Kompas.com - 30/01/2019, 08:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Partai-partai koalisi pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden mengklaim koalisi partai dan kader akar rumputnya solid mendukung "jagoan" masing-masing.

Kedua kubu juga saling klaim mendapatkan dukungan dari kader koalisi lawan.

Pada Senin (28/1/2019), Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani, misalnya, menyebut banyak kader parpol pendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin diam-diam mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pernyataan Muzani ini bermula ketika dia menanggapi dukungan Partai Bulan Bintang (PBB) terhadap Jokowi-Ma'ruf.

Muzani tidak mempermasalahkan dukungan PBB. Menurut dia, meski partai memutuskan mendukung Jokowi-Ma'ruf, banyak kader PBB yang mendukung Prabowo-Sandiaga.

"Jangankan kader PBB, kader partai koalisi di sono juga banyak yang dukung kami, tapi diam posisinya," kata Muzani, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Baca juga: Gerindra: Kader Parpol Koalisi Jokowi-Maruf Banyak yang Diam-diam Dukung Prabowo-Sandi

Menanggapi pernyataan Muzani, Ketua DPP Partai Golkar yang juga Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Syadzily, mengatakan, justru koalisi pendukung Prabowo-Sandi yang tidak solid.

Menurut Ace, mereka tidak lagi fokus pada pemenangan Pemilihan Presiden melainkan hanya pada Pemilihan Legislatif 2019.

"Tanda bahwa mesin paslon 02 overheat adalah partai pendukung paslon 02 sibuk untuk perjuangkan nasibnya di pemilu legislatif," kata Ace.

Sebelumnya, beberapa kader dari parpol dua koalisi ini ada yang menyatakan deklarasi dukungan yang berbeda dari keputusan partai.

Kader Partai Amanat Nasional di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan telah mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf.

Sementara itu, sejumlah tokoh-tokoh Partai Demokrat juga telah menyatakan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf, seperti Gubernur Papua Lukas Enembe dan mantan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, hingga mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB).

Baca juga: Bantah Gerindra, Jubir Jokowi-Maruf Justru Sebut Mesin Koalisi 02 Overheat

 

Dari parpol koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf, kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hasil muktamar Jakarta yang kini dipimpin Humprhey Djemat memilih mendukung Prabowo-Sandiaga.

Selain itu, kader Partai Bulan Bintang poros Mekah yang diketuai MS Kaban juga menyatakan dukungan kepada Prabowo-Sandiaga. 

Soliditas sebatas pileg

Terkait fenomena ini, pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, para kader partai hanya loyal kepada partai dalam konteks pemilihan legislatif belum tentu loyalitasnya sama untuk pemilihan presiden.

Hal ini karena efek ekor jas atau coattail effect yang tidak terbagi rata ke semua partai.

"Jadi mereka memang solid di akar rumput, solid juga di elite, tetapi untuk partai. Karena pemilu serentak ini ternyata enggak ada tuh coattail effect-nya," kata Hendri.

Ia mengatakan, pada koalisi Prabowo-Sandiaga, misalnya, partai yang merasakan efek ekor jas

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (17/2/2018).KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (17/2/2018).
hanya Partai Gerindra.

Mengapa? Karena Prabowo maupun Sandiaga sama-sama berasal dari Partai Gerindra meski Sandiaga kini telah mengundurkan diri.

Sementara pada koalisi Jokowi-Ma'ruf, partai yang mendapat efek ekor jas ini adalah PDI-Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

PDI-P mendapatkan efek ekor jas dari Jokowi, sedangkan PKB dari Ma'ruf Amin.

Hendri mengatakan, hal ini berdampak pada soliditas akar rumput masing-masing partai koalisi.

"Ada keengganan partai politik lain untuk mempromosikan calon presidennya karena yang mendapat coattail effect-nya parpol lain," kata dia.

Pada akhirnya, dukungan kader akar rumput menjadi sangat pragmatis. Mereka mendukung pasangan calon yang secara tidak langsung memberi keuntungan bagi mereka.

Kader partai pendukung Prabowo di basis Jokowi cenderung mengikuti suara rakyat sekitarnya yang mendukung Jokowi. Demikian pula sebaliknya.

"Tapi memang demi drama politik dan pencitraan maka mereka bilang solid," ujar Hendri. 

Peneliti senior Indikator Rizka Halida di kantor Indikator, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2019). KOMPAS.com/Devina Halim Peneliti senior Indikator Rizka Halida di kantor Indikator, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2019).
Survei "split voters"

Lembaga survei Indikator Politik Indonesia sebelumnya telah mengeluarkan hasil survei mengenai split-ticket voting setiap partai. Hasilnya, dukungan pemilih koalisi partai-partai pengusung pasangan capres dan cawapres terbelah.

 

Bagaimana hasilnya?

Dari sembilan parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf, pemilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Hanura menjadi yang paling tidak solid mendukung pasangan nomor urut 01 itu.

"PPP dan Hanura paling banyak terbelah kepada oposisi," ujar peneliti senior Indikator Rizka Halida.

Data Indikator menunjukkan, sebanyak 43,2 persen responden pemilih PPP memilih pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Baca juga: Survei Indikator: Basis Massa Partai Berkarya dan Demokrat Tak Solid Pilih Prabowo-Sandi

Sementara itu, 39,6 persen pemilih Partai Hanura menyatakan mendukung Prabowo-Sandiaga.

