Oligarki, Ketimpangan Ekonomi, dan Imajinasi Politik Kita

Kompas.com - 07/03/2018, 06:46 WIB
Ilustrasi KOMPAS.com/LAKSONO HARI WIlustrasi

Jawabannya sederhana, yakni hilangnya kepercayaan kepada politisi. Masyarakat berpikir, "Untuk apa aku dukung seorang calon dengan sungguh-sungguh toh dia belum tentu akan memperjuangankan nasibku, maka lebih baik aku ambil uangnya selagi bisa."

Studi terkini menunjukkan bahwa pemilih kita semakin pragmatis bahkan hingga level pemilihan kepala desa. Pragmatisme dan musnahnya kepercayaan yang akut itu membuat mereka berprinsip, "Ambil saja uangnya, namun jangan coblos orangnya."

Biaya politik tinggi ini melahirkan dampak lainnya, yaitu maraknya korupsi elite politik yang membuat mereka berakhir di hotel prodeo.

Mencermati semua uraian di atas, maka lebih dari kemiskinan, ketimpangan ekonomi, korupsi ataupun hancurnya kepercayaan di antara kita, bagi saya akibat oligarki yang paling mencemaskan adalah musnahnya imajinasi politik dan daya kreatif kita.

Ya, kita begitu terbiasa hidup dengan semunya itu, sehingga perlahan kita melihat semuanya sebagai normal. Kita melihat semua itu sebagai takdir yang terberi, seperti matahari yang selalu terbit dari timur dan tenggelam di barat.

Kita kehilangan imajinasi tentang bagaimana ketimpangan itu bisa dihapuskan, juga korupsi dan oligraki. Dan barangkali, kita bahkan kehilangan kepercayaan, atau sama sekali tak kepikiran, bahwa ketimpangan itu adalah konstruksi sosial, demikian juga dengan korupsi dan oligraki. Dia bukan pemberian alam seperti halnya matahari dan udara.

Kita terlalu terbiasa dengan "vote buying" dalam pemilu sehingga kehilangan imajinasi dan kepercayaan tentang adanya kemungkinan cara lain dalam memenangkan hati pemilih dan pemilu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kita terbiasa dengan berita korupsi, sehingga kita kehilangan imajinasi dan kepercayaan bahwa cara berpolitik yang berbeda adalah mungkin dan bisa kita lakukan.

Kita membaca kisah bayi Debora yang meninggal karena dianggap tak mampu membayar sehingga ditolak rumah sakit tanpa rasa getir.

Kita mendengar kabar 72 balita meninggal di Papua dan ratusan lainnya sakit parah karena gizi buruk sebagaimana kita baca di media belum lama ini tanpa rasa iba (Tempo, 12-18 Februari 2018).

Sama seperti halnya di lampu-lampu merah atau di stasiun-stasiun kereta, kita melihat seorang ibu yang mengemis dengan bayi di gendongnya dengan tiada lagi ada rasa bersalah.

Tanpa sama sekali terbit kesadaran ataupun sekadar pertanyaan bahwa jangan-jangan kita semua turut andil dalam mereproduksi struktur sosial yang timpang ini sehingga fakir miskin dan anak terlantar kita biarkan berjuang di atas aspal di bawah terik kota.

Di sini, ilustrasi awal saya di muka tentang kehidupan di Belanda menjadi penting. Saya tidak hendak mengatakan bahwa di Belanda semua serba indah. Negara itu punya masalahnya sendiri.

Belanda tidak sendirian. Ada negara-negara Eropa Barat lain, seperti Jerman, Norwegia dan Finlandia, di mana prinsip keadilan sosial juga diberlakukan bahkan dalam level yang baik lagi.

Namun, mereka memiliki imajinasi politik sedemikian rupa yang melahirkan sebuah kehidupan dengan keadilan ekonomi jadi pemandangan normal sehari-hari.

Ya, problem politik kita, menurut saya, adalah keringnya imajinasi dan daya kreatif para pemimpin bangsa. Sehingga, kita tak mampu keluar dari jebakan-jebakan masalah sosial yang memenjara hidup kita sehari-hari.

