Teologi Kepahlawanan

Kompas.com - 10/11/2014, 17:51 WIB
Veteran TNI memberi hormat kepada makam kerabatnya yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (10/11/2014). Peringatan Hari Pahlawan Nasional diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain upacara, ziarah, dan membersihkan makam pahlawan. TRIBUNNEWS/HERUDINVeteran TNI memberi hormat kepada makam kerabatnya yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (10/11/2014). Peringatan Hari Pahlawan Nasional diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain upacara, ziarah, dan membersihkan makam pahlawan.
EditorLaksono Hari Wiwoho


Oleh: Fathorrahman Ghufron

KOMPAS.com - Tanggal 10 November adalah simbol historis kepahlawanan yang pernah digelorakan 69 tahun lalu. Bung Tomo yang menjadi ikon perlawanan terhadap penjajah di Surabaya tercatat sebagai inspirator perjuangan dan pengorbanan rakyat kala itu.

Secara simultan, satu dengan yang lain membentuk ukhuwah wathaniyah, bergerak dalam barisan terdepan menghalang setiap upaya penjajah yang ingin menguasai Tanah Air yang sudah dideklarasikan kemerdekaannya.

Untuk mengenang jasa Bung Tomo dan yang lain, rakyat Indonesia menggelar ritus perayaan yang penuh semarak. Berbagai kegiatan bernuansa "kepahlawanan" telah disiapkan jauh hari dengan aneka rupa. Bahkan, bingkai kepahlawanan dipersonifikasi pada wujud benda dan rangka yang dihormati sebagai ekspresi balas jasa. Itulah kita yang penuh rela meluangkan waktu dan ruang untuk merefleksikan salah satu bagian penting dari sejarah perjalanan kebangsaan dan keindonesiaan berupa hari pahlawan.

Namun, cukupkah simbol kepahlawanan itu berhenti pada seremonial belaka? Di sinilah tanggung jawab kita semua untuk menghidupkan semangat kepahlawanan dalam konteks yang berkelanjutan. Hal ini supaya perjuangan dan pengorbanan mereka tidak hanya dikenang sebagai jasa yang pasif, tetapi menjadi jasa yang aktif (perbuatan baik yang mengalir/amal jariyah) yang bisa mendulang pelipatgandaan pahala yang Tuhan berikan kepada mereka.

Dalam kaitan ini, peran kepahlawanan mereka termanifestasi dalam gerakan perjuangan plus pengorbanan. Mereka berjuang tidak hanya pada level niat, perencanaan, dan pelaksanaan secara naluriah semata, tetapi pada pengorbanan jiwa dan raga yang dihibahkan untuk Tanah Air. Sebab, bagi mereka, membela Tanah Air adalah sebagian dari iman (hubbul wathan min al iman). Lalu, bagaimanakah memanifestasikan iman dalam konteks kemanusiaan dan keindonesiaan?

Jihad kemanusiaan

Konsep keimanan yang disematkan Bung Tomo tidak hanya berhenti pada level theomorfis-eskatologis, tetapi beranjak pula pada level anthromorfis-liberatif. Iman menjadi komitmen pembebasan dari belenggu penjajah. Maka, semangat jihad yang mereka kobarkan dan didukung oleh gerakan resolusi jihad yang didengungkan oleh KH Hasyim Asy’ari berjalin kelindan dalam ruang gerak yang konsolidatif.

Bahkan, gerakan ini menjadi patriotisme umat—meminjam istilah Mohamed Talbi—yang menginterkoneksikan semua latar belakang kalangan. Sebab, negara Indonesia yang saat itu ingin meneguhkan kembali identitas kemerdekaannya butuh kehadiran bangsa patriotik yang terdiri atas beragam umat beragama, etnik, ras, dan lainnya.

