Selasa, 2 September 2014

News / Nasional

Kaum Muslim Moderat Harus Lebih Lantang

Senin, 14 Mei 2012 | 23:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kaum Muslim moderat di Indonesia masih merupakan mayoritas dan menjadi arus utama. Namun, mereka diminta untuk bersuara lebih lantang, terutama dalam menolak tindakan intoleran atas nama agama, apalagi disertai dengan kekerasan.

"Penolakan atas tindakan intoleran harus disuarakan lebih keras oleh mayoritas umat Islam yang moderat. Jika tidak, sikap antiperbedaan pendapat dan kebebasan berpikir itu akan semakin mendapat tempat di negara yang menjamin kebebasan berpendapat dan berkeyakinan," kata anggota Komisi Independen Hak Asasi Manusia (HAM) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Siti Ruhaini Dzuhayatin, di Jakarta, Senin (14/5/2012).

Menurut Siti Ruhaini Dzuhayatin, ada sejumlah kasus yang menggambarkan toleransi di kalangan masyarakat Indonesia belakangan ini semakin tergerus. Salah satunya, penolakan dan pembubaran diskusi dengan pemikir Muslim asal Kanada, Irshad Manji, di Jakarta dan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pada saat bersamaan, kontroversi atas keberadaan jemaah Ahmadiyah dan Syiah juga masih terus bergulir.

Untuk mengantisipasi kondisi itu, kaum Muslim moderat yang merupakan arus utama umat Islam di Indonesia diharapkan tidak tinggal diam atas perilaku tidak toleran dan kekerasan atas nama agama.

"Jika kekerasan ini dibiarkan, dan kelompok mayoritas moderat tidak bersuara, situasinya bakal semakin mengkhawatirkan," katanya.

Komisi HAM OKI sudah membahas soal ini. "Semua komisioner sepakat, kelompok minoritas harus dilindungi, termasuk di Indonesia. Indonesia harus menunjukkan keseriusan untuk menjaga aset penting sebagai bangsa, yaitu hasrat untuk hidup bersama dan menerima perbedaan," katanya.


Penulis: Ilham Khoiri
Editor : Agus Mulyadi