Muhammad Yamin, Jokowi, dan Taufiq Kiemas

Kompas.com - 17/07/2019, 16:00 WIB
Wakil Direktur Relawan Jokowi-Maruf Muhammad Yamin saat menjabat Ketua Seknas Jokowi pada 2014. Kompas.com/Kurnia Sari AzizaWakil Direktur Relawan Jokowi-Maruf Muhammad Yamin saat menjabat Ketua Seknas Jokowi pada 2014.

Kepergiaanya yang mendadak, membuat tidak hanya saya, tapi juga teman-temannya yang selama ini mengenal sosoknya yang murah senyum dan suka bercanda, terutama para aktivis '80/90an, politisi, dan relawan Jokowi, seperti tidak percaya.

Yamin yang saya kenal pada tahun 1988 adalah sosok aktivis dan politisi yang punya komitmen tinggi terhadap perjuangan rakyat. Sosoknya yang mudah bergaul, punya wawasan luas, bicaranya yang terstruktur, membuatnya mudah diterima dan disegani oleh kawan maupun lawan politiknya.

Yamin yang saat itu tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, tidak hanya dikenal sebagai aktivis pergerakan mahasiswa.

Sebagaimana para aktivis pergerakan mahasiswa saat itu, Yamin juga aktif di pers mahasiswa HIMMAH UII. Sebuah rumah kontrakan di gang sempit bernama “Rode” di Jalan Sultan Agung, Yogyakarta, menjadi saksi sejarah sebagian hidup Yamin bergelut dengan dunia aktivis pergerakan.

Rode tidak hanya menjadi rumah singgah bagi para aktivis dari berbagai kota, tapi juga markas untuk merancang berbagai aksi mahasiswa dan perlawanan rakyat di berbagai daerah.

Di era rezim Soeharto yang represif dan alergi terhadap pergerakan mahasiswa, Rode menjadi salah satu pusat persemaian pikiran kritis mahasiswa dan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan Orde Baru.

Yamin adalah sosok yang paling menonjol di antara teman-temannya yang tinggal di Rode. Masih terngiang dalam ingatan, saat puncak acara “Reuni 30 Tahun Rode” pada 16-18 November 2018 di Rumah Rode, Yogyakarta, Yamin tidak hanya menjadi penggerak acara, tapi juga berkeinginan mendokumentasikan Rode sebagai rumah demokrasi.

Keinginan yang bukan dilandasi subyektifitas, tapi berangkat dari kesadaran untuk merawat memori bersama bahwa demokrasi saat ini adalah buah perjuangan rakyat dan mahasiswa. Rode telah memberi kontribusi pada perjuangan demokratik melawan rezim otoriter Orde Baru.

Pergerakan Rakyat

Sebagai aktivis mahasiswa saat itu, Yamin tidak percaya kekuatan Orde Baru hanya bisa dikalahkan hanya dengan gerakan mahasiswa.

Bukannya tidak percaya pada gerakan mahasiswa, tapi kekuasaan Orde Baru terutama melalui kebijakan politik floating mass, tidak hanya mengkerdilkan peran politik mahasiswa, jauh dari itu telah melumpuhkan perlawanan rakyat.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X