Polemik Patung di Tuban, UKP-PIP Sarankan Diselesaikan Lewat Jalur Musyawarah - Kompas.com

Polemik Patung di Tuban, UKP-PIP Sarankan Diselesaikan Lewat Jalur Musyawarah

Fabian Januarius Kuwado
Kompas.com - 12/08/2017, 21:16 WIB
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Tuban, Jawa Timur, dengan menggunakan  alat berat crane menutup patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen  dengan kain putih di Kelenteng Kwan Swie Bio, Minggu (6/8/2017). Patung setinggi 30,4 meter itu ditutup dengan kain oleh pengurus kelenteng karena adanya penolakan dari sejumlah elemen masyarakat atas patung itu. ANTARA FOTO/AGUK SUDARMOJO Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Tuban, Jawa Timur, dengan menggunakan alat berat crane menutup patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih di Kelenteng Kwan Swie Bio, Minggu (6/8/2017). Patung setinggi 30,4 meter itu ditutup dengan kain oleh pengurus kelenteng karena adanya penolakan dari sejumlah elemen masyarakat atas patung itu.

BOGOR, KOMPAS.com - Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif menyoroti penolakan kelompok masyarakat tertentu terhadap patung raksasa dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur.

Menurut Yudi, sebaiknya persoalan tersebut diselesaikan melalui jalur musyawarah mufakat ketimbang aksi massa.

"Sebenarnya seperti itu harus diselesaikan lewat pendekatan komunitas. Pendekatan restoratif, konsensus, permusyawaratan, damai," ujar Yudi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat pada Sabtu (12/8/2017).

Melalui musyawarah mufakat, dia yakin solusi yang dihasilkan pun akan lebih tuntas.

"Kalau berbagai pihak dipertemukan melalui semangat musyawarah, biasanya jauh lebih efektif sehingga lalu terjadi penyelesaian yang konklusif," ujar Yudi.

(Baca: Polemik Patung Raksasa di Tuban, Istana Minta Aparat Tak Tunduk pada Tekanan)

Lebih jauh, Yudi mengatakan bahwa sebenarnya banyak patung yang ada di Indonesia. Ada yang merupakan patung pahlawan Indonesia, ada pula patung yang bernuansa religi. Yudi berharap masyarakat Indonesia tidak bersikap tertutup atas hal-hal semacam itu.

"Dalam Pancasila, kata Bung Karno kita ingin mencapai kebangsaan kita tidak chauvinis, tertutup. Tapi ingin menuju persaudaraan bangsa-bangsa di dunia. Artinya setiap hal baik dari luar, kita jangan bersifat xenophobia, antiasing. Kalau itu positif, bisa saja kita apresiasi," ujar Yudi.

Diberitakan, kelompok masyarakat tertentu menolak berdirinya patung raksasa dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Jawa Timur. Puluhan orang dari berbagai elemen menggelar aksi protes di depan gedung DPRD Jatim, beberapa waktu lalu.

Mereka mendesak patung itu segera dirobohkan karena tidak terkait dengan sejarah bangsa Indonesia.

Patung setinggi lebih dari 30 meter yang berdiri menghadap ke laut tersebut diresmikan pada 17 Juli 2017 lalu oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan. Patung tersebut dinobatkan sebagai patung dewa terbesar se-Asia Tenggara.

Kompas TV Massa bahkan memberi tenggat waktu hingga 7x24 jam kepada pengurus kelenteng agar merobohkan patung simbol dewa perang dari Tiongkok itu.

PenulisFabian Januarius Kuwado
EditorSabrina Asril
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM