Juni, Bulan Bung Karno - Kompas.com

Juni, Bulan Bung Karno

Joseph Osdar
Kompas.com - 13/06/2017, 08:27 WIB
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Patung Bung Karno di samping pohon sukun di kompleks Pelabuhan Bung Karno, Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (11/7/2016). Kota ini menyimpan sejarah panjang perihal sepak terjang Ir Soekarno atau Bung Karno selama empat tahun (14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938) menjalani pengasingan.

Tanggal 1 Juni 2010, saya menulis kembali pengalaman saya meliput acara haul Bung Karno ke-31 di Blitar, Jawa Timur. Tulisan ini dimuat di Harian Kompas  halaman 2 dalam rubrik Sisi Lain Istana, di bawah judul "Aroma Bung Karno".

Pada kalimat awal artikel ini saya tuliskan, "Juni adalah bulan Bung Karno". Sehari kemudian, di jalan depan sayap kanan gedung Redaksi Harian Kompas, Pal Merah Selatan, Jakarta Pusat, terpasang spanduk bertuliskan, "Juni Bulan Bung Karno". Saya tidak tahu siapa yang memasang spanduk ini. Seminggu kemudian spanduk itu tidak ada lagi.

Alasan saya menulis kalimat, "Juni adalah bulan Bung Karno" terkait dengan tiga peristiwa penting tentang Presiden RI pertama yang terjadi pada bulan itu.

Tanggal 1 Juni 1901, Bung Karno lahir di Surabaya, bukan di Blitar seperti dalam artikel saya tanggal 1 Juni 2010. Tanggal 1 Juni 1945, di depan siding Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan atau BPUPKI, Bung Karno diminta pidato tentang dasar Negara. Bung Karno menyampaikan gagasannya tentang Pancasila. BPUPKI secara aklamasi bulat menyetujui gagasan Bung Karno tentang Pancasila ditetapkan sebagai dasar Negara Indonesia.

Kemudian, Minggu pagi pukul 07.00 waktu Jakarta,  tanggal 21 Juni 1971, Bung Karno wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat atau RSPAD Jakarta. Hari itu juga, pada petang hari jenazah Bung Karno dimakamkan di Blitar. Saat itu, seluruh warga bangsa Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang. Bung Karno wafat persis 15 hari setelah ulang tahunnya yang ke-69.

Pada Juni 1987, saya meliput acara haul Bung Karno ke-17 di Jakarta. Dalam acara itu dibagi buku berjudul "17 Tahun Yang Lalu – Bung Karno wafat – 21 Juni 1970".
 
Buku dengan sampul depan foto Bung Karno dan latarbelakang bendera Merah Putih itu memuat beberapa artikel dan kliping koran serta majalah luar dan dalam negeri yang memberitakan Bung Karno wafat 21 Juni 1970  lalu. Perlu dicatat, tahun 1987 adalah masa gencarnya aksi "desukarnoisasi" oleh Orde Baru.  

Beberapa artikel di antaranya adalah tulisan Menteri Penerangan jaman pemerintahan Bung Karno dan Soeharto  Burhanuddin Mohammad Diah alias BM Diah  yang lahir di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), 7 April  1917, dan wafat di Jakarta pada 10 Juni 1996 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

BM Diah jadi Menteri Penerangan pada masa Bung Karno, 25 Juli 1966 sampai 17 Oktober 1967, dan masa Soeharto, 17 Oktober 1967 sampai 1968. Ia juga terkenal dengan julukan wartawan tiga jaman yang pernah menjadi duta besar di Cekoslowakia, Hongaria dan Inggris.

Di bawah judul, "Bung Karno Bapak Kemerdekaan", BM Diah antara lain mengatakan, Bung Karno adalah arsitek dari Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.

"Tanpa Soekarno tidak ada Satu Indonesia, tidak ada Satu bangsa, tidak ada Indonesia merdeka, tidak ada bendera , tidak ada  lagu Indonesia Raya dan tidak ada satu Undang-undang Dasar 1945," demikian cuplikan tulisannya.

Menurut Diah, dengan Pancasila, Bung Karno menghendaki dunia baru. Ia, Bung Karno, ingin dunia mengambil Pancasila ini sebagai contoh.

"Bung Karno memberikan Pancasila pada dunia, jika sekiranya dunia mau menerimanya," kata BM Diah.

