Bamsoet: Berapapun Biayanya, DPR Dukung TNI-Polri Buru Gerombolan Bersenjata di Papua - Kompas.com

Bamsoet: Berapapun Biayanya, DPR Dukung TNI-Polri Buru Gerombolan Bersenjata di Papua

Kompas.com - 06/12/2018, 15:37 WIB
Ketua DPR Bambang Soesatyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/10/2018).KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO Ketua DPR Bambang Soesatyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua DPR Bambang Soesatyo mengimbau TNI dan Polri untuk tidak lembek menghadapi pelaku pembantaian pekerja di Nduga Papua. Bambang mengatakan DPR siap mendukung TNI Polri dalam menghadapi kelompok separatis itu.

"Berapapun biayanya, DPR akan mendukung gabungan pasukan TNI Polri untuk memburu pelaku-pelaku gerombolan bersenjata yang diduga OPM (Organisasi Papua Merdeka) sampai tuntas," ujar Bambang di kompleks parlemen, Kamis (6/12/2018).

Bambang mengaku sudah mendapat laporan dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bahwa TNI dan Polri telah menggelar rapat gabungan terkait penanganan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

Baca juga: Media Internasional Soroti Penembakan Brutal di Papua


Dia meminta pasukan gabungan itu tidak main-main dalam operasi penanganan KKB karena kejadian penembakan seperti di Nduga bukan kejadian pertama.

"Sehingga kali ini enggak boleh main-main dan tidak boleh dianggap sepele,kerahkan seluruh kekuatan yang ada," kata dia.

Bambang tidak mau terjebak pada perdebatan terkait pelaku pembantaian. Siapapun pelakunya, lanjut Bambang, adalah tindakan yang brutal.

"TNI Polri fokus pada perburuan pelaku dan menyeretnya ke pengadilan. Jika ada perlawanan, hadapi dengan ketegasan," kata Bambang. 

Baca juga: Cerita Mendagri soal Nduga, Papua: Setiap 3 Kilo, Petugas e-KTP Dipalak Rp 5 Juta

Sebelumnya diberitakan, pembunuhan sadis diduga dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Nduga, Papua, terhadap 19 pekerja pembangunan jalan.

Mereka dibunuh saat membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak di jalur Trans Papua, Kabupaten Nduga.

Akibat kejadian tersebut, proyek Trans Papua yang dikerjakan sejak akhir 2016 dan ditargetkan selesai 2019 itu dihentikan untuk sementara waktu.


Terkini Lainnya


Close Ads X