Akhirnya, sebagaimana dituturkan dengan indah oleh Ben Anderson (1983), sebuah bangsa lahir karena ada sekelompok manusia yang, meskipun tidak pernah bertemu satu sama lain, membayangkan diri mereka sebagai sama-sama bagian dari sebuah bangsa.

Dua ratus atau bahkan seratus tahun tahun yang lalu, saat Nusantara masih berupa kerjaan yang terpisah, ide akan sebuah bangsa bernama Indonesia adalah imaji yang tampak seperti utopia. Namun, kini sebuah bangsa bernama Indonesia telah hampir berusia tiga per empat abad.

Hari ini, imaji akan sebuah bangsa yang berkeadilan dan bebas dari oligarki, korupsi, dan ketimpangan ekonomi itu mungkin tampak seperti utopia.

Namun, jika setiap warga negara telah memulai membayangkan hal itu secara bersama-sama hari ini, maka perwujudan akan imajinasi itu hanyalah masalah waktu. Semoga anak cucu kita kelak bisa menikmatinya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sosok Ali Kalora, Pemimpin Kelompok Teroris Poso yang Dikabarkan Tewas

Sosok Ali Kalora, Pemimpin Kelompok Teroris Poso yang Dikabarkan Tewas

Nasional
Muhammad Kece Diduga Dianiaya Napoleon Bonaparte di Rutan Bareskrim Polri

Muhammad Kece Diduga Dianiaya Napoleon Bonaparte di Rutan Bareskrim Polri

Nasional
Teroris Poso Ali Kalora dan Jaka Ramadhan Tewas dalam Baku Tembak

Teroris Poso Ali Kalora dan Jaka Ramadhan Tewas dalam Baku Tembak

Nasional
Spesifikasi Kapal Perang Arrowhead-140 yang Akan Dibuat Indonesia dengan Desain dari Inggris

Spesifikasi Kapal Perang Arrowhead-140 yang Akan Dibuat Indonesia dengan Desain dari Inggris

Nasional
UPDATE 18 September: Sebaran 3.385 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi Jawa Timur

UPDATE 18 September: Sebaran 3.385 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi Jawa Timur

Nasional
UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Mencapai 21,47 Persen

UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Mencapai 21,47 Persen

Nasional
UPDATE: 276.094 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate dengan PCR 5,79 Persen

UPDATE: 276.094 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate dengan PCR 5,79 Persen

Nasional
UPDATE 18 September: Ada 364.144 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 18 September: Ada 364.144 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE: Bertambah 7.076, Total Kasus Sembuh dari Covid-19 Kini 3.983.140

UPDATE: Bertambah 7.076, Total Kasus Sembuh dari Covid-19 Kini 3.983.140

Nasional
UPDATE 18 September: 65.066 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 18 September: 65.066 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 18 September: Bertambah 185, Pasien Covid-19 yang Meninggal Dunia Jadi 140.323

UPDATE 18 September: Bertambah 185, Pasien Covid-19 yang Meninggal Dunia Jadi 140.323

Nasional
UPDATE: Bertambah 3.385 Orang, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 4.188.529

UPDATE: Bertambah 3.385 Orang, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 4.188.529

Nasional
Indonesia Akan Bangun 2 Unit Kapal Frigate dari Desain Babcock Inggris

Indonesia Akan Bangun 2 Unit Kapal Frigate dari Desain Babcock Inggris

Nasional
Menkes Optimistis Suntikan Vaksin Covid-19 Capai 2 Juta Dosis Sehari pada September

Menkes Optimistis Suntikan Vaksin Covid-19 Capai 2 Juta Dosis Sehari pada September

Nasional
Pemerintah Diminta Bersikap Tegas soal Pembangunan Kapal Selam Nuklir Australia

Pemerintah Diminta Bersikap Tegas soal Pembangunan Kapal Selam Nuklir Australia

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.