7 Fakta May Day, dari Vandalisme, Aksi Anarko, hingga Sindiran Prabowo

Kompas.com - 02/05/2019, 14:03 WIB
Buruh melakukan aksi peringatan Hari Buruh Internasional 2019 di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Rabu (1/5/2019). Dalam aksinya, buruh meminta pemerintah menghapus Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 tahun 2015 tentang pengupahan dan meminta melakukan perbaikan terhadap sistem BPJS Kesehatan. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGBuruh melakukan aksi peringatan Hari Buruh Internasional 2019 di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Rabu (1/5/2019). Dalam aksinya, buruh meminta pemerintah menghapus Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 tahun 2015 tentang pengupahan dan meminta melakukan perbaikan terhadap sistem BPJS Kesehatan.
Penulis Mela Arnani
|
Editor Bayu Galih

KOMPAS.com - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh pada Rabu (1/5/2019) lalu berlangsung di beberapa wilayah.

Peringatan May Day tersebut ditunjukkan dengan aksi buruh menyuarakan aspirasi dan harapan-harapannya.

Walaupun di beberapa daerah aksi tersebut berjalan damai, namun muncul pula beragam kontroversi dan permasalahan. Masalah itu seperti vandalisme, kericuhan kecil, hingga merusak berbagai fasilitas umum.

Berikut tujuh fakta seputar peringatan Hari Buruh Internasional di Indonesia:

1. Pagar rusak

Terdapat sedikit kericuhan dalam aksi buruh di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat yang berlokasi tak jauh dari Bundaran Hotel Indonesia.

Massa aksi peringatan May Day tersebut berusaha mendobrak blokade pihak kepolisian. Hal ini mengakibatkan adanya aksi saling dorong dan pelemparan.

Kericuhan tersebut membuat pagar besi di pelican crossing Tosari roboh sebab tak kuat menahan beban massa yang melakukan pendorongan.

Baca juga: Demo Hari Buruh di Bundaran HI Ricuh, Pagar Pelican Crossing Rusak

2. Vandalisme

Aksi corat-coret separator Transjakarta di depan Gedung Kementerian Pariwisata, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat dilakukan oleh peserta peringatan hari buruh.

Kalimat "Rakyat Anti Kapitalis May Day. Rezim Fasis" berwarna hitam terlihat menodai separator berwarna abu-abu.

Kalimat tersebut dituliskan ketika kelompok Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) tengah berorasi di depan Gedung Kementerian Pariwisata, karena tak boleh masuk ke kawasan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara.

Tak ada aparat keamanan melakukan pencegahan adanya aksi vandalisme tersebut. Sebagian besar aparat keamanan berada di balik barikade dibatasi pagar kawat besi.

PT Transjakarta akan melaporakan tindakan vandalisme di hari butuh itu pihak berwajib.

Tak hanya aksi corat-coret, pihak Transjakarta juga melaporkan kejadian ambruknya pagar pembatas jalan di Halte Tosari.

Baca juga: Vandalisme, Peserta Aksi Hari Buruh Corat-coret Separator Transjakarta

Di Kota Malang, Jawa Timur juga terjadi aksi vandalisme dari sekelompok massa berbaju hitam. Aksi corat-coret ini dilakukan di pagar Jembatan Kahuripan Kota Malang.

Bahkan, aksi tersebut terekam video dan menyebar ke masyarakat melalui media sosial. Sebagian pelaku menutup wajah mereka menggunakan kain berwarna hitam.

Salah satu kalimat "Menolak Upah Murah" tertulis di pagar jembatan itu.

Massa membawa bendera warna hitam dengan lambang A dalam lingkaran, di mana lambang tersebut biasa diartikan sebagai lambang Anarkis.

Tak hanya itu, bendera berwarna merah hitam, bendera dari Anarko Sindikalisme juga dibawa massa tersebut.

Baca juga: Kelompok Baju Hitam Beraksi di Malang saat May Day, Rusak Jembatan Cagar Budaya

3. Aksi melakban mulut jurnalis

Aksi peringatan hari buruh juga dilakukan oleh dua jurnalis di Kediri, Jawa Timur. Keduanya melakban mulut dan membentangkan poster berisi curhatan kesejahteraan profesi jurnalis.

