Kamis, 30 Maret 2017

Nasional

Beda Keterangan Dirjen Pajak dan Saksi soal Adik Ipar Jokowi

Selasa, 14 Maret 2017 | 11:09 WIB
KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (13/3/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi mengakui adanya pertemuan antara dia dengan Arif Budi Sulistyo, yang juga adik ipar Presiden Joko Widodo.

Hal itu dikatakan Ken saat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan kasus suap di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (13/3/2017).

"Saya kenal saat dia (Arif) ke ruangan saya. Dia bersama Rudi, saya bersama beberapa direktur," ujar Ken kepada jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut Ken, pertemuan yang dilakukan pada September 2016 itu atas permintaan Arif kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta Khusus, Muhammad Haniv.

Selanjutnya, Haniv menghubugi penyidik di Ditjen Pajak Handang Soekarno untuk mengatur pertemuan.

Meski demikian, Ken mengatakan, dalam pertemuan itu Arif tidak sedikit pun membicarakan persoalan pajak PT Eka Prima Ekspor Indonesia. Menurut Ken, Arif hanya bertanya seputar mekanisme pengajuan pengampunan pajak (tax amnesty).

"Dia (Arif) punya banyak perusahaan di Jateng, dia tanya bisa tidak mengajukan di Jakarta. Jadi semua hanya bertanya soal tax amnesty," kata Ken.

Menurut Ken, Arif tidak pernah sekali pun membicarakan persoalan pajak PT Eka Prima kepadanya.

(Baca: Dirjen Pajak Akui Ada Pertemuan dengan Adik Ipar Jokowi)

Namun, keterangan Ken berbeda dengan yang disampaikan oleh Rudi Priambodo, yang bersama-sama dengan Arif bertemu Ken di Lantai 5 Gedung Ditjen Pajak.

Keterangan itu disampaikan Rudi saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, namun dalam sesi yang berbeda dengan Ken.

Dalam persidangan, jaksa KPK memutarkan rekaman pembicaraan antara Rudi dan Country Director PT Eka Prima Ekspor Indonesia R Rajamohanan Nair.

Dalam percakapan melalui telepon, Rudi menyampaikan kepada Mohan bahwa Arif telah membicarakan masalah pajak PT Eka Prima Ekspor Indonesia kepada Dirjen Pajak.

"Pak Arif cerita pada saya bahwa sudah disampaikan ke Pak Ken. Saya tidak tahu caranya bagaimana, tapi pernah, Pak Arif sudah ngomong kepada Dirjen terkait ini," kata Rudi.

(Baca juga: Penyelesaian Kasus Pajak PT EKP Disebut Titipan Adik Ipar Jokowi)

Dalam surat dakwaan, Arif diminta bantuan oleh Rajamohanan Nair untuk menyelesaikan persoalan pajak yang dihadapi PT EKP di tingkat Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Enam.

Arif diduga kenal dan berhubungan baik dengan Kepala Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus Muhammad Haniv. Dalam persoalan pajak PT EKP, ia juga disebut pernah mengadakan pertemuan dengan Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi.

Tak lama setelah pertemuan Arif dan Dirjen Pajak, Kepala KPP PMA Enam Johnny Sirait membatalkan surat Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP) PT EKP.

Selain itu, Kepala Kanwil DJP Jakarta Khusus M Haniv atas nama Dirjen Pajak mengeluarkan keputusan pembatalan tagihan pajak terhadap PT EKP.

Dengan demikian, tunggakan pajak PT EKP sebesar Rp 52,3 miliar untuk masa pajak Desember 2014, dan Rp 26,4 miliar untuk masa pajak Desember 2015, menjadi nihil.

Kompas TV Komisi Pemberantasan Korupsi menegaskan, adik ipar Presiden Joko Widodo, masih bertatus sebagai saksi, dalam perkara suap direktorat jenderal pajak. Penegasan status Arif Budi Sulistyo, adik ipar Presiden Joko Widodo itu, disampaikan wakil ketua KPK Saut Situmorang, seusai menjadi pembicara dalam sebuah seminar nasional di Solo, Jawa tengah, Senin sore (6/3). Nama adik ipar Presiden Joko Widodo, muncul dalam surat dakwaan Ramapanicker Rajamohan Nair, Direktur PT EK Prima Ekspor Indonesia, yang didakwa menyuap pejabat Direktorat Jenderal Pajak, Handang Soekarno, sebesar Rp 1,9 miliar.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Abba Gabrillin
Editor : Bayu Galih
TAG: