Era Soeharto Dianggap Lebih Baik dalam Penentuan Puasa dan Lebaran

Kompas.com - 18/08/2013, 17:10 WIB
KOMPAS.com/Indra Akuntono Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Rully Akbar

JAKARTA, KOMPAS.com — Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menemukan fakta menarik dalam penelitian mengenai penentuan awal puasa dan Lebaran. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa di era kepemimpinan Presiden Soeharto penentuan waktu tersebut dianggap lebih baik ketimbang era pemimpin setelahnya.

Peneliti LSI, Rully Akbar, menyatakan, era kepemimpinan Soeharto dianggap lebih baik karena tak ada kegaduhan dalam penentuan awal puasa dan Lebaran. Ia mengatakan, pemimpin setelah Orde Baru dianggap paling heboh dalam menentukan awal puasa dan Lebaran karena masyarakat semakin kritis menyikapi hal-hal yang diekspos.

Hasil penelitian LSI mencatat, hanya 12,42 persen masyarakat responden yang menganggap keterlibatan pemerintah di era reformasi baik. Hal itu berbanding jauh karena 51,08 persen responden menganggap pemerintah Orde Baru lebih baik dalam menentukan waktu tersebut.

"Bahkan, pemerintah Orde Lama dianggap lebih baik karena 36,50 persen responden menyatakan itu," kata Rully dalam jumpa pers di Kantor LSI, Jakarta, Minggu (18/8/2013).

LSI mengadakan survei khusus mengenai penentuan awal Ramadhan dan hari raya Idul Fitri melalui quick poll pada 13-14 Agustus 2013. Survei itu menggunakan metode multistage random sampling dengan 1.200 responden dan margin error sekitar 2,9 persen.

Survei ini dilakukan di 33 provinsi di Indonesia untuk memperkuat data dan analisis. LSI juga melengkapi survei dengan penelitian kualitatif dan metode analisis media, focus group discussion, serta wawancara mendalam.

LSI mengadakan survei ini karena merasa publik perlu diketahui keinginannya terkait penentuan awal Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Selama ini hal itu hanya menjadi perdebatan antarormas dan ulama tanpa pernah mengekplorasi persepsi mayoritas publik Indonesia mengenai polemik awal puasa dan Lebaran.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorLaksono Hari Wiwoho

Close Ads X