Kompas.com - 16/03/2020, 10:22 WIB
Penulis Ihsanuddin
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah orang yang melakukan kontak dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mendatangi rumah sakit untuk memeriksa kesehatannya.

Di antaranya adalah para wartawan yang pernah berinteraksi dengan Budi Karya selama sepekan terakhir. Pemeriksaan dilakukan karena Budi Karya Sumadi saat ini diketahui sebagai pasien Covid-19.

Di sejumlah negara, mereka yang melakukan kontak dekat dengan pasien Covid-19 umumnya mendapatkan penindakan, baik itu diminta karantina atau isolasi, serta pemeriksaan.

Di Indonesia, orang yang belum menunjukkan gejala sakit tetapi baru pulang dari negara atau wilayah episentrum virus corona dikategorikan sebagai Orang dalam Pemantauan (ODP).

Bagi mereka yang belum sakit tetapi sudah kontak dengan pasien Covid-19 juga bisa masuk kategori ODP.

Baca juga: ODP, PDP, dan Suspect Virus Corona, Apa Bedanya? Ini Penjelasan Pemerintah

Sedangkan, mereka dengan kategori sama tetapi sudah menunjukkan gejala sakit, mereka bisa masuk kategori Pasien dalam Pengawasan (PDP).

Namun, sejumlah RS Rujukan Covid-19 justru memberikan penolakan saat wartawan berinisiatif untuk memeriksakan diri. Padahal, mereka berinisiatif untuk mengetahui apakah sudah dikategorikan sebagai ODP dan berharap ada tindak lanjut dari pemerintah.

Penolakan ini terjadi pada Minggu (15/3/2020), sehari setelah Istana Kepresidenan mengumumkan Budi Karya positif virus corona

Baca juga: Perkembangan Terbaru Penanganan Wabah Virus Corona oleh Pemerintah Indonesia...

Bahkan, ada juga kisah mereka yang dikategorikan sebagai PDP, namun mendapat penanganan tak optimal.

Dia bahkan dimasukkan ke ruang isolasi sempit, yang diisi enam orang dengan kerentanan yang sama.

Berikut paparannya:

"Nanti sembuh sendiri..."

Seorang jurnalis radio yaitu R, misalnya, ditolak mentah-mentah saat memeriksakan diri ke RSUP Persahabatan. Ia mengaku datang ke rumah sakit rujukan pemerintah di Jakarta Timur itu pada pukul 09.00 WIB.

Setibanya di sana, R bertanya kepada petugas terkait pemeriksaan Covid-19. R menjelaskan bahwa dirinya mengalami batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, dan sesak nafas.

Selain itu, ia juga menjelaskan dirinya sempat bertemu Menhub Budi Karya. Bukannya diperiksa, R malah diminta pulang ke rumahnya.

"Saya diminta makan yang sehat, tidur, istirahat, nanti juga sembuh," kata R.

Baca juga: Dokter Harus Sampaikan Data Pasien Positif Corona ke Dinkes Setempat

Namun, R tetap berusaha meyakinkan petugas RS terkait kondisinya. Petugas tersebut justru marah sambil mengeluh kewalahan menangani banyaknya orang yang memeriksakan diri ke RSUP Persahabatan.

"Dia sambil marah bilang, 'jujur saja kami sudah kewalahan dari kemarin ruangan sudah penuh. Kami hanya melayani yang sudah daftar kemarin.' Terus dia minta dua satpam untuk jaga pintu ruangan supaya enggak ada yang masuk," kata R.

Warga menggunakan masker setelah turun dari kereta rel listrik di stasiun Palmerah, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Presiden Joko Widodo mengimbau warga untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dengan tetap higienis serta menjaga imunitas tubuh usai mengumumkan dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) positif terjangkit virus corona yang saat ini dirawat di ruang isolasi RSPI Sulianti Saroso, Jakarta.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Warga menggunakan masker setelah turun dari kereta rel listrik di stasiun Palmerah, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Presiden Joko Widodo mengimbau warga untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dengan tetap higienis serta menjaga imunitas tubuh usai mengumumkan dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) positif terjangkit virus corona yang saat ini dirawat di ruang isolasi RSPI Sulianti Saroso, Jakarta.
Akhirnya R pindah ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso. Di sana, ia dilayani meski antreannya cukup lama. R harus menunggu empat jam untuk akhirnya dites darah dan rontgen.

