Istri dan Keponakan Bupati Bengkulu Selatan Diduga Penampung Uang Suap - Kompas.com

Istri dan Keponakan Bupati Bengkulu Selatan Diduga Penampung Uang Suap

Kompas.com - 16/05/2018, 21:38 WIB
Petugas KPK menampilkan barang bukti uang terkait operasi tangkap tangan di Bengkulu Selatan dalam jumpa pers di Gedung KPK Jakarta, Rabu (16/5/2018).KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN Petugas KPK menampilkan barang bukti uang terkait operasi tangkap tangan di Bengkulu Selatan dalam jumpa pers di Gedung KPK Jakarta, Rabu (16/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) tidak hanya menetapkan Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud sebagai tersangka. KPK juga menetapkan dua anggota keluarga Dirwan sebagai tersangka penerima suap.

Keduanya yakni istri Dirwan, Hendrati, dan keponakan Dirwan, Nursilawati. Adapun, Nursilawati merupakan Kepala Seksi di Dinas Kesehatan Pemkab Bengkulu Selatan.

Menurut Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, Hendrati dan Nursilawati diduga berperan sebagai penampung uang suap dari Juhari, kontraktor di Bengkulu Selatan.

Diduga, Dirwan telah berkomunikasi dengan Juhari mengenai mekanisme penyerahan uang.

"Informasinya, Bupati bilang, 'uang jangan diserahkan ke saya, tapi serahkan ke HEN atau NUR'," ujar Basaria dalam jumpa pers di Gedung KPK Jakarta, Rabu (16/8/2018).

Baca juga: Bupati Bengkulu Selatan Diduga Terima Suap Rp 98 juta Terkait Proyek Jalan dan Jembatan

Menurut Basaria, pada 12 Mei 2018 Juhari menyerahkan uang Rp 23 juta kepada Nursilawati. Uang tersebut kemudian diserahkan kepada Hendrati.

Kemudian, pada 15 Mei 2018, Juhari menyerahkan uang Rp 75 juta kepada Nursilawati. Uang secara tunai itu diberikan langsung di kediaman Hendrati.

Kompas TV KPK menangkap bupati dan menyita uang tunai.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Terkini Lainnya

Ombudsman Sebut Penghentian Layanan Publik Di Bekasi Terbukti dan Dilakukan Sistematis

Ombudsman Sebut Penghentian Layanan Publik Di Bekasi Terbukti dan Dilakukan Sistematis

Megapolitan
Ibu yang Ditahan di Bandara Dubai Mengaku Diperlakukan Tak Manusiawi

Ibu yang Ditahan di Bandara Dubai Mengaku Diperlakukan Tak Manusiawi

Internasional
Beredar Video Kepala Korps Brimob Polri Beri Sambutan sebagai Kapolda Metro Jaya, Ini Kata Polisi

Beredar Video Kepala Korps Brimob Polri Beri Sambutan sebagai Kapolda Metro Jaya, Ini Kata Polisi

Megapolitan
Ridwan Kamil Ajak Pemerintah Inggris Kerja Sama di Bidang Transportasi

Ridwan Kamil Ajak Pemerintah Inggris Kerja Sama di Bidang Transportasi

Regional
Obor Asian Games 2018 Tiba di Balai Kota

Obor Asian Games 2018 Tiba di Balai Kota

Megapolitan
Peras Kelompok Ternak Rp 36 Juta, KPK Gadungan Ditangkap Polisi

Peras Kelompok Ternak Rp 36 Juta, KPK Gadungan Ditangkap Polisi

Regional
Pengamen Binaan UPK Kota Tua Diminta Tak Beroperasi Saat Kirab Obor Asian Games

Pengamen Binaan UPK Kota Tua Diminta Tak Beroperasi Saat Kirab Obor Asian Games

Megapolitan
Hilang Tiga Hari di Hutan, Bocah Usia 2 Tahun Ditemukan Selamat

Hilang Tiga Hari di Hutan, Bocah Usia 2 Tahun Ditemukan Selamat

Internasional
Diuji Coba Mulai Hari Ini, Kereta LRT Jakarta Melaju 40 km/jam

Diuji Coba Mulai Hari Ini, Kereta LRT Jakarta Melaju 40 km/jam

Megapolitan
Penumpang Keluhkan Perpindahan Jalur KRL Bogor di Stasiun Manggarai, Ini Kata PT KCI

Penumpang Keluhkan Perpindahan Jalur KRL Bogor di Stasiun Manggarai, Ini Kata PT KCI

Megapolitan
Ketua DPR Tegaskan Kualitas UU Lebih Penting Dibandingkan Kuantitas

Ketua DPR Tegaskan Kualitas UU Lebih Penting Dibandingkan Kuantitas

Nasional
Ketua KPK Tanggapi Kritik Wadah Pegawai KPK soal Rotasi Jabatan

Ketua KPK Tanggapi Kritik Wadah Pegawai KPK soal Rotasi Jabatan

Nasional
Pengusutan Dugaan Mahar Sandiaga Diharapkan Menjadi Ajang Klarifikasi

Pengusutan Dugaan Mahar Sandiaga Diharapkan Menjadi Ajang Klarifikasi

Nasional
Ini Tugas Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum

Ini Tugas Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum

Megapolitan
18 Tahun Berdiri, KY Sudah Usulan Sanksi 657 Hakim

18 Tahun Berdiri, KY Sudah Usulan Sanksi 657 Hakim

Nasional
Close Ads X