Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pansel Nilai Robby Orang yang Tidak Bisa "Dibeli"

Kompas.com - 17/10/2014, 10:41 WIB
Icha Rastika

Penulis


JAKARTA, KOMPAS.com - Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi menilai Kepala Bidang Hubungan Internasional Sekretariat Kabinet Robby Arya Brata dan Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas merupakan calon yang tepat yang diajukan Pansel kepada Presiden kemudian mengikuti proses uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat. Anggota Pansel, Rhenald Kasali menilai kedua orang itu independen dan bebas dari kepentingan politik mana pun.

Untuk Robby, Rhenald menilai pria yang meraih gelar doktor di Australia ini bukan tipe orang yang bisa dibeli. Pansel menilai Robby tidak mudah diajak kompromi, atau dikendalikan pihak mana pun, termasuk Istana.

"Kami melihat dia bukan orang yang mudah dikendalikan, termasuk Istana. Dia bukan tipe orang yang terbeli," kata Rhenald, saat dihubungi wartawan, Kamis (16/10/2014).

Rhenald mengatakan bahwa Robby bukan tipe orang yang mudah dikendalikan orang lain meskipun karirnya terancam. Robby dianggapnya berani mengambil keputusan meskipun konsekuensinya dia tidak naik pangkat.

"Karirnya dia sendiri itu kan tidak terlalu tinggi. Kenapa? karena dia tidak mau kompromi oragnya, jadi tidak ada masalah, dan pendidikannya juga bagus," tutur Rhenald.

Selain itu, menurut dia, Robby tidak memiliki hubungan dengan pihak-pihak yang berbau korupsi, baik dengan partai politik atau pun pernah menjadi pengacara tersangka korupsi. Mengenai kekhawatiran sebagian pihak soal latar belakang Robby yang lama berkarir di Setkab, Rhenald mengatakan justru Pansel melihat ada orang Istana yang ketakutan jika Robby mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK.

"Misalnya, sebelum dia maju, ada yang menjelek-jelekkan namanya. Nah hal ini yang harus dilihat Pansel. Boleh dikhawatirkan kalau dia memegang jabatan penting di Setgab atau dia selama ini mendapatkan fasilitas yang berlebih dari Istana, dia bukan tipe yang seperti itu," papar Rhenald.

Pansel telah melakukan penelusuran atas aset Robby dan calon pimpinan KPK lainnya. Menurut pengamatan Pansel, Robby tergolong sederhana. Rumahnya, kata Rhenald, tidak masuk kategori mewah jika dibandingkan dengan pekerjaannya sebagai pegawai Setkab.

Mengenai Busyro, Pansel justru punya kekhawatiran kalau mantan Ketua Komisi Yudisial itu tidak segesit sebelumnya jika terpilih kembali sebagai Pimpinan KPK.

"Misalnya pada waktu Pansel ini dibentuk, KPK kan sempat menantang. Nah Busyro kan ada di dalamnya, kelompok itu kan minta Busyro diperpanjang saja, harusnya Busyro mengambil sikap jangan seperti itu lah, tapi kami melihat dia punya kecenderungan membiarkan itu," kata Rhenald.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Sidang Perdana Hakim Agung Gazalba Saleh di Kasus Gratifikasi dan TPPU Digelar 6 Mei 2024

Sidang Perdana Hakim Agung Gazalba Saleh di Kasus Gratifikasi dan TPPU Digelar 6 Mei 2024

Nasional
Respons MA soal Pimpinan yang Dilaporkan ke KY karena Diduga Ditraktir Makan Pengacara

Respons MA soal Pimpinan yang Dilaporkan ke KY karena Diduga Ditraktir Makan Pengacara

Nasional
KY Verifikasi Laporan Dugaan Pelanggaran Etik Pimpinan MA, Dilaporkan Ditraktir Makan Pengacara

KY Verifikasi Laporan Dugaan Pelanggaran Etik Pimpinan MA, Dilaporkan Ditraktir Makan Pengacara

Nasional
Terbaik di Jatim, KPK Nilai Pencegahan Korupsi dan Integritas Pemkot Surabaya di Atas Rata-rata Nasional

Terbaik di Jatim, KPK Nilai Pencegahan Korupsi dan Integritas Pemkot Surabaya di Atas Rata-rata Nasional

BrandzView
Saksi Sebut SYL Bayar Biduan Rp 100 Juta Pakai Duit Kementan

Saksi Sebut SYL Bayar Biduan Rp 100 Juta Pakai Duit Kementan

Nasional
Dukung Pemasyarakatan Warga Binaan Lapas, Dompet Dhuafa Terima Penghargaan dari Kemenkumham

Dukung Pemasyarakatan Warga Binaan Lapas, Dompet Dhuafa Terima Penghargaan dari Kemenkumham

Nasional
Menginspirasi, Local Hero Pertamina Group Sabet 8 Penghargaan dari Kementerian LHK

Menginspirasi, Local Hero Pertamina Group Sabet 8 Penghargaan dari Kementerian LHK

Nasional
Prabowo Terima Menhan Malaysia, Jalin Kerja Sama Industri Pertahanan dan Pertukaran Siswa

Prabowo Terima Menhan Malaysia, Jalin Kerja Sama Industri Pertahanan dan Pertukaran Siswa

Nasional
Satgas Rafi 2024 Usai, Pertamina Patra Niaga Apresiasi Penindakan Pelanggaran SPBU oleh Aparat

Satgas Rafi 2024 Usai, Pertamina Patra Niaga Apresiasi Penindakan Pelanggaran SPBU oleh Aparat

Nasional
TNI dan Perwakilan Militer Indo-Pasifik Gelar Perencanaan Akhir Latma Super Garuda Shield 2024

TNI dan Perwakilan Militer Indo-Pasifik Gelar Perencanaan Akhir Latma Super Garuda Shield 2024

Nasional
Cegah Penyalahgunaan, Satgas Pangan Polri Awasi Distribusi Perusahaan Gula di Jawa Timur

Cegah Penyalahgunaan, Satgas Pangan Polri Awasi Distribusi Perusahaan Gula di Jawa Timur

Nasional
Jelang World Water Forum Ke-10 di Bali, Panglima Agus Minta Bais TNI Mitigasi Ancaman

Jelang World Water Forum Ke-10 di Bali, Panglima Agus Minta Bais TNI Mitigasi Ancaman

Nasional
Kisah Ayu, Bidan Dompet Dhuafa yang Bantu Persalinan Saat Karhutla 

Kisah Ayu, Bidan Dompet Dhuafa yang Bantu Persalinan Saat Karhutla 

Nasional
Dinilai Berhasil, Zulhas Diminta PAN Jatim Jadi Ketum PAN 2025-2030

Dinilai Berhasil, Zulhas Diminta PAN Jatim Jadi Ketum PAN 2025-2030

Nasional
Jokowi Bagikan 10.300 Sertifikat Tanah Hasil Redistribusi di Banyuwangi

Jokowi Bagikan 10.300 Sertifikat Tanah Hasil Redistribusi di Banyuwangi

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com