Rabu, 22 Oktober 2014

News / Nasional

HIDROGEOLOGI

Jakarta Akan Terus Ambles

Senin, 4 Oktober 2010 | 08:51 WIB

Terkait

M Zaid Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS.com - Turun atau amblesnya tanah di Jakarta adalah sebuah keniscayaan dari kondisi alamiah batuan penyusun Jakarta. Meski pengambilan air tanah dihentikan secara total, permukaan tanah dipastikan akan terus turun.

Pengambilan air tanah yang berlebihan akan memicu percepatan penurunan tanah.

Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia yang juga ahli hidrogeologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung, Lambok M Hutasoit di Jakarta, Kamis (30/9), mengatakan, jenis batuan tempat Kota Jakarta berdiri adalah endapan aluvial, terdiri atas lempung dan pasir. Umur endapan yang menutupi permukaan tanah Jakarta itu masih sangat muda, baru sekitar 10.000 tahun.

Karena masih sangat muda, endapan aluvial itu akan terus mengalami kompaksi atau kompresi. Akibatnya, permukaan tanah di Jakarta akan terus turun.

Kompaksi itu diperkuat dengan terjadinya pelapukan batuan menjadi tanah. Namun, pelapukan itu tidak terjadi semata karena intrusi air laut. Pelapukan secara fisik dan kimia dapat dipicu oleh udara, air tawar, air asin, ataupun aktivitas biologis di atasnya. Pelapukan itu membuat batuan semakin rapuh.

Endapan aluvial tersebut semakin tebal di sisi utara Jakarta. Hal ini membuat tingkat amblesan di bagian utara Jakarta lebih tinggi dibandingkan bagian selatan. Namun, ironisnya, ketika kondisi alamiahnya kurang menguntungkan, pengambilan air bawah tanah justru berlangsung seperti tanpa kendali.

”Keberadaan sumur bor dan jumlah pengambilan air bawah tanah itu semua ada aturannya, tetapi tidak ada implementasinya,” kata Lambok yang juga anggota tetap Tim Pertambangan DKI Jakarta.

Saat air di dalam tanah yang menopang kekuatan tanah terus diambil, pembangunan di permukaan tanah justru sering mengabaikan faktor kemampuan tanah dalam menahan beban. Akibatnya, terjadilah penurunan tanah karena beban gedung yang terlalu berat. Jika amblesan tanah terjadi tidak merata, gedung bisa miring atau bahkan bisa patah.

Faktor lain pemicu amblesnya tanah adalah gaya tektonik akibat pergerakan kulit bumi yang terjadi terus-menerus. Wilayah Jakarta dilalui sejumlah sesar atau patahan.

Intrusi air asin

Pengambilan air tanah tanpa kontrol tidak hanya mempercepat amblesnya tanah Jakarta, tetapi juga menimbulkan intrusi air asin (bukan hanya intrusi air laut) atau masuknya air asin dalam tanah ke akifer air tanah— yang banyak dimanfaatkan masyarakat. Jumlah air tawar yang berkurang membuat tekanan di lapisan air tawar rendah sehingga air asin di lapisan bawahnya yang bertekanan lebih tinggi menerobos masuk ke lapisan air tawar.

Sejarah hidrogeologi Jakarta menunjukkan adanya lapisan air asin dalam bumi. Air asin itu berasal dari air laut pada masa purba yang terjebak dalam batuan atau lapisan tanah.

Sekitar 30.000 tahun lalu, tepi laut wilayah Jakarta diperkirakan berada di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur, dan Ciputat, Tangerang Selatan, saat ini. Hal itu diperoleh melalui rekonstruksi geologi berdasarkan penanggalan karbon (carbon dating) dari air yang diperoleh dari salah satu sumur bor di Cileungsi, Bogor.

”Selain itu, baik di Kramat Jati maupun Ciputat juga ditemukan endapan lumpur dan fosil laut yang menegaskan bahwa sebagian daratan Jakarta saat ini adalah bekas wilayah laut pada masa purba,” katanya.

