuk Pilpres 2024

Nasional
Sayangkan Kebijakan Jokowi, Epidemiolog: Belum Cukup Aman Lepas Masker, Jangan Terburu-buru

Sayangkan Kebijakan Jokowi, Epidemiolog: Belum Cukup Aman Lepas Masker, Jangan Terburu-buru

Nasional
Dalami Alasan UAS Ditolak Masuk, KBRI Kirim Nota Diplomatik ke Kemlu Singapura

Dalami Alasan UAS Ditolak Masuk, KBRI Kirim Nota Diplomatik ke Kemlu Singapura

Nasional
Menkes Sebut Pelonggaran Masker di Area Terbuka Bagian dari Transisi Menuju Endemi

Menkes Sebut Pelonggaran Masker di Area Terbuka Bagian dari Transisi Menuju Endemi

Nasional
Menkes: Kasus Covid-19 Usai Lebaran Terkendali jika Positivity Rate di Bawah 5 Persen

Menkes: Kasus Covid-19 Usai Lebaran Terkendali jika Positivity Rate di Bawah 5 Persen

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.