Agenda Tak Jelas, Walhi dan AMAN Tolak Hadiri Undangan Istana

Kompas.com - 24/11/2020, 13:22 WIB
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati usai mengisi diskusi di bilangan Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (22/2/2020). KOMPAS.com/Dian Erika Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati usai mengisi diskusi di bilangan Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (22/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi) dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ( AMAN) memutuskan tak menghadiri undangan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (23/11/2020).

Direktur Eksekutif Walhi, Nur Hidayati mengatakan, agenda pertemuan tersebut tidak jelas.

Sebab, undangan pertemuan sebelumnya dikirimkan salah seorang petugas protokoler Istana melalui Whatsapp pada Kamis (19/11/2020). Namun, undangan itu tidak menjelaskan mengenai agenda pertemuan tersebut.

"Walhi memutuskan untuk tidak hadir karena beberapa alasan. Pertama, ketidakjelasan agenda pertemuan, kami sudah menanyakan apa agenda dari pertemuan ini, tetapi dijawab oleh protokoler Istana yang mengirimkan Whatsapp bahwa kami tidak diberikan informasi soal agenda tersebut," ujar perempuan yang biasa disapa Yaya dalam konferensi virtual, Selasa (24/11/2020).

Hidayati menegaskan, agenda pertemuan sangat penting diketahui karena hal itu akan menentukan topik percakapan dalam pertemuan bersama Presiden.

Baca juga: Perampasan Hutan Adat di Papua, Walhi: Siapa yang Sebenarnya Dilindungi Negara?

 

Karena ketidakjelasan agenda inilah yang menjadi alasan kuat bagi Walhi untuk memutuskan tak menghadiri undangan di Istana.

"Karena ketidakjelasan inilah menjadi alasan yang cukup kuat bagi kami untuk tidak menghadiri, selain juga melihat konteks kekinian," tegas Hidayati.

Sementara itu, Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi mengaku heran. Sebab, pihaknya dan jaringan organisasi masyarakat lainnya selama ini tidak pernah meminta pertemuan dengan Presiden.

Ia menduga undangan ini sebagai klaim sepihak Istana untuk mengundang sejumlah organisasi masyarakat sipil.

"Kami sebenarnya khawatir dengan situasi ini karena ternyata disebut 'menerima'. Padahal kita tidak pernah meminta untuk datang ke Istana," terang dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X