Kompas.com - 18/01/2020, 12:22 WIB
Penulis Bayu Galih
|
Editor Bayu Galih

KOMPAS.com - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, sejumlah ornamen bernuansa Tionghoa mulai terlihat terpajang di sejumlah kota di Indonesia.

Kelenteng mulai berhias. Lampion-lampion yang sebagian besar berwarna merah juga terlihat menggantung menghiasi kota, seperti Jakarta, Medan, Solo, dan Surabaya.

Imlek atau perayaan tahun baru berdasarkan penanggalan yang berpijak pada pergerakan bulan memang lekat dengan bangsa Tionghoa. Tradisi ini dipegang keturunan Tionghoa di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Bangsa China memang memiliki peran besar dalam peradaban dunia, terutama daya jelajah masyarakatnya ke pelosok dunia.

Baca juga: Peran Gus Dur di Balik Kemeriahan Imlek...

Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa historiografi atau penulisan sejarah Indonesia tidak lepas dari peran bangsa China di Indonesia.

Aktivitas kerajaan di Nusantara misalnya, yang sudah terekam dalam jurnal atau catatan penjelajah China sejak abad ke-4 hingga abad ke-7.

Dengan demikian, tidak heran jika kemudian aktivitas masyarakat Tionghoa di Nusantara juga berkembang.

Hingga kemudian, masyarakat Tionghoa juga berkontribusi dan memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Baca juga: Memahami Tradisi dan Kepercayaan Terkait Perayaan Imlek...

Temuan arkeologi

Hingga saat ini masih sulit untuk memastikan secara pasti mengenai keberadaan bangsa China di Indonesia. Dugaan awal masuknya bangsa China di Nusantara diketahui berkat penemuan benda arkeologi.

Dilansir dari buku Tionghoa dalam Pusaran Politik yang ditulis sejarawan Benny G Setiono, penemuan benda kuno yang memperlihatkan awal masuknya bangsa China antara lain tembikar di Jawa Barat, Lampung, dan Kalimantan Barat; juga kapak batu dari zaman Neolitikum.

Artefak itu memperlihatkan kesamaan dengan yang ditemukan di China pada periode yang sama.Baca juga: Cerita Orang Indonesia yang Merayakan Imlek di Swiss...

Satu keluarga etnis Tionghoa melakukan ritual Kias Pangsen atau pelepasan mahluk hidup di Vihara Boen San Bio, Tangerang, Banten, Kamis (16/1/2019). Ritual Pangsen merupakan ritual yang dilakukan jelang Tahun Baru Imlek, untuk mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan saat tahun baru.ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL Satu keluarga etnis Tionghoa melakukan ritual Kias Pangsen atau pelepasan mahluk hidup di Vihara Boen San Bio, Tangerang, Banten, Kamis (16/1/2019). Ritual Pangsen merupakan ritual yang dilakukan jelang Tahun Baru Imlek, untuk mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan saat tahun baru.

Penemuan lainnya adalah genderang perunggu berukuran besar di Sumatera Selatan, yang termasuk dalam budaya Dongson atau Heger Type I pada periode 600 SM hingga abad ke-3 Masehi.

Nama Dongson diambil dari desa kecil di Thanh Hoa, Teluk Tonkin, di sebelah utara Vietnam.

Genderang perunggu dengan tinggi sekitar 1 meter dan berat lebih dari 100 kg itu memiliki kesamaan dengan genderang perunggu asal China yang berasal dari masa Dinasti Han.

Penemuan sejumlah benda arkeologi itu memperlihatkan bahwa ada kemungkinan terjadi lalu lintas pelayaran yang dilakukan masyarakat Tionghoa di China dengan masyarakat Nusantara.

Baca juga: Perayaan Imlek bagi Muslim Tionghoa di Indonesia...

Dugaan itu juga didukung dengan berbagai kronik dan cerita dari Dinasti Han, terutama pada masa pemerintahan Kaisar Wang Ming atau Wang Mang (6 SM - 1 SM).

