Oposisi Saat Ini, di Sini

Kompas.com - 11/07/2019, 18:05 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.

Dari perspketif asas hukum, penyelesaian berbagai permasalahan dalam kegtatanegaan dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat.

Tidak ada oposisi pada tigkatan ini, yang menyebabkan adanya semacam argumentasi bahwa berbagai permasalahan yang ada yang kemudian timbul akibat dari kebijakan pemerintah yang memegang kekuasaan dilaksanakan berdasarkan prinsip kebersamaan. Tidak ada masalah yang kemudian diselesaikan bedasarkan konflik dengan segala dimensinya.

Pada tingkatan ini, pada pengambilan keputusan dimanifestasikan khususnya pada ranah legislatif, dengan mekanisme yang didasarkan pada musyawarah untuk mencapai mufakat dimaksud.

Dengan demikian, sebagai manifestasi dari opisisi, istilah partai penyeimbang memang senantiasa berseberangan dengan pemerintah. Artinya, lebih menitikberatkan pada pandangan atau perspektif yang berbeda dalam mencermati suatu masalah.

Sejauh mungkin konflik dikurangi sedemikian rupa sehingga tidak memunculkan permasalahan yang berkepanjangan pada tahap berikutnya.

Pada level filosofis, pemahaman terhadap oposisi adalah sebagai partai atau golongan yang mengkritik kebijakan pemerintah. Tidak dalam arti sebagai pihak yang berseberangan, namun sebagai kekuatan yang pada intinya mempunyai tujuan yang sama, menciptakan kesejahteraan rakyat menuju negara adil dan makmur.

Artinya, secara substansi tujuan besama ini direfleksikan dengan cara pandang berbeda. Hal ini menyebabkan adanya kekuatan yang kendatipun bermacam namanya, tetapi secara filosofi berada pada satu kekuatan bangsa untuk mencapai tujuan bersama.

Kekuatan bersama untuk mencapai tujuan bersama inilah yang kemudian dibingkai dalam satu filosofi kebersamaan dengan tajuk demokrasi Pancasila.

Fakta usai pilpres

Mencermati praktik ada atau tidaknya oposisi dari perspektif praktis, maka secara kasat mata menunjukkan bahwa sebagian partai yang tergabung dalam koalisi pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengindikasikan kuat merapat ke petahana, misalnya Partai Amanat Nasional dan Partai Demorat.

Adapun untuk Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra lebih condong memilih sisi seberangnya, atau dalam bahasa politik reguler disebut sebagai oposisi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X