Agama, Politik, dan Persaudaraan

Kompas.com - 12/02/2019, 12:00 WIB
Paus Fransiskus (tengah) disambut oleh Wakil Presiden Uni Emirat Arab dan penguasa Dubai Syeikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum serta Pangeran Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al-Nahyan dalam upacara penyambutan di Istana Kepresidenan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (4/2/2019).ANTARA FOTO/REUTERS/AHMED JADALLAH/cfo Paus Fransiskus (tengah) disambut oleh Wakil Presiden Uni Emirat Arab dan penguasa Dubai Syeikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum serta Pangeran Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al-Nahyan dalam upacara penyambutan di Istana Kepresidenan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (4/2/2019).

Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan yang diteken Syekh Tayeb dan Paus ialah penyeru akan pentingnya toleransi demi menghindari segala pertikaian dan mewujudkan perdamaian di antara umat manusia.

Pemimpin dunia sudah semestinya menjadikan deklarasi itu sebagai rujukan bagaimana mereka memimpin.

Pada awal pidatonya, Syekh Tayeb menyebut Paus sebagai "Saudaraku tercinta". Dia juga meminta seluruh umat Islam merangkul umat lain di mana saja berada.

Seperti biasa, Paus menekankan pentingnya cinta kasih di antara semua umat manusia. Dia juga menyerukan diakhirinya perang di Timur Tengah.

Belajar hikmah dari Muhamad dan Samir

Tulisan Husein Jafar Al Hadar berjudul "Beragama di Tengah Keragaman" mendatangkan inspirasi positif. Tulisan itu memuat kisah dari seorang lelaki jangkung buta bernama Muhammad menggendong seorang lelaki kecil dengan kaki lumpuh bernama Samir.

Keduanya saling berbagi. Muhammad berbagi kakinya dengan Samir, Samir berbagi penglihatannya dengan Muhammad. Keduanya hidup di Damaskus pada tahun 1889, kini negaranya (Suriah) dan porak-poranda lantaran konflik politik tak berkesudahan dan terorisme yang dikaitkan dengan isu sektarian.

Indahnya kemanusiaan tercermin dari realitas yang diametral di mana Muhammad seorang Muslim dan Samir seorang Nasrani. Keduanya yatim-piatu yang telah bersama dan berbagi hampir seumur hidupnya. Mereka bekerja bersama di sebuah warung kopi.

Keduanya juga wafat dalam waktu hampir bersamaan. Samir meninggal lebih dulu dan disusul sepekan kemudian oleh Muhammad yang tak kuat menahan kesedihan akan kepergian sahabat berbaginya itu.

Ada sebuah ikatan indah yang begitu kuat antara keduanya di tengah sesuatu yang kini sepertinya ada jurang besar dan mustahil bersatu secara harmoni: Islam-Nasrani.

Muhamad dan Samir adalah contoh yang wajib diteladani saat Suriah masih Damai. Ada selaksa hikmah yang bisa dipetik dari keduanya, terkait konteks kehidupan keberagamaan kita saat ini. Antar seagama saja sepertinya masih ada konflik yang membara apalagi antaragama.

Ada nilai universal yang saat ini harus membumi dan menjadi  kesadaran kita semua, yakni "kemanusiaan". Karena, agama apa pun sejatinya diturunkan sebagai perangkat untuk membuat manusia menjadi pro-kemanusiaan.

Muhammad dan Samir, melalui hubungan keduanya, menunjukkan secara nyata bahwa perdamaian itu bukan utopia (khayalan). Ia bisa ditegakkan. Bahkan mudah, jika kita berpikiran jernih dan berhati tulus seperti keduanya.

Seandainya paradigma Muhamad dan Samir dipakai oleh seluruh elemen di Suriah saat ini dan kita yang melihat serta mencoba menganalisisnya dengan paradigma ala Muhammad dan Samir, saya yakin Suriah tetap damai di negara yang dulunya indah dan pusat peradaban.

Sejatinya umat Islam adalah umat yang moderat. Rasulullah, dalam salah satu sabdanya, mengingatkan umat Islam, "Hindarkanlah darimu sikap melampaui batas dalam agama karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya."
 
Sementara dalam dakwah tidak ada tempat untuk sikap kasar dan keras. Tak ada pula buruk sangka terhadap manusia. "Wahai orang-orang yang beriman, hindarilah olehmu dari kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa." (QS. 49 :12)

Bangsa Indonesia telah ditakdirkan hidup dalam keberagaman. Kita wajib menggelorakan seruan perdamaian dari Abu Dhabi sebagai petunjuk bersikap dan bertindak di tengah aura kebencian yang semakin marak dan kohesi sosial yang kian renggang.

Jadikan kebinekaan energi kekuatan yang harus kita rawat bersama agar tidak menjadi menjadi biang kehancuran.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X