Namun R juga tidak dites usap alias swab, untuk pengecekan apakah dia positif atau negatif corona. R diminta melakukan isolasi mandiri di rumah dan baru kembali ke RSPI Sulianti Saroso jika kondisinya makin parah dalam beberapa hari mendatang.

"Tes swab itu akan dilakukan kalau setelah masa isolasi beberapa hari gejala makin parah," kata dia.

Baca juga: Kemenkes Sebut Biaya Pemeriksaan Akan Ditanggung Pemerintah jika Sudah Terindikasi Covid-19

Ditolak tiga rumah sakit

Hal serupa dialami B, seorang wartawan media cetak. Bahkan B sudah mendatangi tiga rumah sakit rujukan di Jakarta dan ditolak oleh ketiganya.

Ia awalnya datang ke Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati pukul 10.00 WIB. RS itu merupakan rujukan pemerintah yang paling dekat dari rumahnya.

B lantas menceritakan kepada petugas bahwa dirinya sempat melakukan kontak dekat dengan Menhub Budi Karya.

Setelah menceritakan hal tersebut, petugas IGD justru meminta B pergi ke rumah sakit rujukan lainnya.

"Petugas IGD bilang, kalau ada kontak langsung (dengan positif corona) ke RSPI Sulianti Saroso atau RS Persahabatan saja," kata B.

Baca juga: Daftar 8 Rumah Sakit Rujukan Penanganan Virus Corona dan Hotline yang Bisa Dihubungi di DKI Jakarta

B lalu bergerak menuju RSUP Persahabatan sesuai instruksi petugas itu. Di sana, ia bertemu dengan sekitar 30 wartawan lainnya yang juga sempat kontak dengan Budi Karya.

Para wartawan diminta mengisi form terkait kontaknya dengan pasien positif dan gejala yang dialami. Setelah itu, wartawan hanya diminta menunggu kabar selanjutnya.

"Sampai siang kami cuma tunggu, sampai akhirnya ada kabar itu. Kalau lebih dari 30 orang enggak bisa hari ini karena alatnya enggak siap. Terus dibilang balik lagi besok," kata B.

Baca juga: UPDATE: Jumlah Pasien Positif Virus Corona di Indonesia Jadi 117 Kasus

Terakhir, B mencoba mendatangi RSUD Pasar Minggu. Namun lagi-lagi ia ditolak karena hanya mengalami batuk dan pilek ringan.

"Di Pasar Minggu karena enggak ada gejala, enggak diperiksa," kata dia.

Akhirnya B pun pasrah dan pulang ke rumah.

Ilustrasi virus corona, Covid-19 di IndonesiaShutterstock Ilustrasi virus corona, Covid-19 di Indonesia

Ruang isolasi penuh

Wartawan lain, yaitu T, mendatangi RSUD Pasar Minggu namun mendapat penolakan serupa. Ia diminta datang lagi keesokan harinya karena posko Covid-19 tutup di akhir pekan.

T yang tengah mengalami batuk, pilek, sesak, dan belum lama ini kontak dengan Budi Karya itu tetap ngotot minta diperiksa. Akhirnya petugas pun mengakui bahwa kondisi ruang isolasi sudah penuh.

"Kata petugasnya satu ruang isolasi penuh, satu ruangan bisa diisi sampai empat orang. Mereka juga sedang menunggu pasien bisa dirujuk ke rumah sakit lain," kata T.

Setelah petugas itu blak-blakan menjelaskan kondisi ruang isolasi, maka T pun memutuskan untuk pulang. Ia khawatir kondisi ruang isolasi yang diisi empat orang justru bisa membuatnya tertular.

"Saya lebih baik karantina mandiri saja di rumah, daripada ketularan," ucap dia.

Baca juga: Bertambah, Ini Daftar 58 Rumah Sakit Rujukan Penanganan Virus Corona di Jawa Tengah

Di rumah sakit tersebut, ada juga seorang yang sudah dinyatakan sebagai Pasien dalam Pengawasan namun cukup lama mendapat penanganan lanjutan.

Bahkan, dia diminta menunggu sejak siang hingga hampir tengah malam sebelum bisa dipindah ke rumah sakit rujukan.

Selama menunggu, dia ditempatkan di ruang isolasi yang diisi enam orang yang juga menyatakan pernah kontak dekat dengan pasien Covid-19.

Kisahnya dapat dibaca selengkapnya: Satu Malam Berkerumun di Ruang Isolasi RSUD Pasar Minggu...

