Kamis, 21 Agustus 2014

News / Nasional

Wartawan "Kompas" dan "Kompas.com" Raih Diversity Awards 2014

Rabu, 14 Mei 2014 | 22:22 WIB
KOMPAS.COM/Sandro Gatra Lima wartawan yang menerima Diversity Awards 2014

JAKARTA, KOMPAS.com — Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) memberikan penghargaan Diversity 2014 kepada lima wartawan. Tahun ini, penghargaan itu diberikan kepada Ilham Khoiri (Kompas), Sandro Gatra (Kompas.com), M Taufik Budi Wijaya (KBR68H), Anastasia Apricilia Rijkers (Metro TV), dan Fully Syafi Handoko (fotografer Tempo).

Diversity Awards 2014 itu diberikan dalam acara di Tebet Green, Jakarta, Rabu (14/5/2014) malam. Para penerima penghargaan tersebut baru diumumkan dalam acara itu.

Diversity Awards adalah penghargaan untuk jurnalis yang berkontribusi merawat keberagaman dan membela mereka yang selama ini dipinggirkan. Penghargaan itu baru pertama kali digelar oleh Sejuk.

Ada tiga nominator dalam masing-masing kategori, yakni kategori media TV, Cetak, Online, Radio, dan Foto. Sebanyak 15 nominator terpilih merupakan hasil pemantauan tim riset Sejuk terhadap pemberitaan mereka mengenai isu keberagaman. Tim juga memantau media sosial mereka.

Terpilihnya lima penerima penghargaan itu merupakan hasil diskusi antara tim Sejuk bersama dewan juri, yakni Ade Armando (pakar media dan komunikasi Universitas Indonesia), Maria Hartiningsih (wartawan senior Kompas), Citra Dyah Prastuti (editor KBR68H),Yudhi Soerjoatmojo (kurator), dan Ahmad Al Hafidz (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia).

Direktur Sejuk Ahmad Junaidi mengatakan, lima wartawan itu terpilih karena konsisten menghasilkan karya-karya jurnalistik terkait isu keberagaman. Dalam karyanya, para pemenang tidak sekadar memberikan fakta yang terjadi, tetapi juga menunjukkan komitmennya kepada keberagaman.

"Anugerah ini merupakan bentuk penghormatan bagi mereka yang konsisten melakukan hal tersebut sepanjang karier jurnalistiknya," kata Ahmad dalam acara tersebut.

Ahmad menuturkan sulitnya untuk mencari jurnalis yang memenuhi kriteria. Hal itu karena jarang ada pengkhususan isu tersebut di redaksi media sehingga tidak ada wartawan yang fokus meliput isu-isu keberagaman.

"Banyak berita yang ditulis sekadar karena penugasan kantor. Sulit menemukan passion jurnalis dalam melahirkan karya yang berpihak kepada korban," ucap Ahmad. Ia berharap Diversity Awards dapat dilakukan setiap tahun untuk merangsang para jurnalis menulis isu keberagaman di masa depan.

"Kita tahu, diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama masih menjadi persoalan bangsa ini. Untuk itu, Sejuk mengajak semua elemen ikut membangun masyarakat yang menghormati, melindungi, dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan atas hak asasi," ujarnya.

(C10-14/SAN)


Penulis: Febrian
Editor : Laksono Hari Wiwoho