Minggu, 21 Desember 2014

News / Nasional

Penyidik KPK: Pengacara Arahkan Saksi Bela Djoko Susilo

Selasa, 16 Juli 2013 | 21:18 WIB
KOMPAS/ALIF ICHWAN Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan (berbaju putih), di dampingi juru bicara KPK, Johan Budi SP, berdiskusi dengan media yang diselenggarakan KPK di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (26/3/2013). Diskusi yang disampaikan oleh Novel mengangkat tema "Peningkatan Kapasitas Media dalam Pemberantasan Korupsi" dan juga memaparkan proses penyelidikan hingga penuntutan yang dilakukan oleh KPK.

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyidik KPK Komisaris Polisi Novel Baswedan mengungkapkan adanya upaya tim pengacara Inspektur Jenderal Polisi Djoko Susilo mengarahkan keterangan saksi yang akan diperiksa dalam kasus dugaan korupsi dan pencucian uang proyek simulator ujian SIM. Menurut Novel, sebelum diperiksa di KPK, sejumlah saksi dipanggil pengacara Djoko untuk diarahkan sehingga keterangan mereka membela Djoko.

“Contoh saksi Wasis, pernah dipanggil, diminta menemui pengacara, diarahkan untuk bagaimana membela terdakwa. Saksi merasa ketakutan karena yang bersangkutan anggota Kepolisian, pangkat bintara, harus berhadapan dengan terdakwa yang berpangkat jenderal,” kata Novel saat bersaksi dalam sidang Djoko di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Novel diperiksa sebagai saksi verbalisan atau saksi yang melakukan pemeriksaan di tingkat penyidikan. Lebih jauh Novel mengungkapkan, saksi Wasis yang dikenal sebagai ajudan Djoko ini pernah menyampaikan ketakutannya itu kepada penyidik KPK. Dalam proses pemeriksaan pun, menurut Novel, saksi Wasis takut menyampaikan keterangan yang benar.

“Kami sebagai penyidik kemudian memberikan kelonggaran sehingga pemeriksaan tidak dilakukan sekaligus,” ujarnya.

Wasis merupakan salah satu saksi yang dianggap tahu soal kardus-kardus berisi uang yang diterima Djoko. Dia beberapa kali disebut memasukkan kardus-kardus berisi uang dari rekanan tersebut ke mobil Djoko. Selain itu, Wasis merupakan saksi yang dianggap tahu seputar empat kardus yang diduga mengalir ke anggota Dewan.

Saat diperiksa sebagai saksi dalam persidangan, Jumat (12/7/2013), Wasis mengaku pernah mengantarkan kardus ke Plaza Senayan, Jakarta. Ia mengantarkannya bersama dengan Ajun Komisaris Besar Teddy Rusmawan beberapa waktu lalu. Namun, kepada majelis hakim, Wasis mengaku tidak tahu apakah isi kardus tersebut merupakan uang atau bukan.

Wasis juga mengaku tidak tahu kepada siapa kardus itu diberikan. Dia mengaku telah mengarang cerita soal kardus tersebut saat diperiksa dalam proses penyidikan di KPK.

Menurut Wasis, keterangannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP) KPK mengenai kardus yang diantarkan ke Plaza Senayan itu tidak benar. Wasis mengaku diarahkan penyidik KPK agar mengakui bahwa kardus yang diantarkannya ke Plaza Senyan tersebut berisi uang.

Saat dikonfirmasi dalam persidangan hari ini, penyidik yang memeriksa Wasis, Sudiyanto, membantah disebut mengarahkan keterangan saksi. Menurut Sudiyanto, proses pemeriksaan berlangsung tanpa tekanan. Bahkan Wasis yang baru pulang umrah itu sempat menceritakan pengalamannya di Tahan Suci kepada penyidik.

“Beliau sempat kultum (memberi kuliah) kepada penyidik dan dia menyampaikan akan mengatakan sebenarnya karena sudah umrah. Setelah selesai pemeriksaan, beliau baca, bahkan janji akan berikan keterangan bilamana ada yang tidak benar,” ujar Sudiyanto.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Icha Rastika
Editor : Ana Shofiana Syatiri