Adapun, pemilih PDI Perjuangan paling solid untuk mendukung paslon Jokowi-Ma'ruf. Sebanyak 90,1 persen responden pemilih PDI Perjuangan tetap mendukung Jokowi-Ma'ruf, sesuai dukungan partai.

Sementara itu, partai dari koalisi Prabowo-Sandiaga yang dukungannya terbelah adalah Partai Berkarya dan Partai Demokrat.

Sebanyak 42,1 responden pemilih Partai Berkarya akan memilih pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Sementara itu, 40,5 persen pemilih Partai Demokrat memilih paslon nomor urut 01.

"Pada kelompok partai koalisi pendukung Prabowo-Sandi, Demokrat dan Berkarya paling banyak terbelah mendukung petahana, sekitar 40-42 persen," ujar Rizka.

Baca juga: Survei Indikator: PPP dan Hanura Paling Tak Solid Dukung Jokowi-Maruf

 

Pemilih Partai Gerindra menjadi yang paling solid memilih Prabowo-Sandi dengan persentase sebesar 81,5 persen.

Survei Indikator dilakukan pada 16-26 Desember 2018, dengan melibatkan 1.220 responden yang dipilih secara random (multistage random sampling).

Metode survei yang digunakan yaitu dengan wawancara lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.

Dalam survei ini, margin of error rata-rata sebesar plus minus 2,9 persen pada tingkat kepercayaan sebesar 95 persen (dengan asumsi simple random sampling).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal Kasus Brigadir J, Eks Karo Provos: Kalau Tahu Itu Rekayasa, Ferdy Sambo Saya Tangkap!

Soal Kasus Brigadir J, Eks Karo Provos: Kalau Tahu Itu Rekayasa, Ferdy Sambo Saya Tangkap!

Nasional
Tak Ditemui Pimpinan DPR Soal Demo Tolak RKUHP, Koalisi Masyarakat Sipil: Mereka Tidak Menghormati HAM

Tak Ditemui Pimpinan DPR Soal Demo Tolak RKUHP, Koalisi Masyarakat Sipil: Mereka Tidak Menghormati HAM

Nasional
Polemik SDN Pondok Cina 1, Menko PMK Minta Sekolahnya Diganti Lebih Bagus

Polemik SDN Pondok Cina 1, Menko PMK Minta Sekolahnya Diganti Lebih Bagus

Nasional
Pengacara Bharada E Sindir Sambo Soal Wanita Menangis: Tidak Usah Panik

Pengacara Bharada E Sindir Sambo Soal Wanita Menangis: Tidak Usah Panik

Nasional
Soal Isu Maju Jadi Ketua PSSI, Erick Thohir: Nanti Kita Lihat Saja

Soal Isu Maju Jadi Ketua PSSI, Erick Thohir: Nanti Kita Lihat Saja

Nasional
Jokowi Sebut Pemerintah Segera Umumkan Pelarangan Ekspor Bauksit

Jokowi Sebut Pemerintah Segera Umumkan Pelarangan Ekspor Bauksit

Nasional
Kesal Diperintah Sambo, Eks Kabag Gakkum Provos: Walaupun Kombes Butut, Saya Senior!

Kesal Diperintah Sambo, Eks Kabag Gakkum Provos: Walaupun Kombes Butut, Saya Senior!

Nasional
Terseret Kasus Sambo, Eks Karo Provos: Yang Paling Berat Beban Anak, Istri, dan Keluarga

Terseret Kasus Sambo, Eks Karo Provos: Yang Paling Berat Beban Anak, Istri, dan Keluarga

Nasional
Elektabilitas Demokrat Meningkat, Ini Kata Syarief Hasan soal Transformasi Partai

Elektabilitas Demokrat Meningkat, Ini Kata Syarief Hasan soal Transformasi Partai

Nasional
Bantah Joman, Projo Tegaskan Relawan Jokowi Solid dan Militan

Bantah Joman, Projo Tegaskan Relawan Jokowi Solid dan Militan

Nasional
PDI-P Nilai Utut Tak Terlibat Gratifikasi, Justru Hendak Bantu Anak Staf Masuk Unila

PDI-P Nilai Utut Tak Terlibat Gratifikasi, Justru Hendak Bantu Anak Staf Masuk Unila

Nasional
Menyelisik Efektivitas Otonomi Daerah, Mardani Ali Sera Usul Jumlah Provinsi Ditambah

Menyelisik Efektivitas Otonomi Daerah, Mardani Ali Sera Usul Jumlah Provinsi Ditambah

Nasional
Deretan Polisi Terjerat Kasus Hukum Namun Tak Kunjung Disidang Etik, dari Irjen Napoleon hingga Irjen Teddy Minahasa

Deretan Polisi Terjerat Kasus Hukum Namun Tak Kunjung Disidang Etik, dari Irjen Napoleon hingga Irjen Teddy Minahasa

Nasional
Komisi X Rapat dengan LLDIKTI, Hasilkan 6 Butir Pandangan Panja Perguruan Tinggi

Komisi X Rapat dengan LLDIKTI, Hasilkan 6 Butir Pandangan Panja Perguruan Tinggi

Nasional
Jokowi: Peningkatan Investasi di 2023 Harus, Tak Bisa Ditawar-tawar Lagi

Jokowi: Peningkatan Investasi di 2023 Harus, Tak Bisa Ditawar-tawar Lagi

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.