Kompas.com - 09/04/2021, 07:26 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Jakarta, Senin (23/3/2021). AHY menyatakan bahwa Moeldoko saat ini mencari pembenaran atas kebohongan yang terus dilakukannya bersama kubu versi kongres luar biasa (KLB) Deli Serdang, Sumatera Utara. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa. ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYATKetua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Jakarta, Senin (23/3/2021). AHY menyatakan bahwa Moeldoko saat ini mencari pembenaran atas kebohongan yang terus dilakukannya bersama kubu versi kongres luar biasa (KLB) Deli Serdang, Sumatera Utara. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.

Secara terpisah, Juru bicara KLB, Muhammad Rahmad menilai, silaturahmi antara AHY dan Moeldoko dapat menjadi satu momen yang baik, apalagi mendekati Ramadhan.

“Pertemuan dua tokoh yang saling berseteru apalagi jelang Ramadhan itu baik dan bagus,” kata Rahmad pada Kompas.com, Kamis (8/4/2021).

Silaturahmi jangan timbulkan misteri

Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, berpendapat, pertemuan antara AHY dan Moeldoko bisa saja terjadi. Sebab, ia mengatakan, dalam politik tidak ada kawan dan lawan sejati.

Namun ia berharap, masyarakat dapat mengetahui secara jelas isi pembahasan dalam pertemuan itu, jika nantinya terealisasi.

“Menurut saya, silakan silaturahim. Tapi dalam silaturahim itu (informasi) harus disampaikan terang benderang, agar tidak menimbulkan misteri di masyarakat tentang sebenarnya ada perpecahan atau ini sekedar sebuah drama,” jelas Hendri.

Baca juga: AHY dan Moeldoko Dinilai Bisa Dapat Sentimen Negatif Publik

Hendri juga meminta AHY dan Moeldoko untuk berhati-hati dalam menentukan langkah politiknya.

Sebab jika pertemuan keduanya terjadi, maka dapat menimbulkan potensi sentimen negatif dari masyarakat. Terlebih saat ini konflik kedua kubu masih berlangsung.

“Katanya sudah ada (laporan) di pengadilan, lalu (ada ajakan) ngopi-ngopi, masyarakat akan bertanya-tanya secara politik ada apa ini sebenarnya,” tutur Hendri.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X