Berdasarkan catatan pengeboran air tanah yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda pada 1920 di wilayah Jakarta Kota, pada kedalaman 200 meter sudah menyebabkan semburan air asin.

Peneliti hidrogeologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Robert M Delinom, Sabtu (2/10), menambahkan, intrusi air laut terjadi pada beberapa sumber air permukaan atau sumur dangkal yang umumnya menjadi sumur penduduk di sebagian wilayah utara Jakarta. Namun, intrusi air laut belum terjadi pada lapisan akifer air tanah yang banyak dimanfaatkan industri, hotel, ataupun apartemen.

Kedalaman laut di Teluk Jakarta tidak lebih dari 50 meter, sedangkan kedalaman akifer air tanah dalam biasanya lebih dari itu. Tak ada satu pun akifer air tanah dalam bersentuhan langsung dengan air laut sehingga tidak mungkin terjadi intrusi air laut di lapisan air tanah dalam.

Selain bersumber dari air laut purba, air asin dalam tanah juga ditimbulkan oleh larutnya mineral-mineral dalam tanah, termasuk natrium dan klor sebagai unsur pembentuk garam. Mineral itu larut oleh aliran air dan akhirnya tertinggal pada lapisan air tawar atau lapisan tanah.

Menurut Robert, ion negatif klor banyak terdapat di lempung Jakarta. Padahal, lempung itu biasanya menjadi lapisan kedap air yang membatasi akifer air tanah. Kandungan ion negatif klor dalam lempung itu juga jauh lebih tinggi dibandingkan yang terdapat dalam akifer. Kondisi itu menunjukkan, garam dalam lempung itu adalah endapan garam purba, bukan berasal dari air laut saat ini.

Air asin dalam tanah juga diukur dengan isotop karbon tertentu, seperti digunakan untuk mengukur umur fosil. Hasilnya, umur air asin dalam tanah jauh lebih tua dibandingkan umur air asin dari laut.

Berdasarkan pantauan yang dilakukan di dasar Teluk Jakarta pada 2007, menurut Robert, ada sejumlah sumber air tawar yang keluar dari dasar laut. Kondisi itu terjadi akibat tekanan hidrostatis air laut lebih kecil dibandingkan tekanan di akifer air tanah dalam. Oleh karena itu, asin laut tak akan mungkin masuk ke akifer air tanah dalam.

”Walaupun sebagian sumur dangkal sudah tercemar air asin laut, akifer air tanah dalam belum,” ujarnya.

Bersahabat dengan alam

Berbagai keterbatasan geologis Jakarta itu menuntut pola pembangunan yang benar-benar memerhatikan kondisi alam. Salah dalam mengambil kebijakan, wargalah yang akan menanggung derita. Warga Jakarta mau tidak mau akan menghadapi Jakarta yang akan terus ambles. Suka tidak suka, mereka juga merasakan air yang sedikit asin pada air tanah mereka.

Menurut Lambok, penggunaan air tanah harus dihentikan. Meski penurunan tanah tetap akan terjadi, penurunannya dapat diperlambat.

Kebutuhan air bersih bagi warga dan industri sebaiknya dipenuhi dengan menggunakan sumber air permukaan. Curah hujan tahunan yang tinggi menjadi potensi besar. Sayangnya, sebagian besar air hujan justru terbuang percuma.

Pembangunan waduk-waduk penampung air atau terowongan bawah tanah penyimpan air dapat dilakukan di Jakarta. Cara ini dinilai lebih bermanfaat, sekaligus dapat digunakan sebagai pengendali banjir.

Saat ini yang terjadi justru air hujan dibuang secepat-cepatnya ke laut agar tidak menimbulkan banjir. Akibatnya, saat kemarau tiba, kekurangan air di Jakarta marak terjadi di mana-mana.


Editor : A. Wisnubrata
Sumber: