5 WNI Diculik, Anggota DPR Nilai Malaysia Belum Maksimal soal Patroli Bersama

Kompas.com - 21/01/2020, 09:12 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) mendampingi satu dari dua WNI yang sebelumnya menjadi sandera kelompok gerilyawan Filipina Abu Sayyaf, Maharudin (tengah) bertemu dengan istrinya (kanan) di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (26/12/2019). Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Filipina berhasil membebaskan dua WNI yang telah disandera selama 90 hari pada 22 Desember 2019. Saat ini masih ada satu sandera, Muhammad Farhan, yang sedang diupayakan pembebasannya. ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRAMenteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) mendampingi satu dari dua WNI yang sebelumnya menjadi sandera kelompok gerilyawan Filipina Abu Sayyaf, Maharudin (tengah) bertemu dengan istrinya (kanan) di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (26/12/2019). Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Filipina berhasil membebaskan dua WNI yang telah disandera selama 90 hari pada 22 Desember 2019. Saat ini masih ada satu sandera, Muhammad Farhan, yang sedang diupayakan pembebasannya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi I DPR Sukamta menyebut, salah satu indikasi terjadinya penculikan 5 WNI di Perairan Tambisan, Tungku Lahad Datu, N Sabah karena pihak tentara Malaysia belum mengimplementasikan kesepakatan patroli bersama.

"Di wilayah yang rawan itu, memang kita punya kesepakatan antara (tentara) Indonesia, Malaysia dan Filipina untuk patroli bersama. Ternyata, ada indikasi tentara Malaysia ini belum melakukan patroli yang memadai di situ," ujar Sukamta di Kantor DPP PKS, Jakarta, Senin (20/1/2020).

Sukamta mengatakan, penculikan tersebut berada di wilayah yang menjadi teritorial patroli tentara Malaysia.

Baca juga: Kemenlu: Kelompok Abu Sayyaf yang Culik 5 WNI di Perairan Malaysia

Karena itu, pihaknya meminta kepada seluruh pihak konsisten dalam mengimplementasikan kesepakatan bersama.

"Saya kira ini perlu penanganan yang komprehensif. Upaya kita membuat semua pihak yang sudah berjanji itu untuk konsisten melaksanakan perjanjian," ucap dia.

Dia juga mengatakab, perjanjian itu merupakan perjanjian militer sehingg TNI perlu membangun komunikasi dengan tentara Malaysia supaya komitmen awal dipenuhi.

"Kalau perjanjian ini kan perjanjian militer, mestinya TNI melakukan kontak dengan mitra di Malaysia dengan mendorong supaya komitmennya dipenuhi," ucap dia.

Penculikan WNI yang bekerja di Negeri Sabah, Malaysia di Perairan Tambisan, Tungku Lahad Datu, N Sabah, Malaysia kembali terjadi.

Dari delapan kru kapal yang semuanya WNI, lima orang di antaranya diculik. Sementara itu, tiga di antaranya dibebaskan bersama kapal mereka. 

Berdasarkan informasi tertulis dari Kepolisian Tambisan, Sabtu (18/1/2019), lokasi penculikan tidak jauh dari lokasi hilangnya Muhammad Farhan (27) dan kawan-kawan pada 23 September 2020, tepatnya di Perairan Tambisan Tungku Lahad Datu.

Kali ini, kejadiannya berlangsung pada Kamis (16/1/2019) pukul 20.00 waktu setempat.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X