Agama, Politik, dan Persaudaraan - Kompas.com

Agama, Politik, dan Persaudaraan

Kompas.com - 12/02/2019, 12:00 WIB
Paus Fransiskus (tengah) disambut oleh Wakil Presiden Uni Emirat Arab dan penguasa Dubai Syeikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum serta Pangeran Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al-Nahyan dalam upacara penyambutan di Istana Kepresidenan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (4/2/2019).ANTARA FOTO/REUTERS/AHMED JADALLAH/cfo Paus Fransiskus (tengah) disambut oleh Wakil Presiden Uni Emirat Arab dan penguasa Dubai Syeikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum serta Pangeran Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al-Nahyan dalam upacara penyambutan di Istana Kepresidenan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (4/2/2019).

DI TENGAH kuatnya gaduh politik Indonesia, seruan bersejarah yang dikumandangkan Imam Besar Al-Azhar dan Paus Fransiskus di Abu Dhabi, Senin (4/2/2019), telah membawa pesan perdamaian untuk umat manusia yang wajib kita gelorakan.

Dua pemimpin besar tersebut mewakili dua agama berbeda. Ahmed al-Tayeb ialah Imam Besar Al-Azhar Kairo, yang selama ini berada di garda terdepan dalam mempromosikan Islam moderat. Adapun Paus Fransiskus memimpin 1,2 miliar umat Katolik yang tiada henti menebarkan kasih.

Pesan perdamaian dengan menebar cinta kasih dan persaudaraan itu relevan digelorakan saat bangsa kita memasuki tahun politik jelang Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 2019.

Pesan itu juga penting manakala dunia diancam kekerasan, perpecahan, dan terorisme yang ditumbuhsuburkan dari rahim benih politik.

Sejak dahulu hingga saat ini, agama masih digunakan sebagai komoditas politik yang terbukti dapat menjadi sarana destruktif dan menakutkan untuk mengobarkan pertikaian hingga berkembang menjadi perang saudara seperti terjadi di Suriah, Irak, India, dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah, Afrika, bahkan Eropa.

Adanya nafsu saling memusnahkan, syahwat penghancuran, dan semangat berperang juga masih terasakan hingga saat ini. Akibatnya, ratusan ribu, bahkan jutaan, nyawa terenggut di sejumlah kawasan. Ratusan ribu jiwa harus mengungsi meninggalkan tanah kelahiran dan kampung halaman akibat hal yang sama.

Demokrasi kita pascareformasi telah berjalan lebih dari 20 tahun dan semestinya sudah memasuki era kedewasaan dalam berpolitik.

Namun, nyatanya praktik demokrasi masih dihantui oleh masih miskinnya ketercerahan politik dan tak terkendalikannya hawa nafsu kekuasaan yang berdampak kepada rapuhnya solidaritas kebangsaan.

Indonesia sebagai bangsa hingga saat ini belum mampu menjadikan politik sebagai arena pertarungan gagasan kebangsaan yang terbaik untuk menerbitkan harapan dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Agama belum menjadi rujukan terbaik dinamika politik bangsa ini. Padahal, agama sejatinya diharapkan dapat mengeliminasi karakter utama politik yang cenderung menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan dan kekuasaan.

Kita mudah menyaksikan gejala ekstremisme, yang memiliki tanda-tanda di antaranya fanatik pada satu pendapat dan tidak mengakui pendapat orang lain hingga menimbulkan pertikaain yang tidak berkesudahan. Terciptalah lingkaran konflik dan ujaran kebencian yang masif di tengah masyarakat kita.

Seruan dari Abu Dhabi yang tertuang dalam dokumen Human Fraternity Document atau Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan berisi poin-poin penting demi terwujudnya perdamaian antarnegara, agama, dan ras.

Ia penegas bahwasanya seluruh umat manusia sejatinya ialah saudara meski berlainan entitas kebangsaan, etnik, atau agama, serta terpisah oleh identitas negara.

Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan yang diteken Syekh Tayeb dan Paus ialah penyeru akan pentingnya toleransi demi menghindari segala pertikaian dan mewujudkan perdamaian di antara umat manusia.

