Berkas Siti Fadillah Masih Bolak-Balik Polri-Kejaksaan

Kompas.com - 20/11/2012, 18:17 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com - Kejaksaan Agung mengaku, berkas kasus dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan tahun 2005 dengan tersangka mantan Menteri Kesehatan RI, Siti Fadillah Supari, hingga saat ini belum dinyatakan lengkap (P19). Kejaksaan sudah lima kali meminta penyidik Polri untuk melengkapi berkas tersebut.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAMPidsus) Andhi Nirwanto mengatakan, jika berkas dinyatakan lengkap, maka akan langsung naik ke tahap penuntutan. "Masih belum lengkap. Kalau sudah bolak-balik, itu nanti sudah langsung ke penuntutan," ujar Andhi seusai Rapat Kerja Kejaksaan RI di Hotel Yasmin, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (20/11/2012).

Andhi enggan mengungkap petunjuk apa yang diberikan pada penyidiik Polri. "Petunjuk yang pasti kelengkapan berkaslah," ujar Andhi.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar mengaku, penyidik Polri sudah maksimal untuk melengkapi berkas dengan petunjuk yang diberikan Kejagung. "Dilengkapi, balik lagi. Kirim lagi, balik lagi. Berkasnya memang bolak-balik karena kondisi seperti itu, ya, penyidik berupaya semaksimal mungkin (melengkapi)," ujar Boy di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Boy tak dapat menjelaskan lebih rinci perihal petunjuk Kejaksaan yang harus dilengkapi penyidik Polri. Sebelumnya, menurut Boy, berkas dinyatakan belum lengkap karena kurangnya bukti materiil. "Kita tidak bisa jelaskan, tapi kondisinya dalam upaya melengkapi pemeriksaan. Yang sudah ada biasanya, penambahan pemeriksaan atau penambahan pertanyaan kepada orang tertentu. Itu bisa seperti itu," ujar Boy.

Berkas perkara Siti diterima tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Agung pada 26 April 2012. Setelah itu, berkas perkara yang dilengkapi penyidik Bareskrim Polri dinyatakan belum lengkap oleh JPU. Berdasarkan KUHAP, penyidik Polri memiliki waktu 14 hari untuk melengkapi berkas dan melimpahkannya kembali ke Kejagung. Siti pun berbulan-bulan menyandang status tersangka sejak ditetapkan pada 28 Maret 2012 lalu.

Sebelumnya, Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Komisaris Jenderal Sutarman mengaku tidak akan mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas kasus tersebut. Sutarman menambahka,n kasus tersebut dimungkinkan untuk P22 atau dilakukan pemeriksaan kembali.

Siti dituduh turut serta dalam kasus itu karena menyalahgunakan wewenangnya dalam metode penunjukan langsung perusahaan rekanan untuk proyek pengadaan alat kesehatan buffer stock senilai lebih dari Rp 15 miliar untuk kejadian luar biasa (KLB) tahun 2005 di Depkes. Kerugian negara akibat kasus ini diduga mencapai Rp 6.148.638.000. Penyidik mengenakan Pasal 2 dan Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi serta Pasal 56 KUHP terhadap Siti Fadillah.

Baca tentang


    Rekomendasi untuk anda
    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Epidemiolog Sayangkan Tak Ada Pengumuman ke Publik Saat Airlangga Idap Covid-19

    Epidemiolog Sayangkan Tak Ada Pengumuman ke Publik Saat Airlangga Idap Covid-19

    Nasional
    Kemensos Beri Trauma Healing Korban Gempa Sulawesi Barat

    Kemensos Beri Trauma Healing Korban Gempa Sulawesi Barat

    Nasional
    Hakim Sebut Andi Irfan Jaya Pembuat Action Plan untuk Bebaskan Djoko Tjandra

    Hakim Sebut Andi Irfan Jaya Pembuat Action Plan untuk Bebaskan Djoko Tjandra

    Nasional
    Perantara Suap Djoko Tjandra ke Jaksa Pinangki Divonis 6 Tahun Penjara

    Perantara Suap Djoko Tjandra ke Jaksa Pinangki Divonis 6 Tahun Penjara

    Nasional
    BNPB Distribusikan Bantukan ke 4 Desa Terisolasi akibat Gempa Sulbar

    BNPB Distribusikan Bantukan ke 4 Desa Terisolasi akibat Gempa Sulbar

    Nasional
    Menaker Sebut 3 RPP Ketenagakerjaan UU Cipta Kerja dalam Penyempurnaan

    Menaker Sebut 3 RPP Ketenagakerjaan UU Cipta Kerja dalam Penyempurnaan

    Nasional
    Kontroversi Swab Test Rizieq Shihab, Bima Arya Bakal Sanksi RS Ummi

    Kontroversi Swab Test Rizieq Shihab, Bima Arya Bakal Sanksi RS Ummi

    Nasional
    Soal Mobil Jokowi di Kalsel, Istana: Itu Hanya Genangan Air, Tak Halangi Presiden

    Soal Mobil Jokowi di Kalsel, Istana: Itu Hanya Genangan Air, Tak Halangi Presiden

    Nasional
    Airlangga Hartarto Penyintas Covid-19, Pejabat Publik Diminta Terbuka jika Terpapar

    Airlangga Hartarto Penyintas Covid-19, Pejabat Publik Diminta Terbuka jika Terpapar

    Nasional
    Kasus Kontroversi 'Swab Test', Bima Arya Ditanya Kronologi Rizieq Shihab Dirawat di RS Ummi

    Kasus Kontroversi "Swab Test", Bima Arya Ditanya Kronologi Rizieq Shihab Dirawat di RS Ummi

    Nasional
    Ketua PMI Jusuf Kalla Ajak Penyintas Covid-19 Donor Plasma Konvalesen

    Ketua PMI Jusuf Kalla Ajak Penyintas Covid-19 Donor Plasma Konvalesen

    Nasional
    Diperiksa KPK, Gubernur Bengkulu Bantah Terlibat Kasus Suap Edhy Prabowo

    Diperiksa KPK, Gubernur Bengkulu Bantah Terlibat Kasus Suap Edhy Prabowo

    Nasional
    Vaksinasi Covid-19 Mandiri Dinilai Berpotensi Gagalkan Target Herd Immunity

    Vaksinasi Covid-19 Mandiri Dinilai Berpotensi Gagalkan Target Herd Immunity

    Nasional
    Airlangga Hartarto Penyintas Covid-19, Epidemiolog Ingatkan soal Keterbukaan Pemerintah

    Airlangga Hartarto Penyintas Covid-19, Epidemiolog Ingatkan soal Keterbukaan Pemerintah

    Nasional
    Saat Mobil Jokowi dan Rombongan Terjang Banjir di Kalimantan Selatan

    Saat Mobil Jokowi dan Rombongan Terjang Banjir di Kalimantan Selatan

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X