Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KPK Nilai Tak Ada Urgensi Sidangkan Harun Masiku secara "In Absentia"

Kompas.com - 22/01/2024, 13:07 WIB
Syakirun Ni'am,
Dani Prabowo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua sementara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nawawi Pomolango mengungkapkan, pihaknya belum melihat persidangan in absentia untuk Harun Masiku yang kini masih buron mendesak digelar.

Harun merupakan mantan kader PDI-P yang disangka menyuap Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 2019. Namun, ia melarikan diri dan masuk daftar pencarian orang (DPO).

Adapun in absentia adalah persidangan yang dihadirkan tanpa kehadiran terdakwa.

"Semua kemungkinan tetap terbuka, hanya sejauh ini kami melihat belum ada urgensinya," kata Nawawi kepada wartawan, Senin (22/1/2024).

Baca juga: MAKI Gugat KPK di PN Jaksel Karena Dinilai Hentikan Penyidikan Harun Masiku

Ia mengatakan, berdasarkan penjelasan Pasal 38 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi, persidangan in absentia digelar dengan sebagai upaya mengembalikan kerugian keuangan negara.

Sementara itu, kasus Harun Masiku adalah suap kepada pejabat negara menyangkut penetapan pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI.

"Jadi agak berbeda dengan apa yang berlangsung pada case si Harun Masiku ini," ujar Nawawi.

Lebih lanjut, mantan Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) itu mengatakan, saat ini tim penyidik KPK masih terus bekerja memburu Harun.

Baca juga: Klaim Serius Cari Harun Masiku, Ketua KPK ke Kasatgas: Sudah Sejauh Mana Pekerjaanmu?

Pencarian ini sekaligus mencari kepastian guna menjawab kekhawatiran sejumlah pihak bahwa Harun telah meninggal dunia.

"Singkatnya, masih cukup alasan memberi waktu kepada tim sidik untuk terus bekerja," tutur Nawawi.

Sebelumnya, Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menggugat KPK melalui praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Klasifikasi perkara gugatan itu menyangkut sah atau tidaknya penghentian penyidikan. Adapun Boyamin mengaku menyimpulkan bahwa KPK telah menghentikan penyidikan Harun Masiku.

Sebab, kata Boyamin, pihaknya telah meminta KPK untuk menggelar sidang in absentia. Namun, KPK tidak mau memenuhi permintaan itu. Di sisi lain, sampai saat ini Harun Masiku belum juga tertangkap.

Baca juga: Dewas Sebut KPK Sudah Cari Harun Masiku sampai ke Filipina, tapi Belum Juga Ketemu

"Atas keengganan KPK sidang in absentia maka aku dalilkan KPK telah menghentikan penyidikan secara materiil," kata Boyamin.

Kasus suap Harun Masiku berawal saat tim KPK menggelar operasi tangkap tangan (OTT) pada 8 Januari 2020.

Dari hasil operasi, tim KPK menangkap delapan orang dan menetapkan empat orang sebagai tersangka.

Komisioner KPU yang menerima suap dari Haru, Wahyu Setiawan telah menjalani masa hukuman dan bebas bersyarat dari penjara.

Namun, sampai saat ini Harun sebagai tersangka pemberi suap belum juga tertangkap.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Bareskrim Periksa Eks Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Terkait Kasus Dokumen RUPSLB BSB

Bareskrim Periksa Eks Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Terkait Kasus Dokumen RUPSLB BSB

Nasional
Lempar Sinyal Siap Gabung Koalisi Prabowo, PKS: Kita Ingin Berbuat Lebih untuk Bangsa

Lempar Sinyal Siap Gabung Koalisi Prabowo, PKS: Kita Ingin Berbuat Lebih untuk Bangsa

Nasional
Anies: Yang Lain Sudah Tahu Belok ke Mana, Kita Tunggu PKS

Anies: Yang Lain Sudah Tahu Belok ke Mana, Kita Tunggu PKS

Nasional
Nasdem: Anies 'Top Priority' Jadi Cagub DKI

Nasdem: Anies "Top Priority" Jadi Cagub DKI

Nasional
Sekjen PDI-P: Banyak Pengurus Ranting Minta Pertemuan Megawati-Jokowi Tak Terjadi

Sekjen PDI-P: Banyak Pengurus Ranting Minta Pertemuan Megawati-Jokowi Tak Terjadi

Nasional
Bisa Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Hakim Perempuan, Ketua MA Apresiasi Penyelenggaraan Seminar Internasional oleh BPHPI

Bisa Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Hakim Perempuan, Ketua MA Apresiasi Penyelenggaraan Seminar Internasional oleh BPHPI

Nasional
Jelang Pemberangkatan Haji, Fahira Idris: Kebijakan Haji Ramah Lansia Harap Diimplementasikan secara Optimal

Jelang Pemberangkatan Haji, Fahira Idris: Kebijakan Haji Ramah Lansia Harap Diimplementasikan secara Optimal

Nasional
Anies Tak Mau Berandai-andai Ditawari Kursi Menteri oleh Prabowo-Gibran

Anies Tak Mau Berandai-andai Ditawari Kursi Menteri oleh Prabowo-Gibran

Nasional
PKS Siapkan 3 Kadernya Maju Pilkada DKI, Bagaimana dengan Anies?

PKS Siapkan 3 Kadernya Maju Pilkada DKI, Bagaimana dengan Anies?

Nasional
Anies Mengaku Ingin Rehat Setelah Rangkaian Pilpres Selesai

Anies Mengaku Ingin Rehat Setelah Rangkaian Pilpres Selesai

Nasional
Koalisi Gemuk Prabowo-Gibran ibarat Pisau Bermata Dua

Koalisi Gemuk Prabowo-Gibran ibarat Pisau Bermata Dua

Nasional
Tawaran Posisi Penting untuk Jokowi Setelah Tak Lagi Dianggap Kader oleh PDI-P

Tawaran Posisi Penting untuk Jokowi Setelah Tak Lagi Dianggap Kader oleh PDI-P

Nasional
Diminta Mundur oleh TKN, Berikut 6 Menteri PDI-P dalam Periode Kedua Jokowi

Diminta Mundur oleh TKN, Berikut 6 Menteri PDI-P dalam Periode Kedua Jokowi

Nasional
Nasdem Tunggu Jawaban Anies Soal Tawaran Jadi Cagub DKI

Nasdem Tunggu Jawaban Anies Soal Tawaran Jadi Cagub DKI

Nasional
Minimalisasi Risiko Bencana Alam, DMC Dompet Dhuafa dan BNPB Tanam 1.220 Bibit Pohon di Bandung Barat

Minimalisasi Risiko Bencana Alam, DMC Dompet Dhuafa dan BNPB Tanam 1.220 Bibit Pohon di Bandung Barat

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com