Pemimpin dunia sudah semestinya menjadikan deklarasi itu sebagai rujukan bagaimana mereka memimpin.

Pada awal pidatonya, Syekh Tayeb menyebut Paus sebagai "Saudaraku tercinta". Dia juga meminta seluruh umat Islam merangkul umat lain di mana saja berada.

Seperti biasa, Paus menekankan pentingnya cinta kasih di antara semua umat manusia. Dia juga menyerukan diakhirinya perang di Timur Tengah.

Belajar hikmah dari Muhamad dan Samir

Tulisan Husein Jafar Al Hadar berjudul "Beragama di Tengah Keragaman" mendatangkan inspirasi positif. Tulisan itu memuat kisah dari seorang lelaki jangkung buta bernama Muhammad menggendong seorang lelaki kecil dengan kaki lumpuh bernama Samir.

Keduanya saling berbagi. Muhammad berbagi kakinya dengan Samir, Samir berbagi penglihatannya dengan Muhammad. Keduanya hidup di Damaskus pada tahun 1889, kini negaranya (Suriah) dan porak-poranda lantaran konflik politik tak berkesudahan dan terorisme yang dikaitkan dengan isu sektarian.

Indahnya kemanusiaan tercermin dari realitas yang diametral di mana Muhammad seorang Muslim dan Samir seorang Nasrani. Keduanya yatim-piatu yang telah bersama dan berbagi hampir seumur hidupnya. Mereka bekerja bersama di sebuah warung kopi.

Keduanya juga wafat dalam waktu hampir bersamaan. Samir meninggal lebih dulu dan disusul sepekan kemudian oleh Muhammad yang tak kuat menahan kesedihan akan kepergian sahabat berbaginya itu.

Ada sebuah ikatan indah yang begitu kuat antara keduanya di tengah sesuatu yang kini sepertinya ada jurang besar dan mustahil bersatu secara harmoni: Islam-Nasrani.

Muhamad dan Samir adalah contoh yang wajib diteladani saat Suriah masih Damai. Ada selaksa hikmah yang bisa dipetik dari keduanya, terkait konteks kehidupan keberagamaan kita saat ini. Antar seagama saja sepertinya masih ada konflik yang membara apalagi antaragama.

Ada nilai universal yang saat ini harus membumi dan menjadi  kesadaran kita semua, yakni "kemanusiaan". Karena, agama apa pun sejatinya diturunkan sebagai perangkat untuk membuat manusia menjadi pro-kemanusiaan.

Muhammad dan Samir, melalui hubungan keduanya, menunjukkan secara nyata bahwa perdamaian itu bukan utopia (khayalan). Ia bisa ditegakkan. Bahkan mudah, jika kita berpikiran jernih dan berhati tulus seperti keduanya.

Seandainya paradigma Muhamad dan Samir dipakai oleh seluruh elemen di Suriah saat ini dan kita yang melihat serta mencoba menganalisisnya dengan paradigma ala Muhammad dan Samir, saya yakin Suriah tetap damai di negara yang dulunya indah dan pusat peradaban.

Sejatinya umat Islam adalah umat yang moderat. Rasulullah, dalam salah satu sabdanya, mengingatkan umat Islam, "Hindarkanlah darimu sikap melampaui batas dalam agama karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya."
 
Sementara dalam dakwah tidak ada tempat untuk sikap kasar dan keras. Tak ada pula buruk sangka terhadap manusia. "Wahai orang-orang yang beriman, hindarilah olehmu dari kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa." (QS. 49 :12)

Bangsa Indonesia telah ditakdirkan hidup dalam keberagaman. Kita wajib menggelorakan seruan perdamaian dari Abu Dhabi sebagai petunjuk bersikap dan bertindak di tengah aura kebencian yang semakin marak dan kohesi sosial yang kian renggang.

Jadikan kebinekaan energi kekuatan yang harus kita rawat bersama agar tidak menjadi menjadi biang kehancuran.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X