Jacinda Ardern dan Semangat Kemanusiaan

Kompas.com - 29/03/2019, 22:02 WIB
PM Selandia Baru, Jacinda Ardern.AFP/MARTY MELVILLE PM Selandia Baru, Jacinda Ardern.

Kini, kondisi di Selandia Baru perlahan mulai normal walau masih menyimpan khawatir dan sedih.

Belajar dari Selandia baru, kejadian memilukan ini tidak sampai menimbulkan beragam hoaks seperti yang biasa terjadi di Indonesia.

Tidak ada juga politisasi atas peristiwa itu. Tidak ada pula yang maki-maki dan demonstrasi untuk melampiaskan kemarahan.

Semuanya mendengarkan dan turut ke pemerintah karena mereka tahu pemerintah akan membuat kebijakan terbaik.

Peristiwa kekerasan itu, mengakibatkan 50 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Atas dasar iman, kita menerimanya sebagai ketentuan ilahi yang telah terjadi.

Meski kenyataan pahit, iman mengatakan bahwa di balik semua peristiwa, bahkan yang terpahit pun pasti ada hikmahnya.

Kesedihan mendalam kita alami karena para korban sedang melakukan ibadah yang tidak merugikan dan menyakiti orang lain. Mereka dibantai hanya karena mereka memiliki latar belakang berbeda.

Perbedaan suku ras dan agama harusnya diterima sebagai bagian dari ketentuan alam (sunatullah). Bahkan sesuatu yang selama ini oleh dunia yang beradab dipromosikan sebagai "keindahan" (beauty) dan kekayaan (treasure) dalam membangun peradaban dunia yang penuh harmoni.

Dari berbagai sumber, dalam tiga tahun terakhir ini penembakan atau pembunuhan yang terjadi di Amerika didominasi oleh mereka yang menyebut diri "white supremacy" (keunggulan kaum berkulit putih". Mereka biasanya juga dikenal dengan sebut "right wing radicals").

Pada tahun 2018, dari dari 50 kasus penembakan atau pembunuhan, 38 di antaranya dilakukan oleh kelompok white nationalist. Pada umumnya penembakan atau pembunuhan itu dilakukan di rumah-rumah ibadah, seperti gereja, masjid, dan sinagog.

Bahkan pelaku penembakan umat Islam di Selandia Baru pada 2018, sebelumnya telah melakukan perjalanan dan pertemuan dengan sesama kelompok white supremacy di Eropa, sebagai bagian dari rencana mass killing (pembunuhan massal) itu dimatangkan.

Menghikmahi tragedi tersebut pesan Nabi Muhammad SAW, dalam salah satu hadis yang sempat dikutip Ardern dalam pidatonya, "Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal kasih sayang adalah seperti satu tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota tubuh yang lain juga merasakan sakit."

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X