Hingga saat ini belum ada penjelasan dari pemerintah untuk menangani berbagai permasalahan terkait penanganan ini, terutama bagi orang yang menyatakan pernah melakukan kontak dekat dengan pasien positif virus corona atau Covid-19.

Sejauh ini, diketahui bahwa pihak rumah sakit belum siap dalam menghadapi penumpukan pasien.

Dilansir dari Kumparan, Direktur Utama RSUP Persahabatan Rita Rogayah mengaku bahwa pihak RS belum menyiapkan fasilitas untuk lonjakan pasien.

"Karena kami mesti menyiapkan dulu, enggak bisa. Enggak bisa tiba-tiba datang 30 orang," kata Rita saat dihubungi wartawan, Minggu (15/3/2020).

"Karena kami baru menyiapkan nih apa strategi. Karena saat ini pasien yang ada. Masa mau digabung. Nanti saya umumin deh kasihan wartawan nunggu-nunggu," ujar dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wapres: Kehadiran Provinsi Baru di Papua Menuntut Master Plan Baru Transportasi

Wapres: Kehadiran Provinsi Baru di Papua Menuntut Master Plan Baru Transportasi

Nasional
Perhatikan Penyandang Disabilitas Pengungsi Gempa Cianjur, Kemensos Bagikan Alat Bantu

Perhatikan Penyandang Disabilitas Pengungsi Gempa Cianjur, Kemensos Bagikan Alat Bantu

Nasional
Di Depan Para Guru, Jokowi Ingatkan Pentingnya Kesehatan Mental Siswa

Di Depan Para Guru, Jokowi Ingatkan Pentingnya Kesehatan Mental Siswa

Nasional
Jokowi ke Guru: Kita Harus Mencegah Terjadinya Stunting

Jokowi ke Guru: Kita Harus Mencegah Terjadinya Stunting

Nasional
Obituari Ferry Mursyidan Baldan: Pria yang Berada di Mana-mana

Obituari Ferry Mursyidan Baldan: Pria yang Berada di Mana-mana

Nasional
Tahap Pertama, 8.341 Rumah Korban Gempa Cianjur Segera Diperbaiki

Tahap Pertama, 8.341 Rumah Korban Gempa Cianjur Segera Diperbaiki

Nasional
Kemenkes Targetkan RS Seluruh Provinsi Bisa Lakukan Bedah Jantung Terbuka Tahun 2027

Kemenkes Targetkan RS Seluruh Provinsi Bisa Lakukan Bedah Jantung Terbuka Tahun 2027

Nasional
Cegah Air Merembes ke Tenda, Kemensos Pasang 4.500 Palet di Posko Pengungsian Cianjur

Cegah Air Merembes ke Tenda, Kemensos Pasang 4.500 Palet di Posko Pengungsian Cianjur

Nasional
Ferry Mursyidan Baldan dalam Kenangan: Dari HMI sampai Kabinet Jokowi dan Pecinta Chrisye

Ferry Mursyidan Baldan dalam Kenangan: Dari HMI sampai Kabinet Jokowi dan Pecinta Chrisye

Nasional
Wapres Harap Yudo Margono Bisa Lanjutkan Pendekatan Humanis untuk Papua

Wapres Harap Yudo Margono Bisa Lanjutkan Pendekatan Humanis untuk Papua

Nasional
Wapres: Pemerintah Tetap Gunakan Pendekatan Humanis di Papua

Wapres: Pemerintah Tetap Gunakan Pendekatan Humanis di Papua

Nasional
Disetujuinya Yudo Margono KSAL Ketiga Pimpin TNI dan Pesan Soliditas TNI/Polri

Disetujuinya Yudo Margono KSAL Ketiga Pimpin TNI dan Pesan Soliditas TNI/Polri

Nasional
Candai Ganjar, Bahlil Lahadalia: Ini Capres dari KAHMI

Candai Ganjar, Bahlil Lahadalia: Ini Capres dari KAHMI

Nasional
Yudo Margono Janji Bakal Berdayakan Kogabwilhan

Yudo Margono Janji Bakal Berdayakan Kogabwilhan

Nasional
Cerita Jusuf Kalla soal Ferry Mursyidan yang Sempat Antarkan ke Mobil Usai Acara PMI

Cerita Jusuf Kalla soal Ferry Mursyidan yang Sempat Antarkan ke Mobil Usai Acara PMI

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.