Tanda-tanda Kemenangan Jokowi Sudah Terpola Sejak Pilkada 2018

Kompas.com - 20/05/2019, 19:40 WIB
Pasangan capres-cawapres Jokowi-Maruf Amin menemui para relawan dan pendukung di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2018). KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pasangan capres-cawapres Jokowi-Maruf Amin menemui para relawan dan pendukung di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies ( CSIS) Philips J Vermonte berpendapat proses Pemilihan Presiden 2019 saat ini merupakan rangkaian kegiatan pemilu sejak tahun 2014.

Khususnya terkait pilkada serentak yang berlangsung pada 2017 dan 2018. Philips menilai hasil pilkada tersebut seolah memberi pola dan tanda atas menangnya calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019.

Pada akhirnya, pola ini bisa dibaca untuk memprediksi siapa yang akan maju sebagai capres pada 2024.

"Pada pilkada serentak 2017 ada satu yang paling kontroversial yaitu Pilkada DKI. Tentang tumbangnya Ahok dan terpilihnya Anies," ujar Philips dalam diskusi di Menara Kompas, Jalan Palmerah Selatan, Senin (20/5/2019).

Baca juga: Kemenangan Jokowi karena Peran Parpol, Pemerintahan Baru Dinilai Mudah Diintervensi

Philips mengatakan setelah itu seolah-olah terjadi dikotomi ideologis seperti yang terjadi pada Pemilu 2019. Namun, Pilkada 2018 yang dilakukan serentak di 171 daerah jauh lebih menarik. Philips melihat ada kesamaan tipe pemimpin yang terpilih dalam Pilkada 2018.

"Pilkada di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan memperlihatkan hasilnya adalah the rise of urban leadership karena yang terpilih itu para teknokrat ," ujar Philips.

Menurut dia, baik Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah masuk dalam kategori teknokrat. Mereka merupakan tokoh yang berpengalaman dalam bidang pemerintahan.

Baca juga: Situng 91 Persen: Jokowi-Maruf Unggul 78 Juta Suara

"Jadi memang betul ada tren konsenrvatisme di 2017. Tetapi ada waktu-waktu di mana masyarakat memilih pemimpin yang bisa menyelesaikan problem urban," ujar Philips.

Jika trennya benar seperti ini, Philips mengatakan wajar jika pada Pilpres 2019 ini Jokowi terpilih kembali. Sebab, Jokowi termasuk teknokrat yang sudah berkiprah sejak menjabat sebagai wali kota di Solo.

Dengan kondisi itu, Philips mengatakan cukup beralasan jika menyebut tren pemimpin yang dipilih masyarakat adalah para teknokrat. Dia menilai tren ini bisa jadi masih diinginkan masyarakat pada Pilpres 2024 nanti.

"Dan saya tidak akan heran kalau 2024 nanti yang mencalonkan (dalam Pilpres) adalah gubernur-gubernur ini," ujar dia.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X