Penulis lainnya adalah Mohammad Isnaeni, yang lahir di Ponorogo, Jawa Timur 19 April 1919 dan wafat di Jakarta pada 27 Oktober 2002. Isnaeni adalah Wakil Ketua DPR/MPR 1966 hingga 1982 dan Dubes RI untuk Rumania 1982 sampai 1983.

Di dalam artikel berjudul "Sekali lagi tentang hari Lahirnya Panca-Sila", Isnaeni mengatakan, "Memang aneh, setelah Bung Karno tidak ada, masalah hari lahirnya Pancasila sekarang dipersoalkan."

Kemudian Isnaeni, antara lain menceritakan pengalamannya hadir sebagai Wakil Ketua DPR/MPR dalam acara peresmian Gedung Pancasila di Departemen Luar Negeri, Jalan Pejambon nomor 6, Jakarta Pusat,  tanggal 20 Agustus 1975. Ketika itu, kata Isnaeni, acara ini ditandai dengan pidato resmi Menteri Luar Negeri Adam Malik yang mengatakan, Pancasila dilahirkan di gedung ini pada 1 Juni 1945.  

"Gedung Pancasila ini punya arti dan nilai yang tidak saja agung, melainkan juga kekal bagi sejarah bangsa dan Negara kita, karena di gedung inilah untuk pertama kali dicanangkan Pancasila, bahkan tempat lahirnya Pancasila pada tanggl 1 Juni 1945 yang kemudian diterima sebagai filsafat Negara kita," kata Adam Malik, wakil presiden RI ke-3 (23 Maret 1978 sampai 11 Maret 1983). Inilah cuplikan pidato Adam Malik 1917 – 1984) yang ditulis Isnaeni dalam artikelnya.

Menurut Isnaeni, hari lahir Pancasila 1 Juni 1945 juga berdasarkan keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau MPR. "Yang dimaksud dengan keputusan  MPR ialah yang dituangkan dalam Ketetapan nomor XX tahun 1966," ujarnya.

Sementara Kepala Staf Angkatan Perang atau KSAP 1950-1953, Letnan Jenderal TNI Purnawirawan TB Simatupang dalam artikel berjudul "Arti Bung Karno bagi masa depan", antara lain mengatakan, "Namun hidup kita sebagai Negara dan bangsa agaknya akan jauh lebih miskin sekiranya dia (Bung Karno) tidak pernah hidup dan berjuang di antara dan bersama-sama dengan kita."

Artikel ini tampaknya diambil dari tulisan di harian sore Sinar Harapan sehari setelah Bung Karno wafat tanggal 21 Juni 1970. Tanggal 8 November 2013 Presiden waktu itu, Susilo Bambang Yudhoyono, menetapkan TB Simatupang menjadi pahlawan nasional.

Artikel surat kabar dan majalah  yang dimuat dalam buku ini antara lain dari Neesweek, 29 Juni 1970. Terjemahannya seperti berikut, "Ketika Bung Karno meninggal pekan lalu setelah kesehatannya memburuk beberapa lama, maka hilanglah pula salah seorang tokoh raksasa dunia di masa sesudah penjajahan."

Awal Juni 2017 ini, ketika sedang antre di sebuah bank swasta di Jakarta Selatan, seorang perempuan muda, pegawai bank ini, Tiara,  bercerita tentang pengalamannya mengikuti rombongan kesenian di Aljazair, Afrita Utara, belum lama berselang.

"Teman-teman dari Eropa dan Afrika banyak yang tidak tahu Indonesia, mereka hanya tahu Bali dan Bung Karno," ujar Tiara.

Hal itu saya sampaikan kepada anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Golongan Karya, Eni Maulani Saragi. "Itu karena Bung Karno diakui sebagai tokoh dunia. Menjadi inisiator gerakan Nonblok. BK, paling karismatik, ganteng dan bisa jadi tokoh bagi semua golongan di sini yang majemuk," ujar Eni di Jakarta, Senin (12/6).

Menteri Koordinator Bidang  Kemaritiman dan Sumber Daya Indonesia 2015-2016, Rizal Ramli, dalam sebuah acara di Jakarta pernah bercerita ketika berbincang-bincang pengemudi taksi di New York, Amerika Serikat.

"Sopir itu tidak tahu Indonesia, tapi tahu Bung Karno," ujarnya.

Kompas TV Bung Karno Baca Isi Pancasila di AS Tahun 1956

EditorAna Shofiana Syatiri

Komentar