55 Persen Menteri dari Profesional Dinilai Mudahkan Kerja Jokowi

Kompas.com - 15/08/2019, 11:29 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan terkait kerusuhan pascapengumunan hasil pemilu 2019 di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Presiden mengatakan tidak akan memberi toleransi kepada pihak-pihak yg akan mengganggu keamanan, proses demokrasi dan persatuan negara serta tidak akan memberikan ruang untuk perusuh yg akan merusak Negara Kesatuan Repubik Indonesia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/hp. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho GumayPresiden Joko Widodo menyampaikan keterangan terkait kerusuhan pascapengumunan hasil pemilu 2019 di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Presiden mengatakan tidak akan memberi toleransi kepada pihak-pihak yg akan mengganggu keamanan, proses demokrasi dan persatuan negara serta tidak akan memberikan ruang untuk perusuh yg akan merusak Negara Kesatuan Repubik Indonesia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/hp.

JAKARTA, KOMPAS.com - Analis politik dan Direktur IndoStrategi Arif Nurul Imam menilai, susunan kabinet yang terdiri dari 55 persen kalangan profesional dan 45 persen partai politik merupakan komposisi yang realistis.

Menurut Arif, komposisi tersebut akan memudahkan Presiden Joko Widodo dalam mewujudkan visi misinya dalam lima tahun ke depan.

"Soal komposisi kabinet bahwa 55 persen profesional adalah para profesional dan 45 persen adalah orang parpol saya kira itu realistis," ujar Arif kepada Kompas.com, Kamis (15/8/2019).

Baca juga: Menteri asal Parpol 45 Persen, PPP Optimis Jatahnya Bertambah

"Jika ini benar tentu, ini menjadi kabinet harapan publik dan memudahkan Jokowi dalam mewujudkan visi misinya 5 tahun ke depan," tutur dia.

Arif berpendapat Presiden Jokowi ingin melakukan kombinasi antara politik akomodasi dan mirotokrasi berbasis kompetensi.

Namun, tidak menutup kemungkinan situasi tersebut justru menimbulkan kegelisahan terhadap parpol pendukung.

Baca juga: Wapres Jusuf Kalla Kunjungi Rumah Syafii Maarif, Bahas soal Menteri

Sebab komposisi kabinet dari kalangan profesional lebih besar dibandingkan dari kalangan parpol.

Seperti diketahui ada 6 parpol di DPR yang tergabung dalam koalisi pendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019, yakni PDI-P, Golkar, Nasdem, PKB, PPP dan Hanura.

"Presiden Jokowi melakukan kombinasi antara politik akomodasi dengan mirotokrasi berbasis kompetensi," kata Arif.

Baca juga: Tak Hanya Calon Menteri Jokowi, Ini 4 Menteri Dunia Berusia di Bawah 30 Tahun

"Situasi ini tentu menjadikan parpol gelisah karena praktis akan mengurangi jatah kursi menteri yang digantikan kaum profesional," ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa Kabinet Kerja pada periode mendatang akan diwarnai gabungan menteri dari profesional dan unsur partai politik.

Baca juga: Ngobrolin Menteri Kabinet Baru Jokowi di Istana Merdeka

Secara spesifik, Jokowi menyatakan bahwa komposisi menteri dari partai politik memiliki porsi yang sedikit lebih kecil ketimbang kalangan profesional.

"Partai politik bisa mengusulkan, tetapi keputusan tetap di saya. Komposisinya 45 persen," kata Jokowi saat bertemu pemimpin media massa di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Dengan demikian, perbandingan menteri dari kalangan profesional dengan unsur partai politik adalah 55 persen berbanding 45 persen.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X