Pemerintah Masih Cari Tahu Alasan Kapal China Larung Jenazah ABK Indonesia

Kompas.com - 10/05/2020, 18:20 WIB
Sebuah tangkapan layar dari video yang dipublikasikan media Korea Selatan MBC memperlihatkan, seorang awak kapal tengah menggoyang sesuatu seperti dupa di depan kotak yang sudah dibungkus kain berwarna oranye. Disebutkan bahwa kotak tersebut merupakan jenazah ABK asal Indonesia yang dibuang ke tengah laut oleh kapal asal China. MBC/Screengrab from YouTubeSebuah tangkapan layar dari video yang dipublikasikan media Korea Selatan MBC memperlihatkan, seorang awak kapal tengah menggoyang sesuatu seperti dupa di depan kotak yang sudah dibungkus kain berwarna oranye. Disebutkan bahwa kotak tersebut merupakan jenazah ABK asal Indonesia yang dibuang ke tengah laut oleh kapal asal China.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah saat ini sedang mencari tahu alasan perusahaan kapal China yang melarung jenazah anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang baru-baru ini terjadi.

Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaan Eva Trisiana mengatakan, berdasarkan aturan International Labour Organization (ILO) atau organisasi buruh internasional, pelarungan jenazah yang menjadi ABK diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu.

"Pemerintah konsen dan yang sedang kami upayakan adalah sejauh mana alasan-alasan dari perusahaan kapal untuk membuang jenazah ABK," kata Eva dalam diskusi, Minggu (10/5/2020).

"Karena dari aturan ILO itu diperbolehkan (larung jenazah) dengan syarat-syarat," lanjut dia.

Baca juga: Menlu: Perlakuan Terhadap ABK di Kapal Long Xing 629 Mencederai HAM

Persyaratan pelarungan antara lain, kapal berlayar di perairan internasional, ABK meninggal lebih dari 24 jam atau kematiannya disebabkan karena penyakit menular.

Selain itu, kapal tidak bisa lagi menyimpan jenazah atau sudah tidak ada tempat sehingga harus dilarung.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemudian, adanya surat keterangan kematian, izin pihak keluarga, dan masih banyak lagi.

"Kami akan mencari tahu apakah itu dipenuhi. Kalau dipenuhi, berarti memang sudah sesuai aturan," kata dia.

Selain itu, tata cara pelarungan juga harus dipenuhi seperti jenazah harus masuk ke dalam air alias tidak mengapung.

Saat ini, kata dia, ke-14 ABK yang tersisa dari kapal tersebut sudah dipulangkan ke Indonesia dan tengah dikarantina.

Baca juga: Cerita ABK di Kapal Asing: Tanpa Pembekalan, Kami Ditendang, Dimaki Ketika Kelelahan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X