Pada masa itu, bangsa China mengenal Nusantara dengan sebutan Huang Tse.

Perkembangan lebih lanjut adalah dengan penemuan adanya koloni masyarakat Tionghoa di Tuban, Gresik, Jepara, dan Lasem pada pemerintahan Kerajaan Airlangga. Penemuan serupa juga terdapat di Banten.

Masyarakat Tionghoa dapat bermukim dan menjadi koloni setelah mereka mampu beradaptasi dan diterima dengan masyarakat setempat. Koloni itu kemudian terus berkembang hingga terjadi pembauran.

Baca juga: Grebeg Sudiro, Wujud Harmonisasi Pembauran Budaya Jawa-Tionghoa

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Imlek, Kemeriahan yang Dulu Terlarang

Sejumlah warga etnis Tionghoa menggelar ritual tolak bala di Vihara Dharmayana Kuta, Bali, Senin (4/2/2019). Ritual tersebut dilakukan untuk menetralisir aura negatif serta penyucian menyambut Tahun Baru Imlek 2570.ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF Sejumlah warga etnis Tionghoa menggelar ritual tolak bala di Vihara Dharmayana Kuta, Bali, Senin (4/2/2019). Ritual tersebut dilakukan untuk menetralisir aura negatif serta penyucian menyambut Tahun Baru Imlek 2570.

Historiografi

Bangsa China memiliki peran besar dalam historiografi Indonesia. Salah satu tokoh yang mencatat mengenai eksistensi Nusantara atau Indonesia sejak awal adalah Fa Hian, yang dikenal juga sebagai Fa Hsien, Fa Hien, atau Faxian.

Benny G Setiono menulis bahwa Fa Hian yang merupakan seorang pendeta atau biksu itu mengunjungi Pulau Jawa pada 399-414. Saat itu dia dalam perjalanan menuju India.

Perjalanan Fa Hian itu ditulis dalam buku berjudul Fahueki. Jejak penjelajahan Fa Hian itu kemudian diikuti oleh Sun Yun dan Hwui Ning dalam perjalanan ziarah menuju India.

Catatan perjalanan lain yang memperlihatkan eksistensi Nusantara dalam ekspedisi bangsa China adalah yang ditulis oleh I Tsing.

Baca juga: Peran Prajurit Tionghoa dalam Perkembangan TNI...

Pada 671, Pendeta I Tsing berangkat dari Canton menuju Nalanda di India. Perjalanan itu ditulis secara detail dalam buku Nan Hai Chi Kuei Fa Ch'uan dan Ta T'ang Si Yu Ku Fa Kao Seng Ch'uan.

Secara spesifik, arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam buku Arkeologi Islam Nusantara (2009) menulis bahwa I Tsing dalam perjalanan dari India singgah di Shih Li Fo Shih, yang dikenal juga sebagai San Fo Tsi atau Fo Shih.

Arkeolog dan sejarawan George Coedes mengidentifikasi Shih Li Fo Shih sebagai Sriwijaya. Identifikasi ini sebagaimana dikenali dalam prasasti tertua Kadatuan Sriwijaya di Sumatera Selatan.

Baca juga: Petak Sembilan, Pecinan Jakarta yang Bersolek Menjelang Imlek...

Sejumlah catatan sejarah itu menginspirasi para penjelajah China untuk mendatangi Nusantara. Salah satu penjelajah China yang kemudian memiliki pengaruh besar dalam perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah Laksamana Cheng Ho.

Uka Tjandrasasmita menulis bahwa ekspedisi China yang dipimpin Laksamana Cheng Ho dilakukan sejak pemerintahan Dinasti Ming di bawah Kaisar Cheng Tsu (1403-1424).

Cheng Ho disebut bertujuan untuk meyakinkan kerajaan di wilayah Laut Selatan dan Barat untuk mengakui Kekaisaran China. Perjalanan itu kemudian tercatat dalam jurnal berjudul Ying-Yai Sheng-Lan yang diterjemahkan oleh JVG Mills (1970).

