Saat Mensos Risma Memilih Bungkam Ketika Disinggung tentang Saran Ikut Terapi Kesabaran

Kompas.com - 05/10/2021, 17:54 WIB
Menteri Sosial Tri Rismaharini usai rapat di Komisi VIII DPR tampak berjalan didampingi sejumlah pejabat Kementerian Sosial, Selasa (5/10/2021) sore. Risma menghiraukan para awak media yang bertanya usai dikritik politisi PKB Jazilul Fawaid karena marah-marah di Gorontalo. KOMPAS.com/NICHOLAS RYAN ADITYAMenteri Sosial Tri Rismaharini usai rapat di Komisi VIII DPR tampak berjalan didampingi sejumlah pejabat Kementerian Sosial, Selasa (5/10/2021) sore. Risma menghiraukan para awak media yang bertanya usai dikritik politisi PKB Jazilul Fawaid karena marah-marah di Gorontalo.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Sosial Tri Rismaharini memilih bungkam saat disinggung soal pernyataan Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid, yang menyarankannya untuk ikut terapi kesabaran.

Ditemui usai rapat dengan Komisi VIII di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (5/10/2021) sore, Risma berjalan berlalu melewati awak media yang telah menunggunya di selasar Gedung Nusantara II menuju mobilnya.

Tak ada satu pun kalimat maupun pernyataan yang dilontarkan oleh mantan Wali Kota Surabaya itu ketika wartawan menanyainya.

Saat itu, yang menjadi fokus pertanyaan awak media adalah terkait pernyataan Jazilul yang menyarankan Risma untuk ikut terapi.

Bahkan, Risma yang terlihat mengenakan jaket putih dengan baju batik berwarna merah muda itu tak sedikit pun menoleh ke para awak media yang berusaha terus mengejarnya untuk mendapatkan jawaban.

Baca juga: Soal Risma Marah-marah, Wakil Ketua MPR: Mungkin Perlu Ikut Terapi Kesabaran

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Politisi PDI Perjuangan yang didampingi oleh sejumlah pejabat Kementerian Sosial tersebut memilih berjalan cepat melewati tangga ekskalator dan meninggalkan para wartawan.

Diketahui sebelumnya, Jazilul mengkritik Risma yang memarahi seorang pendamping program keluarga harapan (PKH) saat melakukan kunjungan kerja ke Gorontalo.

Kemarahan Risma pun telah mendapatkan sorotan publik, tak terkecuali Jazuli yang mengetahuinya setelah membaca berita terkait hal itu.

Oleh sebab itu, Jazilul menyarankan agar Risma menjalani terapi kesabaran.

"Saya mendapatkan kabar bahwa Bu Risma marah-marah kembali, ini kambuh terus. Menurut saya mungkin Bu Risma perlu ikut terapi kesabaran," kata Jazilul dalam keterangannya, Selasa (5/10/2021).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

11 Anak Perempuan Korban Predator Seks Lewat Game Free Fire Tersebar di Sumatera hingga Papua

11 Anak Perempuan Korban Predator Seks Lewat Game Free Fire Tersebar di Sumatera hingga Papua

Nasional
Ketua Komisi VIII Sebut Arab Saudi Prioritaskan Jemaah Indonesia untuk Berangkat Haji

Ketua Komisi VIII Sebut Arab Saudi Prioritaskan Jemaah Indonesia untuk Berangkat Haji

Nasional
Selesai Resmikan Bendungan, Jokowi Ikut Tanam Padi Bareng Petani di Trenggalek

Selesai Resmikan Bendungan, Jokowi Ikut Tanam Padi Bareng Petani di Trenggalek

Nasional
Tiga Skenario Gelombang Ketiga Kasus Covid-19 di Indonesia

Tiga Skenario Gelombang Ketiga Kasus Covid-19 di Indonesia

Nasional
Korban Predator Seksual di Game Free Fire Dipaksa Video Call Seks dengan Imbalan Diamond

Korban Predator Seksual di Game Free Fire Dipaksa Video Call Seks dengan Imbalan Diamond

Nasional
KPK: 6.310 Barang Gratifikasi Jadi Milik Negara, Nilainya Rp 171 Miliar

KPK: 6.310 Barang Gratifikasi Jadi Milik Negara, Nilainya Rp 171 Miliar

Nasional
Jokowi: Stok Beras Baik, Kita Belum Impor Sama Sekali

Jokowi: Stok Beras Baik, Kita Belum Impor Sama Sekali

Nasional
Menag Yaqut Dicecar soal Pernyataan 'Kemenag Hadiah untuk NU' oleh Anggota DPR

Menag Yaqut Dicecar soal Pernyataan "Kemenag Hadiah untuk NU" oleh Anggota DPR

Nasional
Saksi Komnas HAM: 4 Laskar FPI Dibunuh di Luar Proses Hukum, Aparat Tidak Berupaya Mencegah

Saksi Komnas HAM: 4 Laskar FPI Dibunuh di Luar Proses Hukum, Aparat Tidak Berupaya Mencegah

Nasional
Predator Seksual Anak Bermodus Game Online Free Fire Ditangkap Polisi

Predator Seksual Anak Bermodus Game Online Free Fire Ditangkap Polisi

Nasional
Menag: Kalau Umrah Bisa Diselenggarakan dengan Baik, Ibadah Haji Akan Terbuka Lebar

Menag: Kalau Umrah Bisa Diselenggarakan dengan Baik, Ibadah Haji Akan Terbuka Lebar

Nasional
Indonesia Rawan Bencana Alam, Dompet Dhuafa Gelar Roadshow Pelatihan Mitigasi Bencana

Indonesia Rawan Bencana Alam, Dompet Dhuafa Gelar Roadshow Pelatihan Mitigasi Bencana

Nasional
Kementerian PPPA: Ruang Bermain Ramah Anak Cegah Ketergantungan Gawai

Kementerian PPPA: Ruang Bermain Ramah Anak Cegah Ketergantungan Gawai

Nasional
Jemaah Umrah yang Vaksinasi Covid-19 dengan Sinovac Mesti Karantina 3 Hari, Kecuali Suntik Booster

Jemaah Umrah yang Vaksinasi Covid-19 dengan Sinovac Mesti Karantina 3 Hari, Kecuali Suntik Booster

Nasional
Yusril: Revisi UU PPP Tak Bisa Berlaku Surut ke Belakang, Seolah Ada Sebelum UU Cipta Kerja

Yusril: Revisi UU PPP Tak Bisa Berlaku Surut ke Belakang, Seolah Ada Sebelum UU Cipta Kerja

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.