Kompas.com - 30/06/2014, 16:32 WIB
Mantan Kepala Divisi Konstruksi I PT Adhi Karya (PT AK) Teuku Bagus Mokhmad Noor KOMPAS.COM/DIAN MAHARANIMantan Kepala Divisi Konstruksi I PT Adhi Karya (PT AK) Teuku Bagus Mokhmad Noor
|
EditorLaksono Hari Wiwoho


JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Kepala Divisi Konstruksi I PT Adhi Karya (PT AK), Teuku Bagus Mokhamad Noor, mengaku pernah dimintai uang senilai Rp 2,2 miliar untuk mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Uang itu diberikan melalui salah satu deputi di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Muchayat, anak Muchayat, Munadi Herlambang, dan Direktur Operasi PT AK Indrajaya Manopol.

"Kalau enggak salah, sejumlah Rp 2,2 miliar sekian itu lewat tiga orang. Rp 500 juta lewat Saudara Indrajaya Manopol. Indrajaya meminta saya untuk Pak Anas," ujar Teuku Bagus saat bersaksi untuk Anas di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (30/6/2014).

Menurut Teuku Bagus, Indrajaya dan Anas saling kenal karena tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setelah itu, kata Teuku Bagus, Muchayat juga meminta Rp 200 juta untuk kepentingan Kongres Partai Demokrat 2010. Sementara itu, melalui Munadi, diberikan bon sementara sebesar Rp 1,5 miliar dalam beberapa tahap.

"Munadi minta ke kami untuk membantu pelaksanaan Kongres Demokrat di Bandung dan dana tersebut oleh Munadi direncanakan untuk membayar hotel," kata Teuku Bagus. Dalam kongres tersebut, Anas menjadi salah satu kandidat ketua umum.

Teuku Bagus juga menjelaskan bahwa permintaan uang tersebut dikeluarkan dengan bon sementara ke perusahaan dan dibebankan dari proyek-proyek lain, seperti biofarma dan pembangunan Gedung DPR RI.

Anas didakwa menerima hadiah atau janji terkait proyek Hambalang dan proyek lain. Menurut jaksa, mulanya Anas berkeinginan menjadi calon presiden RI sehingga berupaya mengumpulkan dana. Anas disebut menerima 1 unit mobil Toyota Harrier B 15 AUD senilai Rp 670 juta, 1 unit mobil Toyota Vellfire B 69 AUD senilai Rp 735 juta, serta uang Rp 116,525 miliar, dan 5,261 juta dollar Amerika Serikat. Ia juga disebut mendapat fasilitas survei gratis dari PT Lingkaran Survei Indonesia senilai Rp 478, 632 juta. Anas juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang sebesar Rp 20,8 miliar dan Rp 3 miliar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.