Masyarakat Indonesia Mudah Terpengaruh Ujaran Kebencian di Media Sosial

Kompas.com - 16/03/2018, 21:47 WIB
Para pemuka lintas agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama menyanyikan lagu Indonesia Raya di Tugu Proklamasi, Kamis (24/11/2016). Jessi Carina Para pemuka lintas agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama menyanyikan lagu Indonesia Raya di Tugu Proklamasi, Kamis (24/11/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Albertus Patty menegaskan bahwa perubahan teknologi yang berlansung cepat dan menimbulkan disrupsi di kalangan masyarakat, tak terkecuali bagi umat beragama.

"Ini sebuah kesempatan atau disrupsi? Tergantung respons kita. Perkembangan teknologi begitu cepat sehingga memang banyak orang melihatnya sebagai disrupsi," ungkap Albert dalam Seminar Nasional dan Deklarasi Generasi Milenial Menuju Indonesia Emas 2045 di Graha Oikumene PGI dan GMKI, Jakarta, Jumat (16/3/2018).

Albert melihat umat beragama di Indonesia rawan kehilangan kontrol diri dalam menggunakan teknologi. Hal itulah yang memicu masyarakat saling menghujat, menebar ujaran kebencian, dan hoaks di media sosial. Pertentangan itu seringkali merusak relasi sesama umat beragama di Indonesia.

"Dan kita enggak sadar bahwa hal-hal itu seringkali dijustifikasi oleh agama, kita benci dengan orang lain dijustifikasi karena agama. Celakanya, juga karena kepentingan politik. Agama dijadikan instrumen kekuasaan politik," ujarnya.

Baca juga : Ujaran Kebencian dan Hoaks di Media Sosial Tingkatkan Radikalisme

Albert melihat bahwa agama-agama di Indonesia belum maksimal dalam mempersiapkan umatnya menghadapi teknologi disruptif. Hal itulah yang membuat teknologi digital semakin menghasilkan sekat-sekat antar masyarakat.

"Yang terjadi egoisme pribadi dan egoisme kelompok mendominasi kehidupan kita. Dan ini menunjukkan agama-agama kita masih gagal tidak mempersiapkan merespon positif teknologi," katanya.

Albert menegaskan bahwa kesetiaan terhadap agama harus ditempatkan dalam konteks keindonesiaan dan kesepakatan nilai-nilai Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945. Apabila masyarakat mengabaikan Pancasila dalam menjalankan kehidupan beragama, maka penggumpalan sekat identitas akan semakin mengeras.

Baca juga : Komnas HAM: Ujaran Kebencian Ancaman Nyata Bagi Demokrasi

Di sisi lain, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMi) Jimly Asshiddiqie menilai, peningkatan gejala radikalisme yang diakibatkan oleh disrupsi teknologi dialami semua bangsa.

"Sekarang yang kita hadapi juga dialami semua negara, jangan merasa kita aja. Imbas dari ujaran kebencian dan hoaks ini banyak," ujar Jimly dalam paparannya.

Jimly melihat tingginya keberagaman yang dimiliki Indonesia juga menjadi titik rawan akan sulitnya mengendalikan gesekan konflik masyarakat di media sosial.

Baca juga : Savic Ali: Ujaran Kebencian Terindikasi Berasal dari Partisan Politik

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jokowi Minta Pelacakan Warga yang Terpapar Covid-19 Gunakan Teknologi

Jokowi Minta Pelacakan Warga yang Terpapar Covid-19 Gunakan Teknologi

Nasional
Polri: Angka Kejahatan di Indonesia Naik 16,16 Persen

Polri: Angka Kejahatan di Indonesia Naik 16,16 Persen

Nasional
Distribusi Bansos PKH Tak Tepat Sasaran, Mensos Siapkan Aturan Baru

Distribusi Bansos PKH Tak Tepat Sasaran, Mensos Siapkan Aturan Baru

Nasional
Pejabat KPU Dijadwalkan Bersaksi dalam Sidang Wahyu Setiawan

Pejabat KPU Dijadwalkan Bersaksi dalam Sidang Wahyu Setiawan

Nasional
Pimpin Rapat, Jokowi Singgung Pengelolaan Data Covid-19 yang Belum Terpusat

Pimpin Rapat, Jokowi Singgung Pengelolaan Data Covid-19 yang Belum Terpusat

Nasional
Adaptasi 'New Normal' Akan Buat Masyarakat Produktif dan Aman dari Covid-19

Adaptasi "New Normal" Akan Buat Masyarakat Produktif dan Aman dari Covid-19

Nasional
Strategi Pemerintah Atasi Dampak Pelemahan Ekonomi akibat Pandemi

Strategi Pemerintah Atasi Dampak Pelemahan Ekonomi akibat Pandemi

Nasional
Menristek Sebut Indonesia Perlu Vaksin Covid-19 Khusus, Mengapa?

Menristek Sebut Indonesia Perlu Vaksin Covid-19 Khusus, Mengapa?

Nasional
New Normal, Orangtua Diminta Ingatkan Anak Terapkan Protokol Kesehatan

New Normal, Orangtua Diminta Ingatkan Anak Terapkan Protokol Kesehatan

Nasional
IAKMI Sarankan Pemerintah Lakukan Stategi Ini untuk Lawan Covid-19

IAKMI Sarankan Pemerintah Lakukan Stategi Ini untuk Lawan Covid-19

Nasional
Jokowi Sebut Penularan Covid-19 di Tiga Provinsi Ini Masih Tinggi

Jokowi Sebut Penularan Covid-19 di Tiga Provinsi Ini Masih Tinggi

Nasional
Jokowi Naikkan Target Tes Covid-19 Jadi 20.000 Spesimen per Hari

Jokowi Naikkan Target Tes Covid-19 Jadi 20.000 Spesimen per Hari

Nasional
Gelar Pilkada Saat Pandemi, KPU Berencana Kurangi Kapasitas TPS Jadi 500 Pemilih

Gelar Pilkada Saat Pandemi, KPU Berencana Kurangi Kapasitas TPS Jadi 500 Pemilih

Nasional
Ombudsman Ingatkan Pemerintah soal Aturan Khusus Pelaksanaan Pilkada di Tengah Pandemi

Ombudsman Ingatkan Pemerintah soal Aturan Khusus Pelaksanaan Pilkada di Tengah Pandemi

Nasional
Terdakwa Kasus Jiwasraya Disebut Gunakan Nama Samaran, Kecuali Benny Tjokro

Terdakwa Kasus Jiwasraya Disebut Gunakan Nama Samaran, Kecuali Benny Tjokro

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X