Jumat, 24 Oktober 2014

News / Nasional

Marzuki: Audit Hambalang Jilid II Katanya Banyak Kejutan

Selasa, 30 Juli 2013 | 16:26 WIB
Kompas.com/SABRINA ASRIL Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie

JAKARTA, KOMPAS.com — Audit investigasi proyek Hambalang jilid II yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sudah hampir rampung. Pekan depan, pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dijanjikan menerima hasil audit yang fokus pada aliran dana Hambalang itu.

"Minggu depan, kami akan terima audit BPK Hambalang, sebelum Lebaran. Katanya banyak kejutan karena sudah ditunggu-tunggu," ujar Ketua DPR Marzuki Alie di Kompleks Parlemen, Selasa (30/7/2013), seusai menerima pimpinan Komisi Yudisial yang menyerahkan 12 nama calon hakim agung siang ini.

Marzuki tidak menyebutkan kejutan apa saja yang ada di dalam audit BPK itu. Ia hanya meminta para wartawan untuk menanyakan langsung kepada Ketua BPK untuk mendapatkan jadwal pasti penyerahan audit Hambalang kepada DPR.

"Bisa-bisa ada yang mati duduk kali," seloroh Marzuki soal hasil audit yang sudah ditunggu banyak pihak itu.

Seperti diberitakan, BPK telah menyerahkan audit Hambalang tahap I kepada DPR dan KPK. Dalam audit sampai 30 Oktober 2012, BPK menemukan adanya indikasi kerugian negara mencapai Rp 243,66 miliar. Dalam tahap II, audit difokuskan pada penyusunan anggaran untuk Hambalang antara DPR dan pemerintah, juga dimasukkan soal aliran dana.

Belum diketahui berapa total besaran kerugian negara dalam proyek Hambalang. Lamanya audit tahap dua ini membuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku terkendala dalam proses penahanan tersangka kasus Hambalang, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.

Ketua KPK Abraham Samad secara tidak langsung menyiratkan bahwa belum selesainya penghitungan keuangan negara oleh BPK inilah yang menjadi hambatan KPK untuk menahan Andi. Dia mengatakan, KPK akan melakukan langkah-langkah konkret, termasuk penahanan, setelah mendapatkan hasil penghitungan kerugian negara dari BPK. Penahanan tidak dapat dilakukan sebelum penghitungan kerugian negara selesai karena ada batas waktu masa penahanan.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Sabrina Asril
Editor : Caroline Damanik