Mereka juga melakukan aksi keliling kota menggunakan motor Vespa yang telah dihias.

Saat berada di tempat strategis, seperti mall, taman makan pahlawan, dan kantor polisi mereka berhenti dan melakukan aksi pembentangan poster.

Tulisan dalam poster tersebut antara lain "gaji kecil nggak bisa ngemall" dan "Kerja 24 jam, Nggak ada duit lembur".

Baca juga: Peringati Hari Buruh, Jurnalis di Kediri Lakban Mulut hingga Ziarah Makam Marsinah

4. Tindak kekerasan oknum polisi

Noda hitam peringatan May Day di Bandung dikarenakan tindak kekerasan dan intimidasi oknum polisi kepada dua jurnalis foto yang tengah bertugas saat itu.

Dikabarkan, fotograter Tempo Prima Mulia dan jurnalis freelance Iqbal Kusumadireza berkeliling di kawasan Gedung Sate pukul 11.30 WIB guna memantau kondisi pergerakan buruh.

Di kawasan Jalan Singaperbangsa dan Dipatiukur, kedua jurnalis tersebut melihat adanya keributan antara polisi dan massa berbaju hitam.

Menurut Prima dan Reza, massa baju hitam itu dipukuli oleh polisi. Sontak, keduanya mengambil gambar ke arah kejadian.

Setelah pindah ke lokasi lain, Reza dihampiri oleh seorang polisi. Menurut dia, polisi itu dari satuan Tim Prabu Polrestabes Bandung.

Sempat dibentak dan ditanyai statusnya, Reza menunjukkan identitas pers miliknya.

Sambil menginjak lutut dan tulang kering kaki kanan Reza, oknum polisi itu mengambil kamera yang dipegang jurnalis freelance tersebut. Polisi tersebut menghapus beberapa gambar yang ada di kamera Reza.

Sedangkan, Prima didatangi tiga polisi berseragam preman dan diancam untuk menghapus foto-fotonya.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Irman Sugema menyampaikan, peristiwa tersebut terjadi karena kesalahpahaman. 

Menurut Irman, kedua jurnalis itu tak memperlihatkan identitasnya sebagai jurnalis.

Baca juga: May Day di Bandung, Dua Fotografer Dapat Tindak Kekerasan Oknum Polisi

5. Pemkab Karawang bagi-bagi hadiah

Tak hanya aksi kekerasan, peringatan hari buruh di Kabupaten Karawang diwarnai rasa bahagia.

Hal itu disebabkan Pemerintah Kabupaten Karawang membagikan puluhan hadiah bagi para buruh, baik peralatan elektronik, sepeda, dan sepeda motor.

Aksi sosial donor darah juga digelar bersama masyarakat.

Baca juga: Peringati May Day, Pemkab Karawang Guyur Hadiah untuk Para Buruh

6. Potong Tumpeng

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Zulkarnain Adinegara melakukan pemotongan tumpeng bersama para buruh yang hadir di Gedung Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Selatan, Jalan Kapten Rivai, Palembang.

Para buruh menuntut perwakilan anggota DPRD untuk melakukan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, serta menolak sistem kerja outsouching.

Baca juga: Peringati May Day, Kapolda Sumsel Potong Tumpeng Bareng Buruh

7. Sindiran Prabowo

Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, memberikan tiga pantun ketika memberi sambutan dalam acara peringatan Hari Buruh Internasioanl di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat.

Pertama, Prabowo memberikan pantun tentang kemenangannya bersama Sandiaga Uno dalam kontestasi Pemilu 2019.

"Di sini gunung di sana gunung, di tengah-tengah Pulau Bali. Saudara-saudara, jangan pernah bingung, yang pasti menang Prabowo-Sandi," ujar Prabowo.

Prabowo sempat berjoget seperti ketika debat Pilpres beberapa waktu lalu.

Kedua, Prabowo menyampaikan pantun tentang kubu yang membela kebenaran akan memperoleh kemenangan.