Untuk menggerakkan solidaritas bersama, tentu simpul penggeraknya adalah jihad kemanusiaan. Ia menjadi sebuah raison d’etre mengapa perlawanan terhadap penjajah harus dilakukan. Bahkan, membentuk negara yang aman (darus salam) menjadi tujuan bersama yang tidak disekat oleh batasan ideologis. Dengan demikian, antara satu dan yang lain tidak segan untuk berkorban dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang utuh hingga titik darah penghabisan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kemendagri Tegur 67 Kepala Daerah yang Belum Jalankan Rekomendasi Sanksi Netralitas ASN

Kemendagri Tegur 67 Kepala Daerah yang Belum Jalankan Rekomendasi Sanksi Netralitas ASN

Nasional
Jokowi Dukung Seniman dan Budayawan Tetap Berkreasi Saat Pandemi

Jokowi Dukung Seniman dan Budayawan Tetap Berkreasi Saat Pandemi

Nasional
La Nina, Sejumlah Daerah Berpotensi Banjir pada November 2020 hingga Januari 2021

La Nina, Sejumlah Daerah Berpotensi Banjir pada November 2020 hingga Januari 2021

Nasional
KPK Kembangkan Kasus Suap Pengesahan RAPBD Jambi

KPK Kembangkan Kasus Suap Pengesahan RAPBD Jambi

Nasional
Megawati: 270 Calon Kepala Daerah Bukan Saya yang Pilih, Semua Berembuk

Megawati: 270 Calon Kepala Daerah Bukan Saya yang Pilih, Semua Berembuk

Nasional
Megawati: Ngapain Demo kalau Merusak, Mending Bisa kalau Disuruh Ganti

Megawati: Ngapain Demo kalau Merusak, Mending Bisa kalau Disuruh Ganti

Nasional
Penyuap Nurhadi Ditangkap, MAKI Kini Tagih KPK Tangkap Harun Masiku

Penyuap Nurhadi Ditangkap, MAKI Kini Tagih KPK Tangkap Harun Masiku

Nasional
Ingatkan Kader Milenial Tak Cuma Mejeng, Megawati: Cari Makan Bisa di Tempat Lain

Ingatkan Kader Milenial Tak Cuma Mejeng, Megawati: Cari Makan Bisa di Tempat Lain

Nasional
Ingatkan Kader Mulai Program Tanaman Pendamping Beras, Mega: Ini karena Saya Cinta Rakyat

Ingatkan Kader Mulai Program Tanaman Pendamping Beras, Mega: Ini karena Saya Cinta Rakyat

Nasional
Mahfud Minta Masyarakat Tak Anarkistis Tanggapi Pernyataan Presiden Perancis

Mahfud Minta Masyarakat Tak Anarkistis Tanggapi Pernyataan Presiden Perancis

Nasional
Tegaskan Pernyataan, Megawati Kini Bertanya Berapa Banyak Anak Muda Tolong Rakyat

Tegaskan Pernyataan, Megawati Kini Bertanya Berapa Banyak Anak Muda Tolong Rakyat

Nasional
Kurang dari Sebulan, Jumlah Pasien RSD Wisma Atlet Turun Lebih dari 50 Persen

Kurang dari Sebulan, Jumlah Pasien RSD Wisma Atlet Turun Lebih dari 50 Persen

Nasional
UPDATE: 3.143 Kasus Baru Covid-19 di 30 Provinsi, DKI Jakarta Tertinggi dengan 750

UPDATE: 3.143 Kasus Baru Covid-19 di 30 Provinsi, DKI Jakarta Tertinggi dengan 750

Nasional
 Wiku Adisasmito: Penanganan Covid-19 di Indonesia Lebih Baik dari Rata-rata Dunia

Wiku Adisasmito: Penanganan Covid-19 di Indonesia Lebih Baik dari Rata-rata Dunia

Nasional
UPDATE 31 Oktober: Pemerintah Periksa 29.001 Spesimen Covid-19 dalam Sehari

UPDATE 31 Oktober: Pemerintah Periksa 29.001 Spesimen Covid-19 dalam Sehari

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X