Sejumlah catatan sejarah itu memperlihatkan bahwa masyarakat Tionghoa sudah ada sejak lama dan menjadi bagian penting dalam terbentuknya masyarakat Indonesia di masa depan.

Catatan Redaksi:

Bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek, Kompas.com menghadirkan sejumlah artikel mengenai masyarakat Tionghoa dalam sejarah Indonesia.

Ini merupakan bagian dari upaya merawat ingatan akan pentingnya peran masyarakat Tionghoa dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Dengan demikian, Indonesia sebagai bangsa dapat lebih menghargai keanekaragaman, dengan segala perbedaan yang ada di dalamnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hukum Poligami di Indonesia

Hukum Poligami di Indonesia

Nasional
Tanggal 7 Juli Hari Memperingati Apa?

Tanggal 7 Juli Hari Memperingati Apa?

Nasional
Komisioner Komnas Perempuan: Buya Syafii Maarif Feminis Muslim Indonesia...

Komisioner Komnas Perempuan: Buya Syafii Maarif Feminis Muslim Indonesia...

Nasional
Aturan soal Penghinaan Presiden Masuk RKUHP, Ini Bedanya dengan Pasal yang Lama

Aturan soal Penghinaan Presiden Masuk RKUHP, Ini Bedanya dengan Pasal yang Lama

Nasional
Jokowi Diharapkan Bikin Perppu Atur Pemilu di IKN dan 3 Provinsi Baru Papua

Jokowi Diharapkan Bikin Perppu Atur Pemilu di IKN dan 3 Provinsi Baru Papua

Nasional
Warga Brebes Ini Tak Kuat Menahan Tangis Setelah Dapat Bantuan Renovasi Rumah dari Puan Maharani

Warga Brebes Ini Tak Kuat Menahan Tangis Setelah Dapat Bantuan Renovasi Rumah dari Puan Maharani

Nasional
Dugaan Penyimpangan Dana di ACT dan Peringatan Pemerintah

Dugaan Penyimpangan Dana di ACT dan Peringatan Pemerintah

Nasional
Korban Desak DPR Bentuk Pansus untuk Revisi UU ITE

Korban Desak DPR Bentuk Pansus untuk Revisi UU ITE

Nasional
BNPT: ACT Belum Masuk Daftar Terduga Terorisme, Hasil Temuan PPATK Didalami

BNPT: ACT Belum Masuk Daftar Terduga Terorisme, Hasil Temuan PPATK Didalami

Nasional
BEM UI Anggap Ketentuan Unjuk Rasa di RKUHP Rawan Kriminalisasi, Ini Penjelasan Tim Sosialisasi

BEM UI Anggap Ketentuan Unjuk Rasa di RKUHP Rawan Kriminalisasi, Ini Penjelasan Tim Sosialisasi

Nasional
Jemaah Haji Indonesia Diimbau Tidak Stres Jelang Wukuf di Arafah

Jemaah Haji Indonesia Diimbau Tidak Stres Jelang Wukuf di Arafah

Nasional
Dompet Dhuafa Gandeng BNPB Dirikan UDM untuk Tanggulangi Bencana Perkotaan

Dompet Dhuafa Gandeng BNPB Dirikan UDM untuk Tanggulangi Bencana Perkotaan

Nasional
Alasan Pemerintah Pertahankan Pasal Penghinaan Presiden dalam RKUHP

Alasan Pemerintah Pertahankan Pasal Penghinaan Presiden dalam RKUHP

Nasional
Puan Belum Jalankan Perintah Mega Kunjungi Parpol-parpol, Wasekjen PDI-P Singgung soal 'Timing'

Puan Belum Jalankan Perintah Mega Kunjungi Parpol-parpol, Wasekjen PDI-P Singgung soal "Timing"

Nasional
Wapres: Tinggalkan Mindset BUMN Akan Selalu Diselamatkan apabila Berkasus

Wapres: Tinggalkan Mindset BUMN Akan Selalu Diselamatkan apabila Berkasus

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.