Waria, Warga Negara yang Rentan Pelanggaran HAM

Kompas.com - 22/08/2016, 06:00 WIB
Kompas TV PSK & Waria Terjaring Razia Satpol PP

Mereka pun akhirnya banyak yang memutuskan berhenti sekolah karena tidak tahan dengan tekanan-tekanan dari lingkungan sekitarnya.

Setelah berhenti sekolah, kata Rebecca, mereka masih harus mengalami tekanan dari pihak keluarga yang tidak menerima identitas gender mereka yang berbeda.

(Baca: Aktivitas di Pondok Pesantren Waria Dihentikan)

"Situasi seperti itu tentu membuat tidak nyaman. Umumnya mereka memutuskan berhenti sekolah. Bagaimana mereka mau memiliki ijazah kalau tidak bersekolah," tutur Rebecca.

Diskriminasi yang berakibat pada minimnya akses terhadap pendidikan, lanjut Rebecca, mengakibatkan seorang waria tidak memiliki banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Masyarakat turut andil

Dia berpendapat, situasi menjadi lebih tidak adil ketika stigma negatif dari masyarakat yang ditujukan terhadap seorang waria pekerja seks justru lahir dari perlakuan diskriminatif di masyarakat.

Menurutnya, tidak bisa disangkal bahwa sebenarnya masyarakat juga memiliki andil dalam menciptakan kondisi kehidupan seorang waria yang dianggap tidak sesuai dengan norma.

Oleh sebab itu, dia bersama beberapa pegiat kemanusiaan di SWARA berupaya untuk memberdayakan komunitas waria remaja di jakarta melalui pemberian informasi dan pendidikan kepada waria remaja.

Selain itu, menurut Rebecca, SWARA secara rutin juga melakukan kerja pendampingan, advokasi dan mengadakan pelatihan keterampilan.

"Dari segi pendidikan seorang waria tidak mendapat akses yang sama dengan orang-orang lain. Itu yang membuat mereka akhirnya memilih menjadi pekerja seks. Memang benar sebagian besar waria itu merasa terpaksa menjadi pekerja seks," ucap dia.

Halaman:


EditorSabrina Asril
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X