Adnan Buyung: Masyarakat Wajar Mencurigai Negara

Kompas.com - 30/06/2013, 16:55 WIB
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Adnan Buyung Nasution (kiri), mantan Hakim Konstitusi Laica Marzuki (tengah), dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti saat konferensi pers terkait rangkap jabatan Presiden di Jakarta, Rabu (3/4/2013). Menurut Adnan, rangkap jabatan yang dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden dan Ketua Umum Partai Demokrat dinilai melanggar etika politik, sebab seorang kepala negara harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan partai, golongan dan kelompok lain.
JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Koalisi Kebebasan Berserikat dan Berkumpul, Adnan Buyung Nasution, mengatakan, dalam ilmu politik bernegara sangat wajar jika masyarakat menaruh rasa curiga terhadap negara dan pemerintahan. Hal itu, menurutnya, merupakan bagian dari  penerapan sistem demokrasi suatu negara.

“Setiap kekuasaan harus dicurigai, dan itu wajib hukumnya bagi negara demokrasi,” kata Adnan saat konferensi pers "Menolak RUU Ormas, Menolak Hegemoni Negara” di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Minggu (30/6/2013).

Adnan Buyung Nasution yang biasa disapa Bang Buyung mengungkapkan, dengan disahkannya RUU Ormas maka negara dan pemerintah dapat bersikap otoriter terhadap masyarakat. Terutama terhadap kelompok masyarakat yang dianggap dapat mengganggu stabilitas negara. “Seharusnya masyarakat lah yang menguasai pemerintah, ini kok malah pemerintah mau menguasai rakyat,” katanya.

Secara hukum, kata Adnan, hanya ada dua jenis undang-undang yang mengatur mengenai keberadaan ormas yaitu, UU Perkumpulan dan UU Yayasan. Keberadaan RUU Ormas yang saat ini menunggu pengesahan DPR, hanya akan mengembalikan negara seperti pada era Orde Baru. Pada masa Orde Baru, lanjut Buyung, pemerintah menggunakan UU Nomor 8 Tahun 1985 untuk mengatur Ormas.

“Kalau ingin mengatur Ormas, seharusnya yang direvisi adalah UU Yayasan dan UU Perkumpulan. Bukan justru menguatkan keberadaan UU Nomor 8 Tahun 1985 yang jelas-jelas otoriter,” kata Buyung.


EditorEgidius Patnistik

Terkini Lainnya

Mucikari Tawar Rp 25 Juta, Artis VA Minta Rp 35 Juta

Mucikari Tawar Rp 25 Juta, Artis VA Minta Rp 35 Juta

Regional
[POPULER INTERNASIONAL] Raja Arab Saudi Dibunuh Keponakan | Rusia Kirim Tentara ke Venezuela

[POPULER INTERNASIONAL] Raja Arab Saudi Dibunuh Keponakan | Rusia Kirim Tentara ke Venezuela

Internasional
Ma'ruf Amin: Jangan Mau Dipengaruhi supaya Tak Datang ke TPS

Ma'ruf Amin: Jangan Mau Dipengaruhi supaya Tak Datang ke TPS

Nasional
[BERITA POPULER] Survei Vox Populi: Prabowo-Sandiaga 33,6 Persen | Kisah Raja Faisal Dibunuh Keponakan

[BERITA POPULER] Survei Vox Populi: Prabowo-Sandiaga 33,6 Persen | Kisah Raja Faisal Dibunuh Keponakan

Nasional
Target Suara Capres, 'PR' untuk Timses

Target Suara Capres, "PR" untuk Timses

Nasional
Hari Ketiga Kampanye, Prabowo Bertolak ke Bali dan NTB, Sandiaga di Lamongan

Hari Ketiga Kampanye, Prabowo Bertolak ke Bali dan NTB, Sandiaga di Lamongan

Nasional
Ketika Sandiaga Curhat soal Pengalaman Jadi Pengangguran Sebelum Berwirausaha

Ketika Sandiaga Curhat soal Pengalaman Jadi Pengangguran Sebelum Berwirausaha

Regional
Surya Paloh: Indonesia Butuh Jokowi

Surya Paloh: Indonesia Butuh Jokowi

Regional
Pesawat British Airways Salah Mendarat 800 Kilometer dari Kota Tujuan

Pesawat British Airways Salah Mendarat 800 Kilometer dari Kota Tujuan

Internasional
Kuasa Hukum Pastikan Penahanan Jokdri Bukan karena Terlibat Pengaturan Skor

Kuasa Hukum Pastikan Penahanan Jokdri Bukan karena Terlibat Pengaturan Skor

Megapolitan
Toilet Pengompos hingga Bioplastik, Solusi Pemulihan Citarum yang  Ditawarkan LIPI

Toilet Pengompos hingga Bioplastik, Solusi Pemulihan Citarum yang Ditawarkan LIPI

Regional
Biografi Tokoh Dunia: Jules Verne, Pelopor Novel Fiksi Ilmiah

Biografi Tokoh Dunia: Jules Verne, Pelopor Novel Fiksi Ilmiah

Internasional
Kuasa Hukum: Tak Sepatutnya Jokdri Ditahan, Ini Alasan Subjektif Penyidik

Kuasa Hukum: Tak Sepatutnya Jokdri Ditahan, Ini Alasan Subjektif Penyidik

Megapolitan
Satu Lagi Terduga Teroris Jaringan Sibolga Ditangkap

Satu Lagi Terduga Teroris Jaringan Sibolga Ditangkap

Nasional
Berkenalan dengan Barbie di Facebook, Pria di Depok Babak Belur dan Diperas

Berkenalan dengan Barbie di Facebook, Pria di Depok Babak Belur dan Diperas

Megapolitan

Close Ads X