"Satu dua cempaka biru, tiga empat alam jambangan. Percayalah yang bela kebenaran, dia yang akan dapat kemenangan," kata Ketua Umum Partai Gerindra.

Kemudian, pantun sindiran pihak-pihak yang melakukan kecurangan juga dikeluarkan oleh Prabowo.

"Rawe-rawe lantas, Malang-malang putung. Mereka yang curang, akhlaknya seperti lutung," tutur dia.

Baca juga: Joget dan Pantun Prabowo di Peringatan Hari Buruh...

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Untuk Vaksinasi Gotong-royong, Bio Farma Jajaki Sinopharm dan Moderna

Untuk Vaksinasi Gotong-royong, Bio Farma Jajaki Sinopharm dan Moderna

Nasional
Kementerian BUMN Sebut Vaksinasi Gotong Royong Tidak Bentrok dengan Vaksinasi oleh Pemerintah

Kementerian BUMN Sebut Vaksinasi Gotong Royong Tidak Bentrok dengan Vaksinasi oleh Pemerintah

Nasional
Pengamat: Nasdem Gelar Konvensi untuk Cari Capres Alternatif, Bisa Anies atau Ridwan Kamil

Pengamat: Nasdem Gelar Konvensi untuk Cari Capres Alternatif, Bisa Anies atau Ridwan Kamil

Nasional
Wapres Akui Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Tahap Pertama Lamban

Wapres Akui Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Tahap Pertama Lamban

Nasional
Resmi Dilantik, Bupati IDP Bertekat Wujudkan Visi Luwu Utara

Resmi Dilantik, Bupati IDP Bertekat Wujudkan Visi Luwu Utara

Nasional
Beri Dukungan ke Anggota Keluarga yang Terpapar Covid-19, Satgas Sarankan 4 Hal Ini

Beri Dukungan ke Anggota Keluarga yang Terpapar Covid-19, Satgas Sarankan 4 Hal Ini

Nasional
Tahanan KPK Bukan Prioritas, Pimpinan DPR Minta Kemenkes Mengevaluasi

Tahanan KPK Bukan Prioritas, Pimpinan DPR Minta Kemenkes Mengevaluasi

Nasional
Biaya Vaksinasi Gotong Royong untuk Buruh dan Karyawan Swasta Ditanggung Perusahaan

Biaya Vaksinasi Gotong Royong untuk Buruh dan Karyawan Swasta Ditanggung Perusahaan

Nasional
Vaksinasi Gotong Royong Tak Pakai Sinovac, AstraZeneca, Novavax, dan Pfizer

Vaksinasi Gotong Royong Tak Pakai Sinovac, AstraZeneca, Novavax, dan Pfizer

Nasional
Kemenkes: Vaksinasi Gotong Royong untuk Percepat Kekebalan Komunitas

Kemenkes: Vaksinasi Gotong Royong untuk Percepat Kekebalan Komunitas

Nasional
Kemenkes: Vaksinasi Gotong Royong Gratis untuk Karyawan dan Keluarga

Kemenkes: Vaksinasi Gotong Royong Gratis untuk Karyawan dan Keluarga

Nasional
UPDATE 26 Februari: Sebaran 8.232 Kasus Baru Covid-19 di 34 Provinsi, Jabar Tertinggi

UPDATE 26 Februari: Sebaran 8.232 Kasus Baru Covid-19 di 34 Provinsi, Jabar Tertinggi

Nasional
Jokowi Sebut Transformasi Digital Pintu Masuk UMKM ke 'Marketplace'

Jokowi Sebut Transformasi Digital Pintu Masuk UMKM ke "Marketplace"

Nasional
UPDATE: 1.583.581 Nakes Sudah Divaksinasi, 865.870 di Antaranya Telah Disuntik Dosis Kedua

UPDATE: 1.583.581 Nakes Sudah Divaksinasi, 865.870 di Antaranya Telah Disuntik Dosis Kedua

Nasional
Sekjen DPR Sebut Vaksinasi di DPR Berlakukan Protokol Ketat, Bukan Tertutup

Sekjen DPR Sebut Vaksinasi di DPR Berlakukan Protokol Ketat, Bukan Tertutup

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X