Kontemplasi Demokrasi

Kompas.com - 12/12/2018, 16:27 WIB
Ilustrasi: Demokrasi Pancasila dan Islam KOMPAS/HANDININGIlustrasi: Demokrasi Pancasila dan Islam

DEMOKRASI adalah makan siang para politisi. Undang-undang (rule of law) adalah hidangan penutupnya.

Saat malam, mereka menjadikan partai politik dan topik representasi sebagai santapan. Dan, basa-basi kedaulatan rakyat adalah cemilan saat menonton televisi jelang kantuk menyapa.

Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Demokrasi adalah instrumen. Demokrasi adalah alat bagi para politisi untuk unjuk gigi dan mengedepankan kepentingan-kepentinganya, baik jangka pendek ataupun panjang.

Dari sisi teologis, demokrasi adalah alat untuk mengingkari Tuhan. Dalam demokrasi, Tuhan tak berdaulat. Selama rakyat tak bisa menghukum, selama institusi hukum bisa dihindari, hukum tuhan bukanlah sebuah keperluan medesak, sangat jarang dijadikan bahan pertimbangan.

Demokrasi adalah soal rakyat yang dikemas semenarik mungkin di mulut para elite politik. Demokrasi adalah soal rakyat yang diiming-imingi dengan kedaulatan.

Di antara rakyat dan elite, nyatanya terhalang dinding kaca yang sangat tebal, bahkan tak tertembus peluru. Rakyat bisa menyaksikan, tetapi alih-alih menyentuh, suaranya bahkan tak terdengar karena terhalang kaca tebal kedap suara.

Bagi rakyat banyak, demokrasi adalah dongeng. Demokrasi adalah gigauan tidur yang syukur-syukur bisa mengurangi jumlah pengeluaran bulanan.

Demokrasi adalah hadiah tak berharga, tapi lumayan menghibur. Diliburkan saat pemilihan, dihibur saat kampanye. Lumayan toh buat penghilang suntuk dan lelah.

Kadang tak jarang, gara-gara demokrasi, rakyat banyak bisa kebagian baju gratis, sembako cuma-cuma, dan amplop berisikan selembar dua lembar rupiah.

Jadi, demokrasi hanya hiburan bagi rakyat banyak. Basa-basi kedaulatan rakyat adalah kopi pagi hari, bersama sesumbar "dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat" sebagai pisang gorengnya. Salahkah? Jelas jauh dari salah. Rakyat hanya mengikuti irama.

Itulah realitas Indonesia. Rakyat hanya pengikut. Jangan salahkan rakyat kalau pilkada menjadi mahal. Semakin banyak yang ditebar, semakin banyak permintaan yang datang. Rakyat hanya bermain dengan hukum alam yang ada. Rezeki datang tak boleh ditolak, pamali.

Sekalipun tak ada jaminan akan dicoblos karena hanya Tuhan yang mengetahui tiap-tiap isi hati rakyat, para elite tak pernah jera. Para elite tak berniat untuk jera.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X